MENGENDALIKAN HAMA ULAT BAWANG

Biopestisida
Menangkap Kupu2 ulat bawang, untuk mengendalikan hama ulat grayak pada tanaman bawang merah

Ulat bawang (Spodoptera exigua) sudah menyerang tanaman bawang merah sejak umur 1 minggu setelah tanam. Petani bawang merah biasanya mengendalikan hama tersebut dengan insektisida kimia atau perangkap lampu (light trap). Pengendalian dengan cara tersebut diatas dianggap kurang efisien karena memerlukan tenaga dan biaya yang cukup besar. Harga pestisida kimia cenderung meningkat terus disamping itu juga menimbulkan efek samping baik terhadap manusia, hewan dan pencemaran lingkungan. Penggunaan light trap, selain biayanya mahal juga dapat membahayakan manusia jika pemasangannya tidak rapi dan hati-hati.Salah satu teknologi pengendalian hama ulat bawang yang efisien, efektif dan ramah lingkungan adalah dengan penggunaan bio-festisida “Feromon-Exi”. Supaya hasil tangkapan kupu-kupunya optimal,  pemasangan feromon pada areal pertanaman bawang dilaksanakan paling lambat 1 minggu sebelum bibit ditanam.

Pengujian penggunaan feromon pada beberapa lokasi di Jawa Barat (kab. Cirebon & Majalengka) menunjukkan hasil yang positif. Satu minggu setelah pemasangan perangkap berferomon exi, tangkapan serangga (ngengat) jantan dari hama ulat bawang rata-rata diatas 150 ekor atau maksimum 350 – 450 ekor. Biaya pengendalian dengan feromon-exi relatif murah, yaitu Rp 35.000,- per buah atau Rp 350.000,- per 2 dus (isi 10 buah) tanpa toples.Untuk luas pertanaman bawang 1 ha cukup dipasang 20-25 unit feromon atau Rp 700.000 – 900.000,- saja dan bisa bertahan sampai akhir panen. TENTANG ULAT GRAYAK (Spodoptera Litura F)

Penggunaan feromon-exi sangat disarankan dan bahannya mudah diperoleh. Feromon exi sudah bisa diperoleh dan dipesan melalui email ke arsasaputra72@gmail.com, atau hub. 08122128596, pesanan akan dikirim via TIKI. Pesanan diatas 2 dus dalam satu pengiriman diberikan korting harga sampai 10% (diluar biaya pengiriman). Pembayaran ditransfer melalui Bank BNI. (Admin)

HAMA LALAT BUAH

Lalat buah, atau bahasa latinnya Bactrocera sp, merupakan salah satu hama yang sangat ganas menyerang tanaman hortikultura, kehadirannya sering menimbulkan kerugian besar bagi para petani, khususnya petani buah dan sayuran. Jika sudah terserang, buah-buah yang lebat dan siap dipetik akan membusuk dan gugur dalam sekejap. Hal ini sangat merugikan bagi para petani karena hasil panen akan menurun drastis. Lalat buah termasuk hama yang paling ditakuti oleh para petani setelah penyakit antraknosa (patek).

Di alam ada banyak spesies lalat buah. Beberapa spesies memiliki efek negatif, beberapa yang lainnya positif. Salah satu spesies yang dikenal sangat merusak buah adalah Bactrocera sp. Lalat buah betina menyuntikkan telurnya ke dalam daging buah. Ini akan menyebabkan buah menjadi busuk dan rontok sebelum dapat dipetik. Siklus hidup lalat buah sekitar 20- 28 hari, dan selama hidupnya kawin dan bertelur dapat menghasilkan 1200 butir. Kehidupan dan perkembangan lalat buah dipengaruhi oleh banyak faktor, di antaranya suhu, kelembaban dan ketersediaan inang. Ketiga faktor tersebut cukup terpenuhi di wilayah tropis seperti Indonesia sehingga sangat mendukung perkembangan populasi lalat buah. Di daerah tropis lalat buah hanya mendapat gangguan iklim yang lebih kecil dibandingkan di wilayah lain, misalnya daerah sedang dan dingin. Selain itu, ketersediaan makanan di wilayah tropis lebih besar oleh karena itu serangga termasuk lalat buah selalu mendapat pakan yang cukup. Pada musim hujan, populasi lalat buah bisa mencapai puncaknya.

Secara fisik, lalat buah dewasa berukuran sekitar 1-6 mm, berkepala besar, berleher sangat kecil. Warnanya bervariasi mulai dari kuning cerah, orange, hitam, coklat, atau kombinasinya. Disebut tephritidae (berarti bor) karena terdapat ovipositor pada lalat betina yang berfungsi untuk memasukkan telur ke dalam buah.

Tanaman Inang

Sasaran utama dari lalat buah adalah cabai, tomat, pare, mentimun, terong, melon, semangka, nangka, jeruk, apel, belimbing, mangga, lengkeng, pepaya, pisang, jambu air, jambu biji, dan banyak lagi.

