HAMA LALAT BUAH

Lalat buah, atau bahasa latinnya Bactrocera sp, merupakan salah satu hama yang sangat ganas menyerang tanaman hortikultura, kehadirannya sering menimbulkan kerugian besar bagi para petani, khususnya petani buah dan sayuran. Jika sudah terserang, buah-buah yang lebat dan siap dipetik akan membusuk dan gugur dalam sekejap. Hal ini sangat merugikan bagi para petani karena hasil panen akan menurun drastis. Lalat buah termasuk hama yang paling ditakuti oleh para petani setelah penyakit antraknosa (patek).

Di alam ada banyak spesies lalat buah. Beberapa spesies memiliki efek negatif, beberapa yang lainnya positif. Salah satu spesies yang dikenal sangat merusak buah adalah Bactrocera sp. Lalat buah betina menyuntikkan telurnya ke dalam daging buah. Ini akan menyebabkan buah menjadi busuk dan rontok sebelum dapat dipetik. Siklus hidup lalat buah sekitar 20- 28 hari, dan selama hidupnya kawin dan bertelur dapat menghasilkan 1200 butir. Kehidupan dan perkembangan lalat buah dipengaruhi oleh banyak faktor, di antaranya suhu, kelembaban dan ketersediaan inang. Ketiga faktor tersebut cukup terpenuhi di wilayah tropis seperti Indonesia sehingga sangat mendukung perkembangan populasi lalat buah. Di daerah tropis lalat buah hanya mendapat gangguan iklim yang lebih kecil dibandingkan di wilayah lain, misalnya daerah sedang dan dingin. Selain itu, ketersediaan makanan di wilayah tropis lebih besar oleh karena itu serangga termasuk lalat buah selalu mendapat pakan yang cukup. Pada musim hujan, populasi lalat buah bisa mencapai puncaknya.

Secara fisik, lalat buah dewasa berukuran sekitar 1-6 mm, berkepala besar, berleher sangat kecil. Warnanya bervariasi mulai dari kuning cerah, orange, hitam, coklat, atau kombinasinya. Disebut tephritidae (berarti bor) karena terdapat ovipositor pada lalat betina yang berfungsi untuk memasukkan telur ke dalam buah.

Tanaman Inang

Sasaran utama dari lalat buah adalah cabai, tomat, pare, mentimun, terong, melon, semangka, nangka, jeruk, apel, belimbing, mangga, lengkeng, pepaya, pisang, jambu air, jambu biji, dan banyak lagi.

Siklus Hidup

Lalat buah mempunyai empat stadium yaitu telur, larva, pupa dan imago (serangga dewasa). Telur berwarna putih, berbentuk bulat panjang, diletakkan berkelompok 2 – 15 butir dan dalam waktu ± 2 hari. Telur yang diletakkan di dalam buah akan menetas menjadi 1arva. Seekor lalat betina mampu menghasilkan telur 1200 – 1500 butir. Larva berwarna putih keruh atau putih kekuning-kuningan, berbentuk bulat panjang dengan salah satu ujungnya runcing. Larva terdiri atas tiga instar, dengan lama stadium larva 6 – 9 hari. Larva setelah berkembang maksimum akan membuat lubang keluar untuk meloncat dan melenting dari buah dan masuk ke dalam tanah untuk menjadi pupa. Pupa berwarna coklat, dengan bentuk oval, panjang ± 5 mm dan lama stadium pupa 4 – 10 hari. Imago rata-rata berukuran panjang ± 7 mm, lebar ± 3 mm dengan warna toraks dan abdomen antar spesies lalat buah bervariasi misalnya oranye, merah kecoklatan, coklat, atau hitam. Demikian pula sayapnya transparan dengan bercak-bercak pita (band) yang bervariasi merupakan ciri masing-masing spesies lalat buah. Pada lalat betina ujung abdomennya lebih runcing dan mempunyai alat peletak telur, sedangkan abdomen lalat jantan lebih bulat. Secara keseluruhan daur hidup lalat buah berkisar ± 25 hari.

Gejala Serangan

Lalat buah menusukkan alat peletak telurnya (ovipositor) ke dalam buah. Tujuannya untuk meletakkan telur-telur mereka di dalam buah yang selanjutnya telur-telur tersebut akan menetas menjadi larva dan berkembang. Oleh karena itu, gejala awal yang ditunjukkan serangan lalat buah adalah adanya noda/titik bekas tusukan pada permukaan kulit buah. Selanjutnya telur-telur akan menetas di dalam buah dan menjadi larva. Gangguan yang dilakukan oleh larva-larva inilah yang akan menimbulkan noda-noda di kulit buah dan berkembang menjadi bercak coklat di sekitarnya. Saat buah yang terserang kita belah, akan telihat belatung atau larva lalat buah. Larva akan merusak daging buah sehingga buah menjadi busuk dan gugur sebelum tua/masak. Buah yang gugur ini akan menjadi biang serangan generasi berikutnya jika tidak kita musnahkan dengan segera.

Pengendalian

Sejauh ini, lalat buah termasuk hama yang masih bisa dikendalikan. Beberapa teknik pengendalian baik secara tradisioanal maupun modern telah banyak diaplikasikan walaupun hasilnya belum optimal. Usaha-usaha pengendalian tetap diupayakan agar dampak dari serangan tidak terlalu merugikan. Beberapa cara pengendalian hama lalat buah yang bisa dilakuka di antaranya:

Hal pertama adalah melalui penetapan peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah, yakni peraturan karantina antar area/wilayah/negara untuk tidak memasukkan buah yang terserang dari daerah endemis. Sebagai contoh, pemerintah melarang impor buah-buahan dan sayuran dari negara di mana merupakan daerah endemis lalat buah.

