SEKILAS TENTANG PENDAMPINGAN PENGEMBANGAN USAHA AGRIBISNIS PERDESAAN (PUAP) DI JAWA BARAT

Kegiatan pendampingan program PUAP telah dilaksanakan di 25 kabupaten/kota, di Jawa Barat, yaitu kabupaten Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan, Sumedang, Bandung, Bandung Barat, Garut, Bekasi, Karawang, Purwakarta, Subang,  Ciamis, Tasikmalaya, Bogor, Sukabumi, Cianjur, Kota Depok, Kota Banjar, Kota Cimahi,  Kota Sukabumi, Kota Tasikmalaya, Kota Bogor, Pangandaran dan Kota Cirebon. Kabupaten/Kota  tersebut merupakan penerima dana BLM-PUAP tahun 2008, 2009, 2010, 2011, 2012, 2013, 2014 dan 2015. Dana BLM-PUAP yang sudah disalurkan ke rekening Gapoktan mencapai Rp 395,2 milyar yang mencakup 3.952 desa/gapoktan.

Pada intinya program PUAP merupakan suatu upaya penanggulangan kemiskinan yang dilaksanakan melalui pengembangan usaha agribisnis pedesaan. Upaya pengembangan usaha agribisnis tersebut ditempuh melalui penguatan modal petani sebagai “entry point”. Sedangkan upaya penguatan modal petani dilakukan melalui penyaluran dana BLM PUAP sebesar 100 juta rupiah per desa/Gapoktan yang dibentuk di setiap desa lokasi PUAP, selanjutnya disalurkan kepada anggota/petani sebagai pinjaman modal usahataninya. Dana tersebut diharapkan dapat berkembang dan dikelola oleh Gapoktan sebagai modal awal bagi pembentukan Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKM-A) yang mudah diakses oleh rumah tanggatani secara berkelanjutan.

Penyaluran dan pemanfaatan dana BLM pada Gapoktan PUAP melalui pola simpan pinjam untuk modal usaha berbasis pertanian dan diharapkan dana yang telah disalurkan dapat semakin berkembang atau meningkat jumlahnya. Lebih lanjut, Gapoktan diharapkan dapat membentuk Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKM-A) sebagai sumber permodalan di perdesaan sehingga dukungan modal usaha bagi petani yang mengalami kesulitan mendapatkan akses permodalan ke perbankan.

Di setiap kabupaten/kota pada lokasi kegiatan PUAP ditempatkan Penyelia Mitra Tani (PMT) yang memiliki pengalaman dalam mengembangkan lembaga keuangan mikro (LKM). Pada tahun 2016 ditempatkan sebanyak 108 PMT, diharapkan dapat membantu pengurus Gapoktan dalam mengelola dana BLM-PUAP yang disalurkan sehingga dapat berkembang dan mengarah pada terbentuknya LKM-A.

Sejak tahun 2008 sampai dengan akhir bulan Desember 2015 untuk provinsi Jawa Barat telah ditetapkan oleh Kementerian Pertanian melaui Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian sebanyak 3.952 gapoktan sebagai penerima dana Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) untuk Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) yang tersebar di 25 kabupaten/kota.  Berdasarkan hasil pemantauan pada tahun 2015 terhadap 2.265 gapoktan PUAP atau sebanyak 60,7% dari gapoktan PUAP TA 2008-2014 yang ada di Jawa Barat, sebanyak 115 (5,1%) gapoktan telah berbadan hukum koperasi dan hanya 741 atau 32,7% gapoktan saja yang sudah membentuk Lembaga Keuangan Mikro (LKM).

Pengelolaan dana BLM-PUAP 2008-2014 pada 2.352 gapoktan atau sekitar 63% dari total gapoktan PUAP yang ada di Jawa Barat dapat terpantau perkembangan dan perguliran  dananya. Secara umum mengalami peningkatan rata-rata sebesar 12,3 % yaitu dari modal awal sebesar Rp 237.757.114.838 menjadi Rp 270.775.690.850. Pemanfaatan dana PUAP 2008 – 2014 terdistribusi pada lima jenis kegiatan usaha, yaitu tanaman pangan (53,1%), hortikultura (4,0%), perkebunan (1,3%), peternakan (8,1%) dan Off-farm, non budidaya atau pengolahan hasil pertanian sebesar 33,2%.

Pemanfaatan dana BLM-PUAP oleh anggota gapoktan didominasi pada komoditi tanaman pangan, khususnya padi dan palawija dan kegiatan non pangan atau off-farm seperti pengolahan dan pemasaran hasil pertanian, sedangkan sebagian kecil terdistribusi pada kegiatan usaha komoditi peternakan, hortikultura dan perkebunan.

Sampai akhir tahun 2016 Gapoktan penerima dana PUAP di Provinsi Jawa Barat sebanyak 3.949 gapoktan, dari jumlah tersebut  sebanyak 3.352 gapoktan tercatat sebanyak 2.396 gapoktan masih aktif, yang sudah menjadi LKM-A 863 gapoktan  dan 1.006 LKM-A dan sudah berbadan hukum sebanyak 277 Gapoktan/LKM-A. Secara keseluruhan sampai dengan tahun 2016 dari 3.952 gapoktan tercatat sebanyak 771 gapoktan telah membentuk Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKM-A).