Siklus Hidup

Lalat buah mempunyai empat stadium yaitu telur, larva, pupa dan imago (serangga dewasa). Telur berwarna putih, berbentuk bulat panjang, diletakkan berkelompok 2 – 15 butir dan dalam waktu ± 2 hari. Telur yang diletakkan di dalam buah akan menetas menjadi 1arva. Seekor lalat betina mampu menghasilkan telur 1200 – 1500 butir. Larva berwarna putih keruh atau putih kekuning-kuningan, berbentuk bulat panjang dengan salah satu ujungnya runcing. Larva terdiri atas tiga instar, dengan lama stadium larva 6 – 9 hari. Larva setelah berkembang maksimum akan membuat lubang keluar untuk meloncat dan melenting dari buah dan masuk ke dalam tanah untuk menjadi pupa. Pupa berwarna coklat, dengan bentuk oval, panjang ± 5 mm dan lama stadium pupa 4 – 10 hari. Imago rata-rata berukuran panjang ± 7 mm, lebar ± 3 mm dengan warna toraks dan abdomen antar spesies lalat buah bervariasi misalnya oranye, merah kecoklatan, coklat, atau hitam. Demikian pula sayapnya transparan dengan bercak-bercak pita (band) yang bervariasi merupakan ciri masing-masing spesies lalat buah. Pada lalat betina ujung abdomennya lebih runcing dan mempunyai alat peletak telur, sedangkan abdomen lalat jantan lebih bulat. Secara keseluruhan daur hidup lalat buah berkisar ± 25 hari.

Gejala Serangan

Lalat buah menusukkan alat peletak telurnya (ovipositor) ke dalam buah. Tujuannya untuk meletakkan telur-telur mereka di dalam buah yang selanjutnya telur-telur tersebut akan menetas menjadi larva dan berkembang. Oleh karena itu, gejala awal yang ditunjukkan serangan lalat buah adalah adanya noda/titik bekas tusukan pada permukaan kulit buah. Selanjutnya telur-telur akan menetas di dalam buah dan menjadi larva. Gangguan yang dilakukan oleh larva-larva inilah yang akan menimbulkan noda-noda di kulit buah dan berkembang menjadi bercak coklat di sekitarnya. Saat buah yang terserang kita belah, akan telihat belatung atau larva lalat buah. Larva akan merusak daging buah sehingga buah menjadi busuk dan gugur sebelum tua/masak. Buah yang gugur ini akan menjadi biang serangan generasi berikutnya jika tidak kita musnahkan dengan segera.

Pengendalian

Sejauh ini, lalat buah termasuk hama yang masih bisa dikendalikan. Beberapa teknik pengendalian baik secara tradisioanal maupun modern telah banyak diaplikasikan walaupun hasilnya belum optimal. Usaha-usaha pengendalian tetap diupayakan agar dampak dari serangan tidak terlalu merugikan. Beberapa cara pengendalian hama lalat buah yang bisa dilakuka di antaranya:

Hal pertama adalah melalui penetapan peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah, yakni peraturan karantina antar area/wilayah/negara untuk tidak memasukkan buah yang terserang dari daerah endemis. Sebagai contoh, pemerintah melarang impor buah-buahan dan sayuran dari negara di mana merupakan daerah endemis lalat buah.

Secara Kultur Teknis

• Pemeliharaan Tanah : Memelihara tanaman dengan baik di antaranya melakukan mengolah dan merawat tanah secara berkala. Pencacahan tanah di bawah tajuk pohon dan membuang sisa-sisa tanaman (ranting dan buah yang jatuh) dapat mngurangi pupa lalat buah yang terdapat di permukaan/dalam tanah.
• Sanitasi yang Baik : Kebersihan kebun menentukan tingkat serangan lalat buah. Tujuan dari sanitasi (membersihkan) kebun adalah memutus siklus perkembangan lalat buah. Lantai kebun harus terbebas dari buah-buah yang terserang lalat buah yang jatuh atau yang masih di pohon. Buah yang berisi telur dan larva lalat buah dikumpulkan kemudian dimusnahkan dengan dibakar atau dibenamkan ke dalam tanah. Buah-buah yang gugur di bawah pohon berpeluang dijadikan tempat bertelur lalat buah. Semak-semak dan gulma juga dapat digunakan lalat buah sebagai inang alternatif ketika tidak musim buah. Sanitasi kebun akan efektif jika dilakukan oleh seluruh petani secara serempak.
• Pembungkusan Buah : Pembungkusan buah saat masih muda dapat membantu menangkal serangan hama lalat buah. Petani bisa menggunakan kertas, kertas karbon, plastik hitam, daun pisang, daun jati, atau kain untuk membungkus buah yang tidak terlalu besar seperti belimbing dan jambu. Untuk buah yang berukuran besar, seperti nangka, petani biasa menggunakan anyaman daun kelapa, karung plastik, atau kertas semen. Setiap jenis pembungkus tentu memiliki kelebihan dan kekurangan. Kapan buah harus dibungkus bergantung dari jenis buahnya. Misalnya, buah belimbing harus sedini mungkin dibungkus. Buah mangga dibungkus sebelum buah memasuki stadium pemasakan. Lalat buah tertarik pada warna kuning dan aroma buah yang masak atau aroma amonia yang dikeluarkan oleh beberapa jenis bunga dan buah, jadi membungkus buah sedini mungkin bisa efektif mengurangi serangan lalat buah. Upaya membungkus buah untuk menghindari serangan lalat buah akan semakin efektif jika dibarengi dengan pengasapan (dijelaskan di bawah).
Di antara keuntungan menggunakan pembungkus untuk menghindari serangan lalat buah adalah buah tetap mulus dan tidak terkontaminasi pestisida. Sayangnya pembungkusan buah kurang praktis jika kebun buah sangat luas dan pohon buah tinggi. Cukup praktis dan efisien jika di lokasi kebun tersedia tenaga kerja yang cukup dan murah. Metode pembukusan juga menjadi hal yang sulit diterapkan pada tanaman buah hortikultura dan sayuran seperti tomat dan cabai. Kesulitan terutama karena terlalu banyak bungkus plastik dan tenaga kerja yang diperlukan untuk membungkus. Jadi, petani mungkin harus mencari solusi lain daripada solusi pembungkusan.