Secara Kultur Teknis

• Pemeliharaan Tanah : Memelihara tanaman dengan baik di antaranya melakukan mengolah dan merawat tanah secara berkala. Pencacahan tanah di bawah tajuk pohon dan membuang sisa-sisa tanaman (ranting dan buah yang jatuh) dapat mngurangi pupa lalat buah yang terdapat di permukaan/dalam tanah.
• Sanitasi yang Baik : Kebersihan kebun menentukan tingkat serangan lalat buah. Tujuan dari sanitasi (membersihkan) kebun adalah memutus siklus perkembangan lalat buah. Lantai kebun harus terbebas dari buah-buah yang terserang lalat buah yang jatuh atau yang masih di pohon. Buah yang berisi telur dan larva lalat buah dikumpulkan kemudian dimusnahkan dengan dibakar atau dibenamkan ke dalam tanah. Buah-buah yang gugur di bawah pohon berpeluang dijadikan tempat bertelur lalat buah. Semak-semak dan gulma juga dapat digunakan lalat buah sebagai inang alternatif ketika tidak musim buah. Sanitasi kebun akan efektif jika dilakukan oleh seluruh petani secara serempak.
• Pembungkusan Buah : Pembungkusan buah saat masih muda dapat membantu menangkal serangan hama lalat buah. Petani bisa menggunakan kertas, kertas karbon, plastik hitam, daun pisang, daun jati, atau kain untuk membungkus buah yang tidak terlalu besar seperti belimbing dan jambu. Untuk buah yang berukuran besar, seperti nangka, petani biasa menggunakan anyaman daun kelapa, karung plastik, atau kertas semen. Setiap jenis pembungkus tentu memiliki kelebihan dan kekurangan. Kapan buah harus dibungkus bergantung dari jenis buahnya. Misalnya, buah belimbing harus sedini mungkin dibungkus. Buah mangga dibungkus sebelum buah memasuki stadium pemasakan. Lalat buah tertarik pada warna kuning dan aroma buah yang masak atau aroma amonia yang dikeluarkan oleh beberapa jenis bunga dan buah, jadi membungkus buah sedini mungkin bisa efektif mengurangi serangan lalat buah. Upaya membungkus buah untuk menghindari serangan lalat buah akan semakin efektif jika dibarengi dengan pengasapan (dijelaskan di bawah).
Di antara keuntungan menggunakan pembungkus untuk menghindari serangan lalat buah adalah buah tetap mulus dan tidak terkontaminasi pestisida. Sayangnya pembungkusan buah kurang praktis jika kebun buah sangat luas dan pohon buah tinggi. Cukup praktis dan efisien jika di lokasi kebun tersedia tenaga kerja yang cukup dan murah. Metode pembukusan juga menjadi hal yang sulit diterapkan pada tanaman buah hortikultura dan sayuran seperti tomat dan cabai. Kesulitan terutama karena terlalu banyak bungkus plastik dan tenaga kerja yang diperlukan untuk membungkus. Jadi, petani mungkin harus mencari solusi lain daripada solusi pembungkusan.

Pengendalian Secara Mekanis

• Pengasapan: Pengasapan di sekitar pohon dengan membakar serasah/jerami sampai menjadi bara yang cukup besar bisa pula mengusir lalat. Pengasapan dilakukan 3 – 4 hari sekali dimulai pada saat pembentukan buah dan diakhiri 1 –2 minggu sebelum panen. Tujuan pengasapan adalah mengusir lalat buah dari kebun. Pengasapan dilakukan dengan membakar serasah atau jerami sampai menjadi bara yang cukup besar. Kemudian bara dimatikan dan di atas bara ditaruh dahan kayu yang masih lembab. Pengasapan di sekitar pohon dapat mengusi lalat buah dan efektif selama tiga hari. Pengasapan selama 13 jam bisa membunuh lalat buah yang tidak sempat menghindar. Cara ini hanya efisien jika diterapkan di pohon-pohon milik perseorangan yang jumlahnya terbatas atau tidak terlampau banyak. Kelemahan lain pada pengendalian pengasapan adalah sulitnya diterapkan pada komoditas sayuran.
• Penggunaan Tanaman Perangkap : Penelitian mengenai preferensi lalat buah terhadap tanaman buah dan sayuran, ternyata yang paling disukai oleh lalat buah berturut-turut sebagai berikut: jambu air, belimbing, mangga dan jambu biji. Tanaman yang lebih rendah dapat digunakan sebagai tanaman perangkap, misalnya bila mengutamakan budidaya tanaman mangga maka disekeliling kebun mangga dapat ditanami jambu air atau belimbing.
Tanaman aromatik atau tanaman yang mampu mengeluarkan aroma, bisa juga digunakan untuk mengendalikan lalat buah. Di antaranya jenis selasih/kemangi (Ocimum) yaitu O.minimum, O.tenuiflorum, O.sanctum dan lainnya. Selain tanaman selasih ada juga tanaman kayu putih (Melaleuca bracteata) dan tanaman yang bersifat sinergis (meningkatkan efektifitas atraktan), seperti pala (Myristica fragans). Semua tanaman ini mengandung bahan aktif yang disukai lalat buah, yaitu Methyl eugenol, dengan kadar yang berbeda. Dengan menanam salah satu tanaman tersebut disekitar lahan, maka diharapkan dapat mengurangi serangan lalat buah secara signifikan. Minyak kayu putih dan minyak selasih berpeluang menjadi atraktan karena mengandung metil eugenol yang cukup tinggi. Sesuai dengan fungsinya sebagai atraktan, minyak tersebut hanya bersifat menarik lalat buah tetapi tidak membunuhnya. Jadi tujuan sebenarnya hanya untuk mengalihkan perhatian lalat buah dari tanaman budidaya utama. Oleh karena itu, penggunaan minyak tersebut akan lebih optimal bila dilengkapi dengan alat yang dapat menjebak atau menangkap lalat buah.