Program PUAP dan pendampingannya oleh pusat telah berakhir pada tahun 2016 dan pada tahun 2017 diserahkan ke pemerintah daerah tingkat I (Provinsi) dan tingkat II (kabupaten/kota). Harapan pemerintah pusat, gapoktan PUAP terus mendapat pembinaan dari instansi terkait dan dana BLM-PUAP dikelola/dimanfaatkan dengan baik  sehingga dapat dirasakan manfaatnya oleh petani di perdesaan secara berkelanjutan.

PENGEMBANGAN USAHA AGRIBISNIS PERDESAAN (PUAP) DI JAWA BARAT

Pendahuluan

Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) merupakan salah satu upaya untuk mengurangi kemiskinan dan pengangguran, khususnya di perdesaan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan di Indonesia pada bulan Maret 2013 tercatat sebanyak 28,07 juta jiwa (11,37 persen). Seiring bertambahnya jumlah penduduk maka disinyalir jumlah penduduk miskin di perdesaan akan bertambah dan menjadi masalah pokok nasional. Oleh karena itu pembangunan ekonomi nasional berbasis pertanian dan perdesaan secara langsung maupun tidak langsung akan berdampak pada pengurangan penduduk miskin.

Masalah mendasar yang dihadapi petani adalah kurangnya akses kepada sumber permodalan, pasar dan teknologi serta organisasi tani yang masih lemah. Oleh karena itu sejak tahun 2008 Kementerian Pertanian telah melaksanakan Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) di bawah koordinasi Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM-Mandiri) dan berada dalam kelompok program pemberdayaan masyarakat.

Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) merupakan bentuk fasilitasi bantuan modal usaha bagi petani, baik petani pemilik, petani penggarap, buruh tani maupun rumah tangga tani yang dikoordinasikan oleh Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan). Gapoktan merupakan kelembagaan tani pelaksana PUAP untuk penyaluran bantuan modal usaha bagi anggota. Dalam pelaksanaan kegiatan PUAP, Gapoktan didampingi oleh tenaga Penyuluh Pendamping dan Penyelia Mitra Tani (PMT).

Kegiatan PUAP difokuskan untuk mempercepat pengembangan usaha ekonomi produktif yang diusahakan petani yang sesuai dengan potensi wilayah setempat. Selanjutnya, Gapoktan pelaksana program PUAP diharapkan dapat menjalankan fungsi-fungsi kelembagaan ekonomi perdesaan dengan menumbuhkan Lembaga Ekonomi Keuangan Mikro Agribisnis (LKM-A) sebagai salah satu unit usaha yang mengelola dan melayani pembiayaan usaha bagi petani anggota.

Sesuai dengan tugas dan fungsinya dalam kegiatan PUAP, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat berperan dalam melaksanakan fungsi kesekretariatan PUAP di tingkat provinsi, memfasilitasi dan mengkoordinir pembayaran biaya operasional (BOP) Penyelia Mitra Tani (PMT), memfasilitasi pelaksanaan sosialisasi PUAP, verifikasi Rencana Usaha Bersama (RUB) dan dokumen administrasi Gapoktan, verifikasi administrasi usulan desa dan Gapoktan PUAP dan melakukan supervisi kegiatan PUAP.

Penyaluran dan Pemanfaatan Dana BLM-PUAP

Sejak tahun 2008 sampai 2013 telah disalurkan ke 3.613 desa/desa yang tersebar di 24 kabupaten/kota Provinsi Jawa Barat, yaitu: Kota Cirebon (22), Kabupaten Cirebon (276), Indramayu (209), Majalengka (264), Kuningan (196), Sumedang (187), Bandung (209), Bandung Barat (162), Garut (222), Bekasi (92), Karawang (169), Purwakarta (156), Subang (217), Ciamis (204), Tasikmalaya (192), Bogor (167), Sukabumi (172), Cianjur (328), Kota Bogor (32), Kota Sukabumi (24), Kota Tasikmalaya (58), Kota Cimahi (14), Kota Depok (16) dan Kota Banjar (25). Penyaluran dana BLM PUAP pada tahun 2013 hanya 269 gapoktan/desa, mengalami penurunan lebih dari 50 persen dibanding tahun-tahun sebelumnya. Jumlah penyaluran dana PUAP yang paling besar terdapat di kabupaten Cianjur, Cirebon dan Majalengka, yaitu antara Rp. 20 – 35 milyar.

Pemanfaatan dana BLM PUAP dikelompokan dalam 2 (dua) jenis usaha, yaitui: 1) budidaya pertanian (on-farm), meliputi: komoditi tanaman pangan, hortikultura, peternakan dan perkebunan, dan 2) non budidaya (off-farm), meliputi: usaha industri rumah tangga atau pengolahan hasil pertanian, pemasaran hasil pertanian skala mikro (bakulan) dan usaha lain berbasis pertanian. Dana BLM-PUAP disalurkan melalui rekening Gapoktan dan pemanfaatannya sesuai dengan Rencana Usaha Bersama (RUB) dan Rencana Usaha Anggota (RUA) yang telah disepakati oleh pengurus dan anggota gapoktan. Pemanfaatan dana PUAP penyaluran tahun 2008 – 2012 terdistribusi pada lima jenis kegiatan usaha, yaitu tanaman pangan (46,5%), hortikultura (6,7%), perkebunan (2,3%), peternakan (10%) dan Off-farm (non budidaya) 34,5%.