Pengendalian Secara Mekanis

• Pengasapan: Pengasapan di sekitar pohon dengan membakar serasah/jerami sampai menjadi bara yang cukup besar bisa pula mengusir lalat. Pengasapan dilakukan 3 – 4 hari sekali dimulai pada saat pembentukan buah dan diakhiri 1 –2 minggu sebelum panen. Tujuan pengasapan adalah mengusir lalat buah dari kebun. Pengasapan dilakukan dengan membakar serasah atau jerami sampai menjadi bara yang cukup besar. Kemudian bara dimatikan dan di atas bara ditaruh dahan kayu yang masih lembab. Pengasapan di sekitar pohon dapat mengusi lalat buah dan efektif selama tiga hari. Pengasapan selama 13 jam bisa membunuh lalat buah yang tidak sempat menghindar. Cara ini hanya efisien jika diterapkan di pohon-pohon milik perseorangan yang jumlahnya terbatas atau tidak terlampau banyak. Kelemahan lain pada pengendalian pengasapan adalah sulitnya diterapkan pada komoditas sayuran.
• Penggunaan Tanaman Perangkap : Penelitian mengenai preferensi lalat buah terhadap tanaman buah dan sayuran, ternyata yang paling disukai oleh lalat buah berturut-turut sebagai berikut: jambu air, belimbing, mangga dan jambu biji. Tanaman yang lebih rendah dapat digunakan sebagai tanaman perangkap, misalnya bila mengutamakan budidaya tanaman mangga maka disekeliling kebun mangga dapat ditanami jambu air atau belimbing.
Tanaman aromatik atau tanaman yang mampu mengeluarkan aroma, bisa juga digunakan untuk mengendalikan lalat buah. Di antaranya jenis selasih/kemangi (Ocimum) yaitu O.minimum, O.tenuiflorum, O.sanctum dan lainnya. Selain tanaman selasih ada juga tanaman kayu putih (Melaleuca bracteata) dan tanaman yang bersifat sinergis (meningkatkan efektifitas atraktan), seperti pala (Myristica fragans). Semua tanaman ini mengandung bahan aktif yang disukai lalat buah, yaitu Methyl eugenol, dengan kadar yang berbeda. Dengan menanam salah satu tanaman tersebut disekitar lahan, maka diharapkan dapat mengurangi serangan lalat buah secara signifikan. Minyak kayu putih dan minyak selasih berpeluang menjadi atraktan karena mengandung metil eugenol yang cukup tinggi. Sesuai dengan fungsinya sebagai atraktan, minyak tersebut hanya bersifat menarik lalat buah tetapi tidak membunuhnya. Jadi tujuan sebenarnya hanya untuk mengalihkan perhatian lalat buah dari tanaman budidaya utama. Oleh karena itu, penggunaan minyak tersebut akan lebih optimal bila dilengkapi dengan alat yang dapat menjebak atau menangkap lalat buah.

Pemanfaatan Musuh Alami dan Agens Hayati

Selanjutnya kita juga bisa memanfaatkan musuh alami (natural enemy) untuk menekan populasi lalat buah, baik berupa prasitoid maupun predator. Yang termasuk parasitoid untuk lalat buah di antaranya Biosteres sp dan Opius sp, dari famili Braconidae. Adapun predator yang bisa memangsa lalat buah antara lain semut/lebah (Hymenoptera), laba-laba (Arachnida), kumbang tanah carabid dan staphylinid (Coleoptera), cocopet (Dermaptera), sayap jala chrysopid (ordo Neuroptera) dan kepik penratomid (Hemiptera).

Secara Biologi

Pengendalian lalat buah secara biologi bisa dilakukan dengan cara menghasilkan lalat buah jantan yang mandul. Teknik ini memang masih dalam penelitian oleh para ilmuwan, tetapi dianggap kurang praktis karena untuk membuat lalat jantan mandul diperlukan alat dan teknologi khusus. Untuk menghasilkan serangga jantan mandul biasanya diperlukan sejumlah jenis lalat buah jantan yang disinari dengan sinar gamma (biasanya cobalt 60 atau phosphor 132). Secara teori, cara ini memang cukup ampuh karena populasi lalat di alam secara perlahan-lahan dapat ditekan. Dengan melepaskan lalat jantan yang sudah dibuat mandul, telur yang dihasilkan dari perkawinan dengan lalat betina menjadi steril alias tidak bisa menghasilkan keturunan. Jika sudah mencapai umur maksimal (1-2 bulan), lalat betina akan mati dengan sendirinya, begitu pula dengan lalat jantan mandul yang dilepas.

Meskipun demikian, masih perlu diperhitungkan populasi lalat jantan fertil yang berada di alam sehingga lalat jantan mandul dapat berkompetisi untuk memperoleh betina. Menurut beberapa penelitian, gerakan lalat jantan yang telah dimandulkan menjadi lebih lamban dibandingkan dengan lalat jantan yang ada di alam sehingga sering kalah bersaing dalam memperebutkan lalat betina. Sekali lalat betina dikawini oleh lalat jantan, sperma yang diperoleh akan disimpan di dalam spermateka atau kantung sperma, selanjutnya lalat betina tidak memerlukan sperma lagi. Karena itu, jika lalat jantan mandul yang dilepas berhasil mengawini lalat betina terlebih dahulu, hasil yang diharapkan akan tercapai. Namun, kenyataan yang terjadi di lapangan, lalat jantan mandul lebih banyak kalah bersaing dengan lalat jantan fertil untuk menjadi pejantan pertama yang dapat mengawini lalat betina.