Pemanfaatan Musuh Alami dan Agens Hayati

Selanjutnya kita juga bisa memanfaatkan musuh alami (natural enemy) untuk menekan populasi lalat buah, baik berupa prasitoid maupun predator. Yang termasuk parasitoid untuk lalat buah di antaranya Biosteres sp dan Opius sp, dari famili Braconidae. Adapun predator yang bisa memangsa lalat buah antara lain semut/lebah (Hymenoptera), laba-laba (Arachnida), kumbang tanah carabid dan staphylinid (Coleoptera), cocopet (Dermaptera), sayap jala chrysopid (ordo Neuroptera) dan kepik penratomid (Hemiptera).

Secara Biologi

Pengendalian lalat buah secara biologi bisa dilakukan dengan cara menghasilkan lalat buah jantan yang mandul. Teknik ini memang masih dalam penelitian oleh para ilmuwan, tetapi dianggap kurang praktis karena untuk membuat lalat jantan mandul diperlukan alat dan teknologi khusus. Untuk menghasilkan serangga jantan mandul biasanya diperlukan sejumlah jenis lalat buah jantan yang disinari dengan sinar gamma (biasanya cobalt 60 atau phosphor 132). Secara teori, cara ini memang cukup ampuh karena populasi lalat di alam secara perlahan-lahan dapat ditekan. Dengan melepaskan lalat jantan yang sudah dibuat mandul, telur yang dihasilkan dari perkawinan dengan lalat betina menjadi steril alias tidak bisa menghasilkan keturunan. Jika sudah mencapai umur maksimal (1-2 bulan), lalat betina akan mati dengan sendirinya, begitu pula dengan lalat jantan mandul yang dilepas.

Meskipun demikian, masih perlu diperhitungkan populasi lalat jantan fertil yang berada di alam sehingga lalat jantan mandul dapat berkompetisi untuk memperoleh betina. Menurut beberapa penelitian, gerakan lalat jantan yang telah dimandulkan menjadi lebih lamban dibandingkan dengan lalat jantan yang ada di alam sehingga sering kalah bersaing dalam memperebutkan lalat betina. Sekali lalat betina dikawini oleh lalat jantan, sperma yang diperoleh akan disimpan di dalam spermateka atau kantung sperma, selanjutnya lalat betina tidak memerlukan sperma lagi. Karena itu, jika lalat jantan mandul yang dilepas berhasil mengawini lalat betina terlebih dahulu, hasil yang diharapkan akan tercapai. Namun, kenyataan yang terjadi di lapangan, lalat jantan mandul lebih banyak kalah bersaing dengan lalat jantan fertil untuk menjadi pejantan pertama yang dapat mengawini lalat betina.

Aplikasi Umpan Protein

Metode lainnya untuk mengendalikan lalat buah adalah penerapan umpan protein, yang mana dapat menarik lalat buah baik jantan maupun betina. Metode ini aman bagi manusia, namun mungkin diperlukan pengetahuan tentang bahan-bahan yang harus digunakan. Aplikasi umpan protein dapat dilakukan dengan cara memasang tabung/botol umpan protein. 1 liter umpan protein dicampur dengan 9 liter air kemudian ditambah 100 gram sodium benzoate ditambah dengan ME atau Cue lure (bergantung jenis tanamannya) dan 16 ml fipronil atau 10 ml luvinuron. Bahan-bahan umpan protein ini bisa dibeli di toko-toko bahan kimia atau toko obat pertanian skala menengah-besar. Setiap 2 minggu sekali tabung diisi ulang dengan 250 ml campuran tersebut. Untuk hamparan tanaman yang luas cukup dipasang 4 buah tabung umpan protein per hektarnya.

Penggunaan Perangkap Atraktan

Salah satu cara yang dianggap paling efektif, mudah dan ramah lingkungan untuk mengendalikan lalat buah adalah penggunaan perangkap atraktan (pemikat) lalat buah. Cara ini dianggap aman karena tidak meninggalkan residu pada komoditas yang ditanam. Bahan pemikat ini biasanya ditempatkan di dalam perangkap berupa botol plastik atau tabung silinder sehingga lalat buah akan masuk dan terperangkap di dalam.
Atraktan dapat digunakan untuk tiga fungsi utama, yakni:
1. mendeteksi atau memonitor populasi lalat buah di sekitar lahan budidaya;
2. menarik lalat buah kemudian membunuhnya dengan menggunakan perangkap;
3. mengacaukan perilaku kawin, berkumpul, dan perilaku makan lalat buah.
Mekanisme kerja perangkap adalah memancing lalat buah masuk ke dalam perangkap dengan menggunakan bahan kimia sintetis yang ditempatkan di dalam botol perangkap. Di dasar botol perangkap bisa diisi air sehingga sayap lalat buah akan lengket jika menyentuh air tersebut dan akhirnya lalat buah akan mati tenggelam. Perangkap dipasang pada tiang atau ranting pohon setinggi 2-3 meter dari permukaan tanah. Untuk area lahan 1 hektar, dibutuhkan kurang lebih 16 buah perangkap. Dipasangkan terus menerus selama tanaman berbuah dan zat pemikat harus diisi ulang jika menunjukkan tidak lagi berfungsi. Salah satu produk perangkap lalat buah yang cukup efektif dan mudah didapatkan di pasaran adalah Mengendalikan hama lalat buah.