Perkembangan dana BLM-PUAP yang telah disalurkan dan dimanfaatkan oleh anggota Gapoktan menunjukkan hasil yang bervariasi. Beberapa Gapoktan menunjukkan kinerja yang baik dan berhasil dalam mengembangkan dana tersebut, namun ada sebagian Gapoktan yang belum berkembang karena mengalami kemacetan dalam pengembalian dana dari anggota sehingga perputaran dana BLM-PUAP menjadi terhambat. Berdasarkan data laporan bulanan, dari dana PUAP yang disalurkan pada tahun 2008 sampai dengan 2012 yang dikelola oleh 1.779 gapoktan per bulan Oktober 2013 terlihat adaya peningkatan dari modal awal sekitar 11,3 %

Penyelia Mitra Tani (PMT)

Untuk menunjang keberhasilan kegiatan PUAP di tingkat lapangan pemerintah telah merekrut tenaga Penyelia Mitra Tani (PMT) yang ditetapkan oleh Menteri Pertanian, dengan tugas utama : (a) melakukan supervisi dan advokasi proses penumbuhan kelembagaan ekonomi perdesaan (unit usaha simpan pinjam) melalui penyuluh pendamping, (b) melaksanakan pertemuan reguler dengan penyuluh pendamping dan Gapoktan, (c) melakukan verifikasi awal terhadap Rencana Usaha Bersama (RUB) dan dokumen administrasi lainnya, (d) melaksanakan pengawalan pemanfaaatan dana BLM PUAP yang dikelola Gapoktan; (e) melaksanakan fungsi pendampingan bagi Gapoktan PUAP sehingga tumbuh menjadi lembaga ekonomi petani atau lembaga keuangan mikro, dan (f) pelaporan baik dalam bentuk manual. Pada tahun 2013, di wilayah kerja provinsi Jawa Barat ditempatkan sebanyak 111 orang PMT dengan rasio 1 : 40 atau 1 PMT membina 40 gapoktan. Kinerja PMT dievaluasi pada setiap akhir tahun anggaran oleh Tim Teknis Kabupaten/Kota dan akan diperpanjang pada tahun berikutnya apabila kinerjanya dinilai baik.

Penumbuhan Lembaga Keuangan Mikro (LKM)

Gapoktan penerima dana BLM PUAP diarahkan untuk dibina dalam mengembangkan lembaga ekonomi ataupun LKM-A sebagai salah satu unit usaha yang dimiliki Gapoktan untuk mengelola dan melayani pembiayaan bagi petani anggota. Dari 1.779 gapoktan PUAP tahun penyaluran tahun 2008 – 2012, sebanyak 430 gapoktan atau sekitar 24 persen sudah mulai menumbuhkan Lembaga Keuangan Mikro (LKM). Dalam pelaksanaannya di lapangan, banyak faktor yang menghambat terbentuknya LKM di gapoktan, antara lain: tidak tersedianya SDM yang memiliki kemampuan mengelola LKM, ketua Gapoktan belum berminat mengembangkan unit simpan pinjam secara otonom, tidak memiliki sarana/fasilitas pendukung, dan perguliran dana pinjaman tidak lancar bahkan dana pinjaman tidak dikembalikan lagi oleh anggotanya sehingga asset modal yang dikelola gapoktan semakin berkurang. Tumbuhnya LKM di Gapoktan dapat membantu mengatasi masalah permodalan petani, menghilangkan/mengurangi ketergantungan petani kepada tengkulak/rentenir dan meningkatkan kerjasama antar kelompok tani dan anggotanya. Alan RS

BUDIDAYA JAMUR TIRAM DAN PELUANG PASAR

Search on this website:

Search on this website:

I. PENDAHULUAN

Jamur merupakan tanaman yang berinti, berspora, tidak berklorofil berupa sel atau benang-benang bercabang. Karena tidak berklorofil, kehidupan jamur mengambil makanan yang sudah dibuat oleh organisme lain yang telah mati. Jamur tiram bila kita budidayakan akan mendapat manfaat berganda. Selain rasanya lezat mengandung gizi yang cukup besar manfaatnya bagi kesehatan manusia sehingga jamur tiram dapat dianjurkan sebagai bahan makanan bergizi tinggi dalam menu sehari- hari. Berdasarkan penelitian yang dilakukan pakar jamur di Departemen Sains Kementrian Industri Thailand bebarapa zat yang terkandung dalam jamur tiram atau Oyster mushroom adalah protein 5,94 %; karbohidrat 50,59 %; serat 1,56 %; lemak 0,17 % dan abu 1,14 %. Selain kandungan ini, Setiap 100 gr jamur tiram segar ternyata juga mengandung 45,65 kalori; 8,9 mg kalsium: 1,9 mg besi; 17,0 mg fosfor. 0,15 mg Vitamin B1; 0,75 mg vitamin B2 dan 12,40 ing vitamin C. Dari hasil penelitian kedokteran secara klinis, para ilmuwan mengemukakan bahwa kandungan senyawa kimia khas jamur tiram berkhasiat mengobati berbagai penyakit manusia seperti tekanan darah tinggi, diabetes, kelebihan kolesterol, anemia, meningkatkan daya tahan tubuh terhadap serangan polio dan influenza serta kekurangan gizi. Secara social budaya, jamur tiram, merupakan bahan pangan bergizi, berkhasiat obat yang lebih murah dibandingkon obat modern. Secare ekonomis merupakan komoditas yang tinggi harganya dan dapat meningkatkan pendapatan petani serta dapat dijadikan makanan olahan untuk konsumsi dalam upaya peningkatan gizi masyarakat