Aplikasi Umpan Protein

Metode lainnya untuk mengendalikan lalat buah adalah penerapan umpan protein, yang mana dapat menarik lalat buah baik jantan maupun betina. Metode ini aman bagi manusia, namun mungkin diperlukan pengetahuan tentang bahan-bahan yang harus digunakan. Aplikasi umpan protein dapat dilakukan dengan cara memasang tabung/botol umpan protein. 1 liter umpan protein dicampur dengan 9 liter air kemudian ditambah 100 gram sodium benzoate ditambah dengan ME atau Cue lure (bergantung jenis tanamannya) dan 16 ml fipronil atau 10 ml luvinuron. Bahan-bahan umpan protein ini bisa dibeli di toko-toko bahan kimia atau toko obat pertanian skala menengah-besar. Setiap 2 minggu sekali tabung diisi ulang dengan 250 ml campuran tersebut. Untuk hamparan tanaman yang luas cukup dipasang 4 buah tabung umpan protein per hektarnya.

Penggunaan Perangkap Atraktan

Salah satu cara yang dianggap paling efektif, mudah dan ramah lingkungan untuk mengendalikan lalat buah adalah penggunaan perangkap atraktan (pemikat) lalat buah. Cara ini dianggap aman karena tidak meninggalkan residu pada komoditas yang ditanam. Bahan pemikat ini biasanya ditempatkan di dalam perangkap berupa botol plastik atau tabung silinder sehingga lalat buah akan masuk dan terperangkap di dalam.
Atraktan dapat digunakan untuk tiga fungsi utama, yakni:
1. mendeteksi atau memonitor populasi lalat buah di sekitar lahan budidaya;
2. menarik lalat buah kemudian membunuhnya dengan menggunakan perangkap;
3. mengacaukan perilaku kawin, berkumpul, dan perilaku makan lalat buah.
Mekanisme kerja perangkap adalah memancing lalat buah masuk ke dalam perangkap dengan menggunakan bahan kimia sintetis yang ditempatkan di dalam botol perangkap. Di dasar botol perangkap bisa diisi air sehingga sayap lalat buah akan lengket jika menyentuh air tersebut dan akhirnya lalat buah akan mati tenggelam. Perangkap dipasang pada tiang atau ranting pohon setinggi 2-3 meter dari permukaan tanah. Untuk area lahan 1 hektar, dibutuhkan kurang lebih 16 buah perangkap. Dipasangkan terus menerus selama tanaman berbuah dan zat pemikat harus diisi ulang jika menunjukkan tidak lagi berfungsi. Salah satu produk perangkap lalat buah yang cukup efektif dan mudah didapatkan di pasaran adalah Mengendalikan hama lalat buah.

Secara Kimiawi

Pengendalian lalat buah dengan insektisida berbahan aktif spinosad bisa membunuh lalat buah. Pestisida sebagai umpan dengan bahan aktif spinosad sangat digemari lalat buah baik jantan maupun betina. Namun sayangnya penyemprotan dengan insektisida sering menyebabkan pemborosan karena banyak yang tidak tepat sasaran, mengingat sifat lalat buah yang selalu bergerak. Penggunaan insektisida juga bisa menyebabkan pencemaran lingkungan dan meninggalkan residu yang berbahaya bagi manusia. Cara lain pengendalian lalat buah secara kimia, yakni menggunakan protein baik (pencampuran protein hidrolisat yang merupakan makanan lalat buah dengan insektisida). Namun, cara ini belum populer dilakukan khususnya di Indonesia. Selain itu, daya jangkau efektivitasnya tidak terlampau luas. Keunggulan penggunaan protein baik adalah daya bunuhnya yang tinggi. Jika lalat buah mengonsumsinya, kemungkinan besar akan langsung mati sehingga tidak memerlukan perangkap lagi.

Penggunaan insektisida juga dapat merugikan perdagangan nasional karena produk pertanian yang diekspor bisa ditolak oleh negara tujuan. Oleh karena itu, cara pengendalian hama lalat buah yang efektif, efisien, dan ramah lingkungan sangat dianjurkan.

PETRO TRAP PENGENDALI HAMA LALAT BUAH

Petro Trap merupakan perangkap lalat buah dengan menggunakan feromon “Metil Eugenol”, seperti Petrogenol.

Petro Trap dapat diaplikasikan pada tanaman Jeruk, Jambu air, Jambu Batu, Nangka, Mangga, Cabai, Alpukat, Tomat dan lain-lain.

Perangkap ini telah didesain untuk mampu memerangkap lebih banyak dibandingkan perangkap lainnya. Perangkap ini dilengkapi corong berwarna kuning yang mampu menarik serangga untuk datang, serta mencegah serangga keluar dari perangkap. Selain itu keberadaan yellow sticky trap di dalam botol juga dapat mencegah lalat keluar.

Keunggulan Petro Trap lainnya adalah mampu bertahan lama di lapangan, hingga 2-3 bulan. Oleh karena itu, Petro Trap menjadi salah satu pengendalian lalat buah yang efektif, efisien dan mampu menekan biaya produksi.