Secara Kimiawi

Pengendalian lalat buah dengan insektisida berbahan aktif spinosad bisa membunuh lalat buah. Pestisida sebagai umpan dengan bahan aktif spinosad sangat digemari lalat buah baik jantan maupun betina. Namun sayangnya penyemprotan dengan insektisida sering menyebabkan pemborosan karena banyak yang tidak tepat sasaran, mengingat sifat lalat buah yang selalu bergerak. Penggunaan insektisida juga bisa menyebabkan pencemaran lingkungan dan meninggalkan residu yang berbahaya bagi manusia. Cara lain pengendalian lalat buah secara kimia, yakni menggunakan protein baik (pencampuran protein hidrolisat yang merupakan makanan lalat buah dengan insektisida). Namun, cara ini belum populer dilakukan khususnya di Indonesia. Selain itu, daya jangkau efektivitasnya tidak terlampau luas. Keunggulan penggunaan protein baik adalah daya bunuhnya yang tinggi. Jika lalat buah mengonsumsinya, kemungkinan besar akan langsung mati sehingga tidak memerlukan perangkap lagi.

Penggunaan insektisida juga dapat merugikan perdagangan nasional karena produk pertanian yang diekspor bisa ditolak oleh negara tujuan. Oleh karena itu, cara pengendalian hama lalat buah yang efektif, efisien, dan ramah lingkungan sangat dianjurkan.

PETRO TRAP PENGENDALI HAMA LALAT BUAH

Petro Trap merupakan perangkap lalat buah dengan menggunakan feromon “Metil Eugenol”, seperti Petrogenol.

Petro Trap dapat diaplikasikan pada tanaman Jeruk, Jambu air, Jambu Batu, Nangka, Mangga, Cabai, Alpukat, Tomat dan lain-lain.

Perangkap ini telah didesain untuk mampu memerangkap lebih banyak dibandingkan perangkap lainnya. Perangkap ini dilengkapi corong berwarna kuning yang mampu menarik serangga untuk datang, serta mencegah serangga keluar dari perangkap. Selain itu keberadaan yellow sticky trap di dalam botol juga dapat mencegah lalat keluar.

Keunggulan Petro Trap lainnya adalah mampu bertahan lama di lapangan, hingga 2-3 bulan. Oleh karena itu, Petro Trap menjadi salah satu pengendalian lalat buah yang efektif, efisien dan mampu menekan biaya produksi.

Penggunaan perangkap sangat mudah, hanya dengan memasangkan metil eugenol di dalam botol, lalu digantungkan pada batang tanaman.

Kelapa sawit merupakan salah satu komoditi strategis yang memiliki nilai ekspor yang tinggi. Permintaan produk kelapa sawit berupa CPO (crude palm oil) terus meningkat yang ditunjukkan dengan terus meningkatnya lahan sawit dalam kurun 20 tahun terakhir.

Kebutuhan pasar terhadap produk sawit terus meningkat dari tahun ke tahun, oleh karena itu diperlukan upaya perluasan dan pengelolaan lahan-lahan sawit yang sudah ada. Usaha tani kelapa sawit bukanlah tanpa kendala, salah satunya adalah serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), khususnya hama.

Salah satu hama utama pada kelapa sawit adalah hama kumbang tanduk (Oryctes rhinoceros). Serangan kumbang tanduk dapat menurunkan produksi hingga 69%, bahkan pada tanaman muda dapat menyebabkan kematian.

Feromon merupakan bahan yang mengantarkan serangga pada pasangan seksualnya, sekaligus mangsa, tanaman inang, dan tempat berkembang biaknya. Feromon yang dipasang pada perangkap hama adalah insektisida alami yang ramah lingkungan. Komponen utama feromon sintetis ini adalah etil-4 metil oktanoat. Penggunaan feromon cukup murah karena biayanya hanya 20% dari biaya penggunaan insektisida.

Model perangkap feromon yang memiliki 4 sisi penahan dan dipasang pada ketinggian 4,5 meter paling efektif untuk memerangkap hama kumbang tanduk. Lamanya waktu efektif untuk pemasangan perangkap feromon adalah 3 bulan. Efektifitas perangkap feromon di lapangan mulai berkurang memasuki bulan ke tiga, karena senyawa kimia dari feromon yang semakin berkurang akibat penguapan.

Pemerangkapan kumbang O. rhinoceros dengan menggunakan ferotrap terdiri atas satu kantong feromon sintetik (Etil-4 metil oktanoate) yang digantungkan dalam ember plastik kapasitas 12 l. Tutup ember plastik diletakkan terbalik dan dilubangi 5 buah dengan diameter 55 mm. Pada dasar ember plastik dibuat 5 lubang dengan diameter 2 mm untuk pembuangan air hujan. Ferotrap tersebut kemudian digantungkan pada tiang kayu setinggi 4 m dan dipasang di dalam areal kelapa sawit. Selain ember plastik dapat juga digunakan perangkap PVC diameter 10 cm, panjang 2 m. Satu kantong feromon sintetik dapat digunakan selama 2-3 bulan. Setiap dua minggu dilakukan pengumpulan kumbang yang terperangkap dan dibunuh.

Salah satu merk dagang feromon untuk mengendalikan hama kumbang tanduk pada tanaman sawit yang sudah dipasarkan adalah “HOSAKU 90” eks Jepang.