II. SYARAT TUMBUH

Tempat tumbuh Jamur tiram termasuk dalam jenis jamur kayu yang dapat tumbuh baik pada kayu lapuk dan mengambil bahan organic yang ada didalamnya. Untuk membudidayakan jamur jenis ini dapat menggunakan kayu atau serbuk gergaji sebagai media tanamnya. Serbuk kayu yang baik untuk dibuat sebagai bahan media tanam adalah dari jenis kayu yang keras sebab kayu yang keras banyak mengandung selulosa yang merupakan bahan yang diperlukan oleh jamur dalam jumlah banyak disamping itu kayu yang keras membuat media tanaman tidak cepat habis. Kayu atau serbuk kayu yang berasal dari kayu berdaun lebar komposisi bahan kimianya lebih baik dibandingkan dengan kayu berdaun sempit atau berdaun jarum dan yang tidak mengandung getah, sebab getah pada tanaman dapat menjadi zat ekstraktif yang menghambat pertumbuhan misellium. Hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan serbuk kayu sebagai bahan baku media tanam adalah dalam hal kebersihan dan kekeringan, selain itu serbuk kayu yang digunakan ticlak busuk dan tidak ditumbuhi jarnur jenis lain.

Untuk meningkatkan produksi jamur tiram, maka dalam campuran bahan media tumbuh selain serbuk gergaji sebagai bahan utama, perlu bahan tambahan berupa bekatul dan tepung jagung. Dalam hal ini harus dipilih bekatul dan tepung jagung yang mutunya baik, masih baru sebab jika sudah lama disimpan kemungkinan telah menggumpal atau telah mengalami fermentasi serta tidak tercampur dengan bahan-bahan lain yang dapat mengganggu pertumbuhan jamur. Kegunaan penambahan bekatul dan tepung jagung merupakan sumber karbohidrat, lemak dan protein. Disamping itu perlu ditambahkan bahan-bahan lain seperti kapur (Calsium carbonat) sebagai sumber mineral dan pengatur pH meter.

Media yang terbuat dari campuran bahan-bahan tersebut perlu diatur kadar airnya. Kadar air diatur 60 – 65 % dengan menambah air bersih agar misellia jamur dapat tumbuh dan menyerap makanan dari media tanam dengan baik Penambahan air yang tidak bersih dapat menyebabkan media terkontaminasi dengan mikroorganisme.

Tingkat keasamon ( pH)

Tingkat keasaman media sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan jamur tiram. Apabila pH terlalu rendah atau terlalu tinggi maka pertumbuhan jamur akan terhambat. bahkan mungkin akan tumbuh jamur lain yang akan mergganggu pertumbuhan jamur tiram itu sendiri. Keasaman pH media perlu diatur antara pH 6 – 7 dengan menggunakan kapur (Calsium carbonat).

Suhu udara

Pada budidaya jamur tiran suhu udara memegang peranan yang penting untuk mendapatkan pertumbuhan badan buah yang optimal. Pada umumnya suhu yang optimal untuk pertumbuhan jamur tiram, dibedakan dalam dua fase yaitu fase inkubasi yang memerlukan suhu udara berkisar antara 22 – 28 oC dengan kelembabon 60 – 70 % dan fase pembentukan tubuh buah memerlukan suhu udara antara 16 – 22 oC.

Cahaya

Pertumbuhan misellium akan tumbuh dengan cepat dalam, keadaan gelap/tanpa sinar, Sebaiknya selama masa pertumbuhan misellium ditempatkan dalam ruangan yang gelap, tetapi pada masa pertumbuhan badan buah memerlukan adanya rangsangan sinar. Pada tempat yang sama sekali tidak ada cahaya badan buch tidak dapat tumbuh, oleh karena itu pada masa terbentuknya badan buah pada permukaan media harus mulai mendapat sinar dengan intensitas penyinaran ? 60 – 70 %

III. TAHAPAN DALAM KEGIATAN BUDIDAYA JAMUR TIRAM

1. Persiapan Media Tanam

Sebelum dilakukan penanaman (inokulasi) bibit kedalam media tanam, perlu dilakukan persiapan-persiapan antara lain:

Menyiapkan bahan dan alat yang digunakan. Mencampur serbuk kayu dengan bahan-bahan lain seperti bekatul, tepung jagung dan kapur sampai merata ( homogen ) kemudian diayak. Menambah air hingga kandungan air dalam media menjadi 60?-65 % lalu tentukan pH-nya dengan kertas lakmus.