Penggunaan perangkap sangat mudah, hanya dengan memasangkan metil eugenol di dalam botol, lalu digantungkan pada batang tanaman.

Kelapa sawit merupakan salah satu komoditi strategis yang memiliki nilai ekspor yang tinggi. Permintaan produk kelapa sawit berupa CPO (crude palm oil) terus meningkat yang ditunjukkan dengan terus meningkatnya lahan sawit dalam kurun 20 tahun terakhir.

Kebutuhan pasar terhadap produk sawit terus meningkat dari tahun ke tahun, oleh karena itu diperlukan upaya perluasan dan pengelolaan lahan-lahan sawit yang sudah ada. Usaha tani kelapa sawit bukanlah tanpa kendala, salah satunya adalah serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), khususnya hama.

Salah satu hama utama pada kelapa sawit adalah hama kumbang tanduk (Oryctes rhinoceros). Serangan kumbang tanduk dapat menurunkan produksi hingga 69%, bahkan pada tanaman muda dapat menyebabkan kematian.

Feromon merupakan bahan yang mengantarkan serangga pada pasangan seksualnya, sekaligus mangsa, tanaman inang, dan tempat berkembang biaknya. Feromon yang dipasang pada perangkap hama adalah insektisida alami yang ramah lingkungan. Komponen utama feromon sintetis ini adalah etil-4 metil oktanoat. Penggunaan feromon cukup murah karena biayanya hanya 20% dari biaya penggunaan insektisida.

Model perangkap feromon yang memiliki 4 sisi penahan dan dipasang pada ketinggian 4,5 meter paling efektif untuk memerangkap hama kumbang tanduk. Lamanya waktu efektif untuk pemasangan perangkap feromon adalah 3 bulan. Efektifitas perangkap feromon di lapangan mulai berkurang memasuki bulan ke tiga, karena senyawa kimia dari feromon yang semakin berkurang akibat penguapan.

Pemerangkapan kumbang O. rhinoceros dengan menggunakan ferotrap terdiri atas satu kantong feromon sintetik (Etil-4 metil oktanoate) yang digantungkan dalam ember plastik kapasitas 12 l. Tutup ember plastik diletakkan terbalik dan dilubangi 5 buah dengan diameter 55 mm. Pada dasar ember plastik dibuat 5 lubang dengan diameter 2 mm untuk pembuangan air hujan. Ferotrap tersebut kemudian digantungkan pada tiang kayu setinggi 4 m dan dipasang di dalam areal kelapa sawit. Selain ember plastik dapat juga digunakan perangkap PVC diameter 10 cm, panjang 2 m. Satu kantong feromon sintetik dapat digunakan selama 2-3 bulan. Setiap dua minggu dilakukan pengumpulan kumbang yang terperangkap dan dibunuh.

Salah satu merk dagang feromon untuk mengendalikan hama kumbang tanduk pada tanaman sawit yang sudah dipasarkan adalah “HOSAKU 90” eks Jepang.

Keefektifan penggunaan feromon dapat menjadi lebih tinggi apabila tindakan pengendalian juga dilakukan seperti:

• Penanaman tanaman kacangan penutup tanah pada waktu replanting.
• Pengumpulan kumbang secara manual dari lubang gerekan pada kelapa sawit, dengan menggunakan alat kait dari kawat. Tindakan ini dilakukan tiap bulan apabila populasi kumbang 3-5 ekor/ha, setiap 2 minggu jika populasi kumbang mencapai 5-10 ekor, dan setiap minggu pada populasi kumbang lebih dari 10 ekor.
• Penghancuran tempat peletakkan telur secara manual dan dilanjutkan dengan pengumpulan larva untuk dibunuh, apabila jumlahnya masih terbatas.
• Pemberantasan secara kimiawi dengan menaburkan insektisida butiran Karbosulfan sebanyak (0,05-0,10 g bahan aktif per pohon, setiap 1-2 minggu) atau 3 butir kapur barus/ pohon, setiap 1-2 kali/bulan pada pucuk kelapa sawit.(Admin)

SEKILAS TENTANG PENDAMPINGAN PENGEMBANGAN USAHA AGRIBISNIS PERDESAAN (PUAP) DI JAWA BARAT

Kegiatan pendampingan program PUAP telah dilaksanakan di 25 kabupaten/kota, di Jawa Barat, yaitu kabupaten Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan, Sumedang, Bandung, Bandung Barat, Garut, Bekasi, Karawang, Purwakarta, Subang,  Ciamis, Tasikmalaya, Bogor, Sukabumi, Cianjur, Kota Depok, Kota Banjar, Kota Cimahi,  Kota Sukabumi, Kota Tasikmalaya, Kota Bogor, Pangandaran dan Kota Cirebon. Kabupaten/Kota  tersebut merupakan penerima dana BLM-PUAP tahun 2008, 2009, 2010, 2011, 2012, 2013, 2014 dan 2015. Dana BLM-PUAP yang sudah disalurkan ke rekening Gapoktan mencapai Rp 395,2 milyar yang mencakup 3.952 desa/gapoktan.

Pada intinya program PUAP merupakan suatu upaya penanggulangan kemiskinan yang dilaksanakan melalui pengembangan usaha agribisnis pedesaan. Upaya pengembangan usaha agribisnis tersebut ditempuh melalui penguatan modal petani sebagai “entry point”. Sedangkan upaya penguatan modal petani dilakukan melalui penyaluran dana BLM PUAP sebesar 100 juta rupiah per desa/Gapoktan yang dibentuk di setiap desa lokasi PUAP, selanjutnya disalurkan kepada anggota/petani sebagai pinjaman modal usahataninya. Dana tersebut diharapkan dapat berkembang dan dikelola oleh Gapoktan sebagai modal awal bagi pembentukan Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKM-A) yang mudah diakses oleh rumah tanggatani secara berkelanjutan.