Keefektifan penggunaan feromon dapat menjadi lebih tinggi apabila tindakan pengendalian juga dilakukan seperti:

• Penanaman tanaman kacangan penutup tanah pada waktu replanting.
• Pengumpulan kumbang secara manual dari lubang gerekan pada kelapa sawit, dengan menggunakan alat kait dari kawat. Tindakan ini dilakukan tiap bulan apabila populasi kumbang 3-5 ekor/ha, setiap 2 minggu jika populasi kumbang mencapai 5-10 ekor, dan setiap minggu pada populasi kumbang lebih dari 10 ekor.
• Penghancuran tempat peletakkan telur secara manual dan dilanjutkan dengan pengumpulan larva untuk dibunuh, apabila jumlahnya masih terbatas.
• Pemberantasan secara kimiawi dengan menaburkan insektisida butiran Karbosulfan sebanyak (0,05-0,10 g bahan aktif per pohon, setiap 1-2 minggu) atau 3 butir kapur barus/ pohon, setiap 1-2 kali/bulan pada pucuk kelapa sawit. (Admin)

SEKILAS TENTANG PENDAMPINGAN PENGEMBANGAN USAHA AGRIBISNIS PERDESAAN (PUAP) DI JAWA BARAT

Kegiatan pendampingan program PUAP telah dilaksanakan di 25 kabupaten/kota, di Jawa Barat, yaitu kabupaten Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan, Sumedang, Bandung, Bandung Barat, Garut, Bekasi, Karawang, Purwakarta, Subang,  Ciamis, Tasikmalaya, Bogor, Sukabumi, Cianjur, Kota Depok, Kota Banjar, Kota Cimahi,  Kota Sukabumi, Kota Tasikmalaya, Kota Bogor, Pangandaran dan Kota Cirebon. Kabupaten/Kota  tersebut merupakan penerima dana BLM-PUAP tahun 2008, 2009, 2010, 2011, 2012, 2013, 2014 dan 2015. Dana BLM-PUAP yang sudah disalurkan ke rekening Gapoktan mencapai Rp 395,2 milyar yang mencakup 3.952 desa/gapoktan.

Pada intinya program PUAP merupakan suatu upaya penanggulangan kemiskinan yang dilaksanakan melalui pengembangan usaha agribisnis pedesaan. Upaya pengembangan usaha agribisnis tersebut ditempuh melalui penguatan modal petani sebagai “entry point”. Sedangkan upaya penguatan modal petani dilakukan melalui penyaluran dana BLM PUAP sebesar 100 juta rupiah per desa/Gapoktan yang dibentuk di setiap desa lokasi PUAP, selanjutnya disalurkan kepada anggota/petani sebagai pinjaman modal usahataninya. Dana tersebut diharapkan dapat berkembang dan dikelola oleh Gapoktan sebagai modal awal bagi pembentukan Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKM-A) yang mudah diakses oleh rumah tanggatani secara berkelanjutan.

Penyaluran dan pemanfaatan dana BLM pada Gapoktan PUAP melalui pola simpan pinjam untuk modal usaha berbasis pertanian dan diharapkan dana yang telah disalurkan dapat semakin berkembang atau meningkat jumlahnya. Lebih lanjut, Gapoktan diharapkan dapat membentuk Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKM-A) sebagai sumber permodalan di perdesaan sehingga dukungan modal usaha bagi petani yang mengalami kesulitan mendapatkan akses permodalan ke perbankan.

Di setiap kabupaten/kota pada lokasi kegiatan PUAP ditempatkan Penyelia Mitra Tani (PMT) yang memiliki pengalaman dalam mengembangkan lembaga keuangan mikro (LKM). Pada tahun 2016 ditempatkan sebanyak 108 PMT, diharapkan dapat membantu pengurus Gapoktan dalam mengelola dana BLM-PUAP yang disalurkan sehingga dapat berkembang dan mengarah pada terbentuknya LKM-A.

Sejak tahun 2008 sampai dengan akhir bulan Desember 2015 untuk provinsi Jawa Barat telah ditetapkan oleh Kementerian Pertanian melaui Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian sebanyak 3.952 gapoktan sebagai penerima dana Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) untuk Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) yang tersebar di 25 kabupaten/kota.  Berdasarkan hasil pemantauan pada tahun 2015 terhadap 2.265 gapoktan PUAP atau sebanyak 60,7% dari gapoktan PUAP TA 2008-2014 yang ada di Jawa Barat, sebanyak 115 (5,1%) gapoktan telah berbadan hukum koperasi dan hanya 741 atau 32,7% gapoktan saja yang sudah membentuk Lembaga Keuangan Mikro (LKM).

Pengelolaan dana BLM-PUAP 2008-2014 pada 2.352 gapoktan atau sekitar 63% dari total gapoktan PUAP yang ada di Jawa Barat dapat terpantau perkembangan dan perguliran  dananya. Secara umum mengalami peningkatan rata-rata sebesar 12,3 % yaitu dari modal awal sebesar Rp 237.757.114.838 menjadi Rp 270.775.690.850. Pemanfaatan dana PUAP 2008 – 2014 terdistribusi pada lima jenis kegiatan usaha, yaitu tanaman pangan (53,1%), hortikultura (4,0%), perkebunan (1,3%), peternakan (8,1%) dan Off-farm, non budidaya atau pengolahan hasil pertanian sebesar 33,2%.