Memasukkan media tanam kedalam kantung plastik polypropilene dan memadatkannya lalu bagian atas kantung plastik diberi cincin paralon kemudian dilubangi 1/3 bagian dengan kayu dan ditutup dengan kertas lilin serta diikat dengan karet pentil.

Melakukan sterilisasi pada suhu 95 OC selama 7 – 8 jam. Mendinginkan media tanam selama 8 – 12 jam dalam ruangan inokulasi

2. Penanaman ( Inokulasi)

Inokulasi dilakukan setelah media tanam dingin dengan suhu antara 22 – 28 OC.

Menyiapkon alat dan bahan yang diperlukan dalam proses penanaman ( inokulasi ).

Sterilisasi semua alat dan bahan yang akan digunakan. Membuka penutup/ kertas lilin dan memasukkan bibit dari dalam botol kedalam media tanam dengan menggunakan stik inokulasi. Menutup kembali penutup/kertas lilin dan mengikat dengan karet pentil.

Memindahkan media tanam yang telah ditanami bibit tersebut kedalam ruangan inkubasi sampai tumbuh misellium jamur, Lamanya penumbuhan misellium jamur antara 45 – 60 hari. Setelah misellium memenuhi kantong plastik dipindahkan ke ruang produksi dengan membuka tutup kontong plastik dan menyemprot air secara teratur.

Satu (1 botol) bibit stater F2 jamur tiram,bisa dikembangkan menjadi 50 botol bibit F3, dan 50 botol bibit F3 dikembangkan menjadi 2000 baglog siap semai.

Budidaya jamur tiram dapat digunakan substrat selain kayu misalnnya serbuk gergaji, ampas tebu atau sekam. Hal yang perlu diperhatikan dalam budi daya jamur tiram adalah faktor ketinggian dan persnyarataan lingkungan, sumber bahan baku untuk substrat tanam dan sumber bibit. Jamur ini hidup baik pada kisaran suhu tingga sekitar 25-30 °C.

• Penyiapan bangunan.

Bentuk dan ukuran bangunan disesuaikan dengan kebutuhan. Untuk kebutuhan sekitar 500 – 1.000 buah log diperlukan bangunan dengan ukuran 6mx 4m x 4m. Bahan yang diperlukan berupa tiang, kaso dan sebagainya terbuat dari bambu atau kayu yang telah diawetkan.

• Pemeliharaan

Substart tanam harus memperhatikan faktor lingkungan. Selama pertumbuhan bibit (serat/miselia seperti benang kapas), temperatur diatur antara 28-30oC. Sementara untuk pertumbuhan tubuh buah jamur sampai panen, temperatur diatur antara 26-28oC. Selama pertumbuhan bibit dan pertumbuhan tubuh buah, kelembaban udara diatur sekitar 90% karena kalau kurnag maka substrat tanam akan mengering. Agar kelembababan terjamin, lantai ruangan sebaiknya disiram air bersih pada pagi dan sore hari.

Kehadiran jamur asing yang merugikan ditandai dengan tumbuhnya serat/miselia jamur berwarna, misalnya hitam, biru coklat kuning. Bila hal ini terjadi., segera jamur dipisahkan ke luar ruangan dan cepat dibakar. Pertumbuhan tubuh buah awal umumnya ditandai dengan adanya bintik-0bintik serat berwarna putih yang main lama makin membesar dan setelah selang beberapa hari akan tumbuh jamur kecil. Bila kondisi sudah seperti ini, tutup kapad san leher pralon segera dipisahkan dari substrat tanam. Apabila substrat tanam dusah menghasilkan jamur sangat sedikit atau kecil-kecil, segera diganti secara keseluruhan dengan yang baru. Selang waktu antara penanaman pertama ke penanaman berikutnya misalnya 2–3 minggu digunakan untuk membersihkan ruangan, rak dan peralatan lainnya. Budi daya jamur tiram dapat dilakukan dalam bentuk gantung. Caranya substrat tanam diberi kayu atau bambu dibagian tenganhanya. kemudian digantungkan di tempat teduh.

Manfaat & Kandungan Jamur Tiram

Jamur ini terkenal dengan rasa lezat dan aromanya tajam seperti merica. kandungan gizinya tinggi: protein sekitar 10 – 30%, vitamin C36 –58 mg/100 gram (kondisi kering, vitamin B2 4.7 – 4.9 mg/100g. Menu masakan seperti nasi goreng jamur dan panggang jamur sering menggunakan bahan jamur tiram. Jamur tiram selain dapat disayur, juga dapat diolah menjadi makanan lain misalnya kerupuk, keripik atau dengan nama lain tiram crip atau tiram chips. Jamur tiram juga populer sebagai masakah sup dan pepes.

Kandungan nutrisi jamur tiram tersusun atas kadar air 92,2%, lemak 1,1, Karbohidrat total 59,2, serat 12, abu 9,1 dan nilai energi 261.