Penyaluran dan pemanfaatan dana BLM pada Gapoktan PUAP melalui pola simpan pinjam untuk modal usaha berbasis pertanian dan diharapkan dana yang telah disalurkan dapat semakin berkembang atau meningkat jumlahnya. Lebih lanjut, Gapoktan diharapkan dapat membentuk Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKM-A) sebagai sumber permodalan di perdesaan sehingga dukungan modal usaha bagi petani yang mengalami kesulitan mendapatkan akses permodalan ke perbankan.

Di setiap kabupaten/kota pada lokasi kegiatan PUAP ditempatkan Penyelia Mitra Tani (PMT) yang memiliki pengalaman dalam mengembangkan lembaga keuangan mikro (LKM). Pada tahun 2016 ditempatkan sebanyak 108 PMT, diharapkan dapat membantu pengurus Gapoktan dalam mengelola dana BLM-PUAP yang disalurkan sehingga dapat berkembang dan mengarah pada terbentuknya LKM-A.

Sejak tahun 2008 sampai dengan akhir bulan Desember 2015 untuk provinsi Jawa Barat telah ditetapkan oleh Kementerian Pertanian melaui Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian sebanyak 3.952 gapoktan sebagai penerima dana Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) untuk Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) yang tersebar di 25 kabupaten/kota.  Berdasarkan hasil pemantauan pada tahun 2015 terhadap 2.265 gapoktan PUAP atau sebanyak 60,7% dari gapoktan PUAP TA 2008-2014 yang ada di Jawa Barat, sebanyak 115 (5,1%) gapoktan telah berbadan hukum koperasi dan hanya 741 atau 32,7% gapoktan saja yang sudah membentuk Lembaga Keuangan Mikro (LKM).

Pengelolaan dana BLM-PUAP 2008-2014 pada 2.352 gapoktan atau sekitar 63% dari total gapoktan PUAP yang ada di Jawa Barat dapat terpantau perkembangan dan perguliran  dananya. Secara umum mengalami peningkatan rata-rata sebesar 12,3 % yaitu dari modal awal sebesar Rp 237.757.114.838 menjadi Rp 270.775.690.850. Pemanfaatan dana PUAP 2008 – 2014 terdistribusi pada lima jenis kegiatan usaha, yaitu tanaman pangan (53,1%), hortikultura (4,0%), perkebunan (1,3%), peternakan (8,1%) dan Off-farm, non budidaya atau pengolahan hasil pertanian sebesar 33,2%.

Pemanfaatan dana BLM-PUAP oleh anggota gapoktan didominasi pada komoditi tanaman pangan, khususnya padi dan palawija dan kegiatan non pangan atau off-farm seperti pengolahan dan pemasaran hasil pertanian, sedangkan sebagian kecil terdistribusi pada kegiatan usaha komoditi peternakan, hortikultura dan perkebunan.

Sampai akhir tahun 2016 Gapoktan penerima dana PUAP di Provinsi Jawa Barat sebanyak 3.949 gapoktan, dari jumlah tersebut  sebanyak 3.352 gapoktan tercatat sebanyak 2.396 gapoktan masih aktif, yang sudah menjadi LKM-A 863 gapoktan  dan 1.006 LKM-A dan sudah berbadan hukum sebanyak 277 Gapoktan/LKM-A. Secara keseluruhan sampai dengan tahun 2016 dari 3.952 gapoktan tercatat sebanyak 771 gapoktan telah membentuk Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKM-A).

Program PUAP dan pendampingannya oleh pusat telah berakhir pada tahun 2016 dan pada tahun 2017 diserahkan ke pemerintah daerah tingkat I (Provinsi) dan tingkat II (kabupaten/kota). Harapan pemerintah pusat, gapoktan PUAP terus mendapat pembinaan dari instansi terkait dan dana BLM-PUAP dikelola/dimanfaatkan dengan baik  sehingga dapat dirasakan manfaatnya oleh petani di perdesaan secara berkelanjutan.

KEAJAIBAN SHOLAT TAHAJUD

Sholat Tahajjud ternyata tak hanya membuat seseorang yang melakukannya mendapatkan tempat (maqam) terpuji di sisi Allah (Qs Al-Isra:79), tapi juga sangat penting bagi dunia kedokteran. Menurut hasil penelitian Mohammad Sholeh, dosen IAIN Surabaya, salah satu shalat sunah itu bisa membebaskan seseorang dari serangan infeksi dan penyakit kanker. Tidak percaya? Cobalah Anda rajin-rajin sholat tahajjud. “Jika anda melakukannya secara rutin, benar, khusuk, dan ikhlas, niscaya Anda terbebas dari infeksi dan kanker”. Ucap Sholeh. Ayah dua anak itu bukan’tukang obat’ jalanan. Dia melontarkan pernyataanya itu dalam desertasinya yang berjudul ‘Pengaruh Sholat tahajjud terhadap peningkatan Perubahan Response ketahanan Tubuh Imonologik: Suatu Pendekatan Psiko-neuroimunologi”