Pemanfaatan dana BLM-PUAP oleh anggota gapoktan didominasi pada komoditi tanaman pangan, khususnya padi dan palawija dan kegiatan non pangan atau off-farm seperti pengolahan dan pemasaran hasil pertanian, sedangkan sebagian kecil terdistribusi pada kegiatan usaha komoditi peternakan, hortikultura dan perkebunan.

Sampai akhir tahun 2016 Gapoktan penerima dana PUAP di Provinsi Jawa Barat sebanyak 3.949 gapoktan, dari jumlah tersebut  sebanyak 3.352 gapoktan tercatat sebanyak 2.396 gapoktan masih aktif, yang sudah menjadi LKM-A 863 gapoktan  dan 1.006 LKM-A dan sudah berbadan hukum sebanyak 277 Gapoktan/LKM-A. Secara keseluruhan sampai dengan tahun 2016 dari 3.952 gapoktan tercatat sebanyak 771 gapoktan telah membentuk Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKM-A).

Program PUAP dan pendampingannya oleh pusat telah berakhir pada tahun 2016 dan pada tahun 2017 diserahkan ke pemerintah daerah tingkat I (Provinsi) dan tingkat II (kabupaten/kota). Harapan pemerintah pusat, gapoktan PUAP terus mendapat pembinaan dari instansi terkait dan dana BLM-PUAP dikelola/dimanfaatkan dengan baik  sehingga dapat dirasakan manfaatnya oleh petani di perdesaan secara berkelanjutan.

TENTANG ULAT GRAYAK (Spodoptera Litura F)

Ulat grayak ini menyerang tanaman padi pada semua stadia. Serangan terjadi biasanya pada malam hari sedangkan siang harinya larva ulat grayak bersembunyi pada pangkal tanaman, dalam tanah atau di tempat-tempat yang tersembunyi. Seranga ulat ini memakan helai-helai daun dimulai dari ujung daun dan tulang daun utama ditinggalkan sehingga tinggal tanaman padi tanpa helai daun. Pada tanaman yang telah membentuk malai, ulat grayak seringkali memotong tangkai malai, bahkan ulat grayak ini juga menyerang padi yang sudah mulai menguning . Batang padi yang mulai menguning itu membusuk dan mati yang akhirnya menyebabkan kegagalan panen. Serangan saat padi menguning atau keluar malai inilah yang sangat merugikan petani.

Ulat grayak mempunyai sifat polyfag (makan semua tanaman) sehingga ulat grayak bukan hanya menyerang tanaman padi, tetapi ulat grayak (Spodoptera litura F) malah lebih sering menyerang tanaman, cabai, bawang merah, kedelai, kelapa sawit, tomat, tembakau, orok- orok, kapri, jagung dan sayuran lainnya (Sunarjono dan Soedomo, 1983; Rahayu dan Nur Berlian, 2004). Hama ini dapat menyerang suatu tanaman dengan sangat cepat, bahkan dalam sehari suatu tanaman dapat habis daunnya karena diserang oleh gerombolan ulat grayak. Organisme pengganggu tanaman (OPT) ini menggrogoti bagian daun mulai dari tepi hingga bagian atas atau bawahnya bahkan hingga tersisa epidermisnya saja. Jika daun suatu tanaman rusak, maka tanaman tidak dapat fotosintesis dan tidak dapat meningkatkan produktivitas tanaman tersebut.

Serangga dewasa dari jenis Leucania Separata memiliki ukuran panjang bentangan sayap depan antara 45 – 50 mm dengan warna bervariasi antara merah bata sampai coklat. Serangga ini berumur 3 – 7 hari dan untuk seekor serangga betina ini dapat bertelur sebanyak 80 – 230 butir.

Serangga dewasa jenis Spodoptera litura F, memiliki ukuran panjang badan 20 – 25 mm, berumur 5 – 10 hari dan untuk seekor serangga betina jenis ini dapat bertelur 1.500 butir dalam kelompok-kelompok 300 butir. Serangga ini sangat aktif pada malam hari, sementara pada siang hari serangga dewasa ini diam ditempat yang gelap dan bersembunyi.

Serangga ini memiliki telur dengan bentuk bulat. Telur dari serangga Leucania separata susunannya diletakkan dalam 2 barisan dalam gulungan daun atau pada pangkal daun permukaan sebelah bawah, dengan ukuran 0,5 x 0,45 mm, berwarna putih abu-abu dan berubah menjadi kuning sebelum menetas. Sedangkan serangga Spodoptera susunan telurnya diletakkan dalam kelompok tiap kelompok tersusun oleh 2 – 3 lapisan telur, dan kelompok telur tertutup oleh bulu-bulu pendek berwarna coklat kekuningan dengan umur telur 3 – 4 hari.

Larva Leucania separata memiliki jumlah instar 6 dengan ukuran instar 1 panjang 1,8 mm dan instar 6 panjang 30 – 35 mm berwarna hijau sampai merah jambu dan berumur 14 – 22 hari. Pada bagian punggungnya terdapat 4 garis berwarna hitam yang membujur sepanjang badan. Larva Spodoptera litura F memiliki jumlah instar 5 dengan ukuran instar 1 panjang 1,0 mm dan instar 5 panjang 40 – 50 mm berwarna coklat sampai coklat kehitaman dengan bercak-bercak kuning dan berumur 20 – 26 hari. Sepanjang badan pada kedua sisinya masing-masing terdapat 2 garis coklat muda.

Serangga ulat Grayak perlu diwaspadai karena pada siang hari tidak tampak dan biasanya bersembunyi di tempat yang gelap dan didalam tanah, namun pada malam hari melakukan serangan yang hebat dan bahkan dapat menyebabkan kegagalan panen, mungkin itulah sebabnya maka serangga ini disebut sebagai ulat grayak.