Masa Panen Jamur Tiram

Jamur dipanen, bekas batang jamur dibersihkan dari substrat tanam karena kalu batang ini masih tersisi akan membusuk dan merugikan. Lembar kantong plastik diturunkan ke bawah agar jamur tumbuh lagi. Tergantung pada kandungan substrat tanam, bibit jamur, serta lingkungan selama pemeliharaa, pemanenan jamur dapat dilakukan antara 4 – 8 kali dan jumlah jamur yang dipanen permusim dapat mencapai 600 g, sedangkan berat substrat tanam adalah 1 kg. Dengan nilai REB (Rasio efisinensi biologi adalah 60. Semakin tinggi nilai REB, semakin baik budi daya jamur tersebut.

Aspek Pemasaran Jamur Tiram

Seringkali dipasarkan dalam bentuk awetan dalam kaleng. Jamur tiram belum ada yang diekspor utuh secara segar tetapi umumnya dalam bentuk olahan seperti chips atau crispy. Dipasar setempat, jamur tiram umum dijual tidak dalam bentuk kemasan, melainkan dalam takaran 100 g atau 1 kg. Jamur tiram yang telah berlendir dibagian luar tudungnya sebaiknya tidak dikonsumsi karena kemungkinan besar sudah mulai membusuk oleh bakteri pembusuk. Pangsa pasar untuk produk budi daya jamur tiram terbuka lebar, di samping kebutuhan konsumen setempat setiap hari.

Hasil Panen Jamur Total

Berdasarkan beberapa literatur dan pengalaman yang ada pada budidaya jamur tiram di Malaysia dan Thailand, hasil maksimal jamur tiram putih berkisar antara 25% hingga 35% dari berat media baglog. Baglog hasil produksi Agronusa Mushroom memiliki berat rata-rata 1350 gram. Jadi hasil minimal jamur tiram putih dari media tersebut adalah 337,5 gram, sedangkan maksimalnya adalah 472,5 gram. Berdasarkan pengalaman kami selama ini, hasil panen jamur tiram putih total selama 4 bulan masa produksi adalah berkisar antara antara 350 – 380 gram.

Beberapa hal yang mempengaruhi hasil panen jamur tiram putih antara lain adalah :

1. Pengaruh dari media baglog itu sendiri :

– Kualitas dan kuantitas bibit (stern bibit)

– Kualitas nutrisi pada media (bekatul, kapur, gypsum)

– Jenis kayu yang menjadi media serbuk gergaji.

– Sterilisasi media

– Kepadatan media

– Kadar air dan berat media

2. Pengaruh lingkungan dan perawatan :

– Kondisi suhu dan kelembaban pada mushroom house. Suhu optimal 28 oC,

kelembaban 85%.

– Sirkulasi udara / oksigen pada mushroom house harus baik.

– Kondisi cahaya dalam mushroom house tidak boleh terlalu banyak.

– Jarak antara rak tidak boleh terlalu dekat, jarak terbaik adalah 1m

Pasokan Masih Dinanti

Dalam 10 tahun terakhir nilai ekonomis jamur tiram terus meningkat. Jamur jenis ini sudah lebih dikenal dan memasyarakat dibandingkan jenis jamur lainnya. Permintaan akan produk ini senantiasa meningkat juga disebabkan karena kebutuhan pasar akan produk kian meluas, tak hanya dalam bentuk segar, tetapi juga olahan.

Pasar jamur tiram putih sangat potensial. Dengan rasanya yang enak, selain untuk konsumsi dalam negeri, produk ini juga menembus pasar ekspor. Kebutuhan jamur tiram dalam bentuk kering maupun yang telah dikalengkan untuk beberapa negara seperti Singapura, Taiwan, Jepang, Hongkong cukup tinggi. Jangankan memenuhi pasokan tersebut, kebutuhan jamur dalam negeri saja, petani sulit memenuhi permintaannya.

Jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) adalah jamur yang hidup di kayu dan mudah dibudidayakan menggunakan substrat serbuk kayu dan diinkubasikan dalam kumbung. Jamur tiram dapat ditumbuhkembangkan pada media serbuk yang dikemas dalam kantong plastik.

Disebut jamur tiram putih karena memang berwarna putih, dengan tangkai bercabang dan tudungnya bulat berukuran 3-15 cm. Jamur tiram biasa hidup pada daerah bersuhu 10-32 derajat celcius. Harga jamur tiram putih di pasaran bervariasi sekitar Rp1.500 hingga Rp2.000 per log. Ada juga yang menjual Rp 10.000 per kg untuk partai, atau harga eceran hingga Rp 12.000 per kg.

In House atau Sewa?

Sebagai modal awal untuk usaha jamur tiram setidaknya diperlukan biaya lahan, biaya membangun kumbung, ongkos pembuatan media dan juga tungku sterilisasi. Sebagai gambaran, biaya pembuatan kumbung berkonstruksi bambu bisa mencapai Rp100.000 per m2 .Jika menyimpan 5.000 baglog dibutuhkan kumbung 35m2, maka total biaya pembuatan kumbung sekitar Rp3,5 juta. Biaya tersebut juga ditambah dengan biaya pembuatan rak yang mencapai sekitar 30.000 per m2. Bagi yang ingin mengurangi risiko di bagian biaya modal ini, bisa memilih jalan menyewa kumbung. Dengan jalan ini biaya modal awal bisa diperhemat.