Dengan desertasi itu, Sholeh berhasil meraih gelar doktor dalam bidang ilmu kedokteran pada Program Pasca Sarjana Universitas Surabaya, yang dipertahankannya Selasa pekan lalu. Selama ini, menurut Sholeh, tahajjud dinilai hanya merupakan ibadah salat tambahan atau sholat sunah. Padahal jika dilakukan secara kontinu, tepat gerakannya, khusuk dan ikhlas, secara medis sholat itu menumbuhkan respons ketahanan tubuh (imonologi) khususnya pada imonoglobin M, G, A dan limfosit-nya yang berupa persepsi dan motivasi positif, serta dapat mengefektifkan kemampuan individu untuk menanggulangi masalah yang dihadapi (coping). Sholat tahajjud yang dimaksudkan Sholeh bukan sekedar menggugurkan status sholat yang muakkadah (Sunah mendekati wajib). Ia menitikberatkan pada sisi rutinitas sholat, ketepatan gerakan, kekhusukan, dan keikhlasan. Selama ini, kata dia, ulama melihat masalah ikhlas ini sebagai persoalan mental psikis. Namun sebetulnya soal ini dapat dibuktikan dengan tekhnologi kedokteran. Ikhlas yang selama ini dipandang sebagai misteri,dapat dibuktikan secara kuantitatif melalui sekresi hormon kortisol. Parameternya, lanjut Sholeh, bisa diukur dengan kondisi tubuh. Pada kondisi normal, jumlah hormon kortisol pada pagi hari normalnya antara 38-690 nmol/liter. Sedang pada malam hari-atau setelah pukul 24:00 normalnya antara 69-345 nmol/liter. “Kalau jumlah hormon kortisolnya normal, bisa diindikasikan orang itu tidak ikhlas karena tertekan. Begitu sebaliknya. Ujarnya seraya menegaskan temuannya ini yang membantah paradigma lama yang menganggap ajaran agama (Islam) semata-mata dogma atau doktrin.

Sholeh mendasarkan temuannya itu melalui satu penelitian terhadap 41 responden sisa SMU Luqman Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah, Surabaya.Dari 41 siswa itu, hanya 23 yang sanggup bertahan menjalankan sholat tahajjud selama sebulan penuh. Setelah diuji lagi, tinggal 19 siswa yang bertahan sholat tahjjud selama dua bulan. Sholat dimulai pukul 02-00-3:30 sebanyak 11* rakaat, masing masing dua rakaat empat kali salam plus tiga rakaat. Selanjutnya, hormon kortisol mereka diukur di tiga laboratorium di Surabaya (paramita, Prodia dan Klinika). Hasilnya,ditemukan bahwa kondisi tubuh seseorang yang rajin bertahajjud secara ikhlas berbeda jauh dengan orang yang tidak melakukan tahajjud. Mereka yang rajin dan ikhlas bertahajud memiliki ketahanan tubuh dan kemampuanindividual untuk menaggulangi masalah-masalah yang dihadapi dengan stabil.

“Jadi sholat tahajjud selain bernilai ibadah, juga sekaligus sarat dengan muatan psikologis yang dapat mempengaruhi kontrol kognisi. Dengan cara memperbaiki persepsi dan motivasi positif dan coping yang efectif, emosi yang positif dapat menghindarkan seseorang dari stress,”Nah, menurut Sholeh, orang stress itu biasanya rentan sekali terhadap penyakit kanker dan infeksi. Dengan sholat tahajjud yang dilakukan secara rutin dan disertai perasaan ikhlas serta tidak terpaksa, seseorang akan memiliki respons imun yang baik, yang kemungkinan besar akan terhindar dari penyakit infeksi dan kanker. Dan, berdasarkan hitungan tekhnik medis menunjukan, sholat tahajjud yang dilakukan seperti itu membuat orang mempunyai ketahanan tubuh yang baik. Sebuah bukti bahwa keterbatasan otak manusia tidak mampu mengetahui semua rahasia atas rahmat, nikmat,anugrah yang diberikan oleh ALLAH kepadanya.

Haruskah kita menunggu untuk bisa masuk diakal kita ??????? Seorang Doktor di Amerika telah memeluk Islam karena beberapa keajaiban yang di temuinya di dalam penyelidikannya. Ia amat kagum dengan penemuan tersebut sehingga tidak dapat diterima oleh akal fikiran. Dia adalah seorang Doktor Neurologi. Setelah memeluk Islam dia amat yakin pengobatan secara Islam dan oleh sebab itu ia telah membuka sebuah klinik yang bernama “Pengobatan Melalui Al Qur’an” Kajian pengobatan melalui Al-Quran menggunakan obat-obatan yang digunakan seperti yang terdapat didalam Al-Quran. Di antara berpuasa, madu, biji hitam (Jadam) dan sebagainya.