Pada lahan sawah yang kering sering sekali terserang oleh hama ulat grayak oleh karena itu, untuk pengendalian ulat grayak ini kondisi tanah sawah hendaknya diari dan perlu pengamatan lebih awal agar tidak terjadi serangan yang hebat.

Pengamatan awal dapat dilakukan dengan cara apabila ada kupu-kupu atau ngengat serta terlihat adanya telur serangga dapat dilakukan dengan cara mekanis yaitu menangkap kupu-kupu dengan menggunakan jaring serta membunuh telur-telur serangga yang dijumpai.

Meskipun umur larva atau ulat grayak ini berkisar 20 – 26 hari, namun perlu diwaspadai karena larva atau ulat ini dapat menyerang hampir semua fase pertumbuhan tanaman termasuk padi pada semua stadium pertumbuhan.

Setelah 20 – 26 hari ulat ini hidup dan menyerang tanaman, maka ia akan berubah menjadi kepompong dan selanjutnya berubah jadi kupu-kupu. Kupu-kupu bertelur dan setelah 4 – 5 hari akan menetas menjadi ulat atau larva yang akan menyerang tanaman.

Feromon exi merupakan salah satu bio-pestisida yang ramah lingkungan untuk mengendalikan hama ulat bawang. Peminat feromon silahkan hubungi via telp/WA 08122128596 (Admin).

ULAT GRAYAK PADA BAWANG MERAH

Serangan ulat grayak pada tanaman bawang membuat petani resah. Bahkan saat Presiden RI Jokowi bertemu dengan petani bawang merah di Kecamatan Larangan Brebes, petani sempat mengadukan kegelisahan mereka.

Apa yang menyebabkan tanaman bawang petani terserang hama tersebut ? Dari hasil kajian Badan Penelitian Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian, ternyata kebiasaan petani bawang merah di Brebes yang kerap menyemprotkan pestisida membuat hama ulat grayak tersebut kebal terhadap pengendali hama (Sumber: Tabloid Sinar Tani, 14 April 2016)

Ulat bawang (Spodoptera exigua L.) atau petani kerap menyebut dengan ulat grayak ini merupakan ngengat dengan sayap depan berwarna kelabu gelap dan sayap belakang berwarna agak putih. Imago (ulat dewasa) betina biasanya meletakkan telur secara berkelompok pada ujung daun. Satu kelompok biasanya berkisar 50–150 butir.

Seekor betina mampu menghasilkan telur rata-rata 1.000 butir. Telur dilapisi bulu-bulu putih yang berasal dari sisik tubuh induknya. Telur berwarna putih, berbentuk bulat atau bulat telur (lonjong) berukuran 0,5 mm. Telur menetas dalam waktu 3 hari. Larva S.exigua berukuran panjang 2,5 cm dengan warna yang bervariasi. Ketika masih muda, larva berwarna hijau muda. Jika sudah tua berwarna hijau kecoklatan gelap dengan garis kekuningan-kuningan. Kehilangan hasil akibat serangan hama berkisar antara 20-100 persen.

Hama ulat grayak dapat merusak tanaman lainnya seperti: asparagus, kacang-kacangan, bit, brokoli, bawang putih, bawang merah, cabai, kentang, lobak, bayam dan tomat.

Banyak Cara

Teknologi pengendalian hama ulat grayak yang sering menyerang tanaman bawang merah sudah banyak diteliti. Misalnya dengan pemasangan lampu perangkap (light trap). Petani di wilayah Cirebon dan Brebes sudah banyak melaksanakannya.

Di samping itu juga dapat menggunakan Feromon Exi yang dapat diaplikasikan pada area pertanaman, setiap hektar dibutuhkan 12-24 perangkap. Feromon Exi ini dipasang mulai saat tanam dan dapat tahan sampai dua bulan atau satu musim tanam. Pengendalian hama menggunakan Feromon Exi merupakan pilihan yang tepat, karena selain biayanya jauh lebih murah, ramah lingkungan dan juga tidak membunuh serangga lain yang menjadi musuh alami bagi beberapa jenis hama tanaman. Waktu pemasangan Feromon Exi di lapangan sangat menentukan keberhasilan pengendalian hama tersebut.

Konsep pengendalian hama adalah untuk mengurangi serangga jantan dewasa (ngengat) sehingga serangga (ngengat) betina dewasa tidak menghasilkan telur. Oleh karena itu pemasangan Feromon Exi harus dilakukan satu minggu sebelum bibit bawang merah ditanam (baca: mengendalikan hama ulat bawang).

Pengendalian hama ulat grayak dapat juga menggunakan sungkup kain kasa. Cara ini dapat menekan populasi telur dan larva serta intensitas kerusakan tanaman yang secara tidak langsung juga mampu meningkatkan jumlah anakan, tinggi tanaman, jumlah daun, dan jumlah umbi bawang merah. Kelambu kasa plastik tahan sampai 6–8 musim tanam. Di daerah Probolinggo sudah banyak diterapkan petani.

Pengendalian secara manual dengan cara mengumpulkan telur-telur S.exigua dari daun bawang yang terserang kemudian dibuang atau dibenamkan ke dalam tanah. Pengendalian dengan menggunakan insektisida botani yang berasal dari ekstrak akar tuba dan ekstrak ketapang dapat digunakan untuk mengendalikan hama S.exigua dengan dosis 2-4cc/liter air.