Pertumbuhan dan produksi jamur sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, sehingga ketekunan pebisnis dalam merawat dan memelihara sangat menentukan keberhasilan. Untuk memperkaya pengetahuan pada produk ini, pebisnis harus rajin mengikuti pelatihan terkait produk akan sangat membantu. Berbagai informasi inovasi terbaru juga bisa didapat melalui kegiatan ini. Inovasi yang bisa mempermudah proses produksi bisa didapat. Misalnya, belum lama ini ditemukan inovasi baru untuk melipatgandakan produksi, yaitu sistem gantung dan penambahan eceng gondok sebagai media. Inovasi ini bisa memotong waktu panen hingga setengah dari biasanya. Permasalahan yang sering timbul dari usaha ini biasanya adalah ketidakmampuan petani pebisnis memenuhi permintaan pasokan. Untuk mengatasi ini pebisnis bisa menjalin mitra dengan usaha sejenis lainnya. (SH)

Sterilisasi bahan baku

Budidaya jamur tiram memang cukup mengggiurkan, proses produksinya mudah. Usaha ini memanfaatkan bahan baku limbah pertanian berupa serbuk gergaji dan ampas tebu yang harganya murah. Prospek pasar yang terbuka luas baik dalam maupun luar negeri. Masyarakat di negara seperti Amerika, Eropa, dan Jepang konsumsi berbagai produk jamur-nya relative tinggi. Wajar, pembudidayaan jamur tiram secara komersial saat ini cenderung meningkat.

Proses budidaya jamur tiram pada umumnya meliputi beberapa tahapan yaitu persiapan, pengayakan, perendaman, pengukusan, pencmpuran, pengomposan, pembuatan media dan pengisian log, sterilisasi, pendinginan, inokulasi (pemberian bibit), inkubasi (spawning), penumbuhan (growing) dan pemeliharaan, pemanenan dan pasca panen.

Berdasarkan pengalaman dan pengamatan praktisi jamur, tahapan sterilisasi, tahapan pertumbuhan dan pemeliharaan merupakan critical point dalam proses budidaya jamur. Artinya jika kedua tahapan tersebut dilalui dengan baik maka usaha jamur tiram akan relatif menguntungkan.

Sterilisasi bertujuan menekan pertumbuhan mikroba seperti bakteri, kapang dan khamir dapat menghambat pertumbuhan jamur. Perlakuan ini dilakukan dengan berbagai cara dan kombinasi. Petani jamur umumnya menggunakan alat sterilisasi yakni drum atau mesin penghasil uap (outoclave).

Keduanya memiliki kelemahan dan keunggulan masing-masing. Drum modifikasi lebih murah dan aman dalam pengoperasian. Namun daya tampungnya sedikit dan waktu sterilisasinya lama. Drum modifikasi ini bekerja dalam waktu 80-90 derajat celsius selama 10 jam. Suhu capaian yang kurang optimum tersebut masih memungkinkan kontaminasi mikroba. Biaya pembuatan drum modifikasi sebesar Rp 300 ribu.

Islamiarani (Mahasiswi Manajemen Agribisnis Fakultas Pertanian IPB), Azmi Asyidda Mushoffa ( Mahasiswa Departemen Teknik Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian IPB) dan Yudhi Sylvester Palinggi (Mahasiswa Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian IPB) mengembangkan inovasi alat baru yang memadukan dua kelebihan alat tersebut. Alat tersebut kami namai SterilBak. Keuntungan SterilBak ialah biaya investasi lebih murah, sebesar Rp 7 juta. Judul : Disain Alat Sterilisasi (SterilBak) dan Tempat Pertumbuhan Jamur (JamurBox) yang efesien untuk usaha Budidaya Jamur Tiram).

SterilBak mampu menampung 1000 baglog (tempat pertumbuhan jamur) atau drum sebanyak 10 unit. SterilBak tersusun dari tembok semen dengan ukuran 2 x 2 x 1 meter,tutup ruangan berbahan fiber, rak dari kayu, perangkat pressure gaurge, regulator uap air, boiler dan pipa besi . Tembok SterilBak dihubungkan dengan boiler yang akan menyalurkan uap panas.

Selain SterilBak, adalah teknologi Jamurbox yang menggantikan fungsi baglog. Keuntungan JamurBox ialah waktu panen jamur tiram yang lebih cepat, ramah lingkungan, aman dari kontaminan, dan dapat menghemat media jamur tiram. JamurBox terbuat dari plastik poliprofilen. Berbentuk persegi panjang yang disekat menjadi enam kotak kecil dengan ketinggian masing-masing media tanam sama. Ke-enam JamurBox tersebut ditutup dengan poliprofilen juga. Ditegah tutup tersebut dibaut lubang sebagai tempat penyuntikan benih jamur. Banyaknya media tanam seluruh kotak kecil pada JamurBox sama dengan jumlah media pada satu baglog. Setiap kali pemanenan jamur tiram pada baglog, media dibuang bagian atasnya kemudian di suntik lagi dengan bibit jamur. Demikian seterusnya, sehingga produktivitas masing-masing bagian di baglog tadi memungkinkan. Berbeda dengan plastik baglog setelah beberapa kali panen (1-6 kali), akan dibuang dan menjadi tumpukan limbah. Hal ini akan merusak keseimbangan lingkungan.