Ketika ditanya bagaimana dia tertarik untuk memeluk Islam maka Doktor tersebut memberitahu bahwa sewaktu kajian saraf yang dilakukan, terdapat beberapa urat saraf di dalam otak manusia ini tidak dimasuki oleh darah. Padahal setiap inci otak manusia memerlukan darah yang cukup untuk berfungsi secara yang lebih normal. Setelah membuat kajian yang memakan waktu akhirnya dia menemukan bahwa darah tidak akan memasuki urat saraf di dalam otak tersebut melainkan ketika seseorang tersebut bersembahyang yaitu ketika sujud. Urat tersebut memerlukan darah untuk beberapa saat tertentu saja. Ini artinya darah akan memasuki bagian urat tersebut mengikut kadar sembahyang 5 waktu yang diwajibkan oleh Islam. Begitulah keagungan ciptaan Allah. Jadi barang siapa yang tidak menunaikan sembahyang maka otak tidak dapat menerima darah yang secukupnya untuk berfungsi secara normal. Oleh karena itu kejadian manusia ini sebenarnya adalah untuk menganut agama Islam “sepenuhnya” karena sifat fitrah kejadiannya memang telah dikaitkan oleh Allah dengan agamanya yang indah ini. (http://hermansuryantoadaapahariini.wordpress.com)

PENYAKIT LAYU NENAS, SALAH SATU KENDALA UTAMA PADA BUDIDAYA NENAS

Nenas (Ananas comosus (L.) Merr.) adalah salah satu buah tropis yang berasal dari Brasil dan memiliki nilai ekonomi cukup tinggi. Saat ini telah menyebar luas di seluruh daerah tropis dan sub tropis di dunia termasuk di Indonesia. Buah nenas mengandung nutrisi antara lain vitamin C dan enzim bromelin. Disamping untuk konsumsi segar, buah nenas dapat diolah menjadi berbagai macam produk  makanan dan minuman serta sebagai bahan industri.

Peluang pengembangan komoditas nenas di Indonesia diperkirakan akan terus meningkat, karena permintaan pasar cukup tinggi, didukung oleh potensi lahan yang sesuai untuk pengembangan areal pertanaman dan meningkatnya daya beli masyarakat. Salah satu kendala utama dalam budidaya nenas adalah serangan penyakit yang sangat berbahaya yaitu Penyakit layu (Pineapple Wilt Disease). Di luar negeri, kehilangan hasil akibat serangan penyakit ini mencapai 40-100%, sedangkan di Indonesia belum ada laporan meskipun penyakit ini telah ditemukan hampir di seluruh daerah pengembangan nenas dengan serangan yang bervariasi dari ringan hingga berat.

  • Penyebab

Penyakit layu pada tanaman nenas disebabkan oleh Virus (Closterovirus) yang disebut dengan Pineapple mealybug wilt-associated viruses(PMWaV) atau virus  yang hidup berasosiasi dengan hama kutu putih.

  • Gejala Serangan

Gejala pada daun :

Daun berubah warna menjadi coklat kemerahan, selanjutnya berubah menjadi merah muda dengan ujung daun menggulung. Pada serangan parah, seluruh daun menjadi layu, mengering dan akhirnya tanaman mati (Gambar 1).

 Gejala pada akar :

Pertumbuhan akar terhenti, akar membusuk dengan warna coklat sampai hitam. Terdapat koloni kutu putih pada perakaran, pada tanah di sekitar perakaran dan pada pangkal batang bahkan juga pada buah. Serangan penyakit menyebabkan lemahnya sistem perakaran sehingga mengganggu transportasi air dan penyerapan nutrisi.

  • Penularan dan Penyebaran

Penyakit layu nenas ditularkan oleh kutu putih Dysmicoccus brevises Cockerell (Hemiptera: Pseudococcidae).  Disamping sebagai penular penyakit atau vektor virus PMWaV, kutu putih juga merupakan hama utama pada tanaman nenas. Kutu hidup dalam dompolan/koloni (±20 ekor/koloni) pada perakaran dan pangkal batang. Saat populasi tinggi, hama ini hidup pada pangkal daun dan dasar buah.

Penyakit ini disebarkan oleh benih yang terinfeksi virus atau benih yang terkontaminasi kutu putih atau antar tanaman/antar kebun. Peyebaran terjadi  akibat perpindahan kutu putih atau vektor. Vektor  dapat dipindahkan  oleh angin yang menerbangkan nimfa, melalui migrasi semut api Solenopsis sp. (Hymenoptera: Formicidae) yang hidup bersimbiose dengan kutu putih D. brevises ataupun melalui alat-alat pertanian yang digunakan.

  • Teknik Pengendalian
  1. Gunakan bahan perbanyakan (benih) sehat, berasal dari induk dan lahan yang sehat (bebas dari  penyakit layu dan vektornya yaitu kutu putih brevises).
  2. Tidak melakukan penanaman pada lahan yang sudah terkontaminasi berat oleh serangan penyakit layu dan kutu putih ( brevises).
  3. Rendam benih dengan air panas (58°C) selama 40 menit untuk membunuh virus dalam jaringan tanaman.
  4. Rendam benih dengan  insektisida berbahan aktif organopospat dosis sesuai anjuran selama 30 menit lalu tiriskan. Hal ini bertujuan untuk membunuh kutu putih beserta telurnya dan semut yang terbawa pada benih.
  5. Sebelum penanaman, perlakukan tanah media pembibitan dan lahan dengan insektisida berbahan aktif organoposfat dosis sesuai anjuran untuk membunuh hama kutu putih dan semut.
  6. Bersihkan lahan dari gulma, karena beberapa gulma dapat menjadi inang alternatif kutu putih.
  7. Monitoring secara berkala terhadap gejala serangan penyakit. Jika ditemukan tanaman bergejala layu, segera lakukan eradikasi dengan mencabut dan membakar tanaman tersebut agar tidak terjadi penyebaran ke area yang lebih luas.
  8. Lakukan eradikasi masal jika tanaman terserang berat oleh penyakit dan kutu putih brevises.
  9. Lakukan rotasi dengan tanaman lain jika lahan akan ditanami kembali dengan nenas untuk memutus siklus hidup penyakit dan vektor.
Sumber: Jumjunidang dan Sri Hadiati