Secara teknis penggunaan JamurBox dengan plastik lebih baik karena tahan lama dalam pemakaiannya (diatas 3 tahun) bisa dipakai berulangkali selama tiga tahun. Berdasarkan analisis parsial perubahan penggunaan teknologi dari plastik menjadi JamurBox, maka keuntungan tambahan yang akan diperoleh petani jamur tiram sebesar Rp 14.383.300 atau peningkatan keuntungan 369,66 persen dengan kapasitas industri yang sama.

 

Prima Tani, Membangun Model Agribisnis Pedesaan

Search on this website:

Search on this website:

Sejak digulirkannya Program Rintisan dan Akselerasi Pemasyarakatan Inovasi Teknologi Pertanian (Prima Tani) pada tahun 2005 di 22 kabupaten di Indonesia telah mendapatkan hasil dan respon yang cukup baik dari masyarakat petani maupun Pemerintah Daerah. Oleh karena itu, Departemen Pertanian melalui Badan Litbang Pertanian berupaya terus mengembangkan program ini sehingga pada tahun 2007 telah dilaksanakan di 201 desa diseluruh Indonesia.
Program yang digagas dilaksanakan selama kurun waktu 5 tahun secara bertahap bisa mewujudkan model Agribisnis Industrial Pedesaan (AIP). Tim Evaluasi tingkat Pusat (Eselon 1 dan II) pada setiap akhir tahun anggaran masih memberikan harapan pencapaian keberhasilan yang didasarkan pada hasil penialaian kinerja pada instansi pelaksana program, khususnya tingkat/level eselon III (BPTP). Demikian pula ekspose keberhasilan program Prima Tani yang dilaksanakan di pusat maupun daerah (tingkat kabupaten dan provinsi) memberikan kesan mampu menggerakan perekonomian di pedesaan dan meningkatkan kesejahteraan petani.

Sampai tahun 2008, Pemerintah melalui Departemen Pertanian terus memberikan dukungan dana milyaran rupiah (?) untuk mendukung operasional kegiatan primatani di tingkat eselon I, II, dan III.

Membangun model Agribisnis Industrial Pedesaan (AIP) dalam pelaksaannya tidak semudah membangun sebuah gedung bertingkat yang besar dan kokoh. Mungkin bagi seorang penggagas atau konseptor Prima Tani (?), anggapan ini tidak mencerminkan sikap optimistis seorang peneliti/penyuluh/teknisi yang sudah mendapatkan dukungan dana, fasilitas, dan lain sebagainya. Faktanya di beberapa lokasi, selama kurun waktu 5 tahun belum mampu membangun sebuah unit Agribisnis Industrial Pedesaan, seperti apa yang dirancang sejak awal pelaksanaan kegiatan (apalagi yang baru berumur 2 tahun).
Anggaran pemerintah yang digelontorkan berapapun jumlahnya, yang dianggap cukup atau tidak cukup, pada akhir tahun anggaran tetap habis (eh …. masih tersisa sedikit karena tidak sempai digunakan, SPJ-nya susah !!!!!?????) . Hasil evaluasi internal dan laporan akhir tahun anggaran selalu menyajikan keberhasilan program dengan susunan kata/kalimat yang menarik, didukung data dan angka-angka yang sangaaaat meyakinkan. Namun, faktanya di lapangan ???, masih perlu diklarifikasi.

Awal tahun anggaran 2009, nampaknya telah mulai disadari (tahun-tahun sebelumnya disadari juga, tapi asal laporan fisik dan keuangan lancar dan bisa diterima secara akal-sehat) bahwa kegiatan Prima Tani di beberapa lokasi (sebagian kecil) dianggap tidak atau kurang memberikan dampak yang diharapkan bagi petani ataupun masayarakat pedesaan. Bangunan (unit angibisnis pedesaan) yang dirancangkan dengan dukungan dana dan sarana yang memadai, tidak kunjung selesai. Pimpinan Badan Litbang Pertanian telah mengambil tidakan yang sangat rasional dan ikut menyelamatkan uang rakyat (?), milyaran rupiah (KPK tidak perlu turun tangan !!!!!).

Kejujuran ……………., itulah mungkin kalimat yang perlu dipahami, dihayati, dipegang teguh, dilaksanakan, tidak sekedar kalimat yang hanya menjadi slogan untuk menyelamatkan gengsi pribadi, kelompok ataupun institusi. Fakta ada, hati nurani harus bicara sehingga angka dan data tidak menjadi tameng atau andalan untuk melanggengkan harapan atau keinginan yang berada jauh di awang-awang.

Namun semua ini, pada akhirnya akan sampai diujung batas, berhasil atau tidak, memberikan manfaat atau tidak, dan …………….. tidak berlu lagi nurani bicara.

Barangkali, krisis ekonomi yang melanda negeri kita saat ini turut menyusutkan dampak Prima Tani bagi petani dan masyarakat pedesaan. Jadiiiiii ……sebaiknya ??????, dan apa komentar anda ?????