Pengendalian dengan pestisida harus dilakukan dengan benar. Yakni, pemilihan jenis, dosis, volume semprot, cara aplikasi, interval maupun waktu aplikasinya dan per giliran tanaman dengan tanaman yang bukan inang S.exigu. Pengendalian hama dengan pestisida/insektisida tidak dianjurkan, selain dapat merusak lingkungan, membutuhkan biaya yang lebih besar juga dapat meninggalkan residu yang dalam jangka panjang bisa membahayakan bagi konsumen.

Ke depan untuk mengurangi serangan ulat grayak ada beberapa hal yang perlu dilakukan. Pertama, pengaturan peredaran pestisida oleh Pemda, termasuk di dalamnya rotasi peredaran pestisida. Kedua, memberikan pengajaran kepada petani tentang cara bijak pemanfaatan pestisida. Hal ini penting karena petani Brebes masih sangat sulit untuk dipisahkan dari pestisida. Ketiga, perlu dikenalkan teknologi pengendalian yang lain dalam koridor Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Peminat feromon, silahkan hubungi via telp/WA ke 08122128596 (Admin).

MENGENAL LEBIH DEKAT TENTANG FEROMON DAN MANFAATNYA

Feromon, berasal dari bahasa Yunani ‘phero’ yang artinya ‘pembawa’ dan ‘mone’ ‘sensasi’. Feromon merupakan sejenis zat kimia yang berfungsi untuk merangsang dan memiliki daya pikat seks pada hewan jantan maupun betina. Zat ini berasal dari kelenjar eksokrin dan digunakan oleh makhluk hidup untuk mengenali sesama jenis, individu lain, kelompok, dan untuk membantu proses reproduksi. Berbeda dengan hormon, feromon menyebar ke luar tubuh dan hanya dapat mempengaruhi dan dikenali oleh individu lain yang sejenis (satu spesies) (Anonim,2009).

Feromon Pada Beberapa Jenis Serangga

Serangga merupakan hama yang paling dominan menyerang tanaman antara lain padi, palawija, hortikultura, buah-buahan mulai dari benih, bibit, bunga, daun, akar, batang dan buah. Kurang lebih 1 juta spesies serangga telah dideskripsi dan hal ini merupakan petunjuk bahwa serangga merupakan mahluk hidup yang mendominasi bumi. Diperkirakan, masih ada sekitar 10 juta spesies serangga yang belum dideskripsi. Peranan serangga sangat besar dalam menguraikan bahan-bahan tanaman dan binatang dalam rantai makanan ekosistem dan sebagai bahan makanan mahluk hidup lain.

Walaupun ukuran badan serangga relatif kecil dibandingkan dengan vertebrata, kuantitasnya yang demikian besar menyebabkan serangga sangat berperan dalam biodiversity (keanekaragaman bentuk hidup) dan dalam siklus energi dalam suatu habitat. Ukuran tubuh serangga bervariasi dari mikroskopis (seperti Thysanoptera, berbagai macam kutu dll.) sampai yang besar seperti walang kayu, kupu-kupu gajah dsb. Dalam suatu habitat di hutan hujan tropika diperkirakan, dengan hanya memperhitungkan serangga sosial (jenis-jenis semut, lebah dan rayap), peranannya dalam siklus energi adalah 4 kali peranan jenis-jenis vertebrata (Tarumingkeng, 2001).

Ukuran badannya yang relatif kecil menyebabkan kebutuhan makannya juga relatif sedikit dan lebih mudah memperoleh perlindungan terhadap serangan musuhnya. Serangga juga memiliki kemampuan bereproduksi lebih besar dalam waktu singkat, dan keragaman genetik yang lebih besar. Dengan kemampuannya untuk beradaptasi, menyebabkan banyak jenis serangga merupakan hama tanaman budidaya, yang mampu dengan cepat mengembangkan sifat resistensi terhadap insektisida (Tarumingkeng, 2001).

Keanekaragaman yang tinggi dalam sifat-sifat morfologi, fisiologi dan perilaku adaptasi dalam lingkungannya, dan demikian banyaknya jenis serangga yang terdapat di muka bumi, menyebabkan banyak kajian ilmu pengetahuan, baik yang murni maupun terapan, menggunakan serangga sebagai model.

 

Kajian-kajian tentang komunikasi serangga menunjukkan bahwa terdapat senyawa-senyawa kimia yang berperan dalam komunikasi antar individu serangga, dan mekanisme dalam menemukan makanannya. Bahan kimia ini disebut feromon (pheromones) dan banyak di antaranya telah diidentifikasi dan diproduksi secara sintetik, misalnya bahan penarik (atraktan) untuk lawan jenis, atraktan agregasi (atraktan individu serangga sejenisnya) dan atraktan makanan. Feromon sintetik ini kini banyak digunakan untuk mengumpan serangga hama (kemudian diracuni dengan insektisida), mendeteksi adanya hama, mengestimasi kelimpahan dan untuk pengendalian. Feromon sintetik dalam pengendalian hama berfungsi membingungkan lawan jenis sehingga tidak memungkinkan terjadi perkawinan, dan berakibat pada penurunan populasi hama (Tarumingkeng, 2001).

Ketika pertama kali ditemukan pada serangga, feromon banyak dikaitkan dengan fungsi reproduksi serangga. Penemu zat feromon pertama kalinya pada hewan (serangga) adalah Jean-Henri Fabre, ketika pada satu musim semi tahun 1870 an pengamatannya pada ngengat ‘Great peacock’ betina keluar dari kepompongnya dan diletakkan di kandang kawat di meja studinya untuk beberapa lama menemukan bahwa pada pada malam harinya lusinan ngengat jantan berkumpul merubung kandang kawat di meja studinya. Fabre menghabiskan tahun-tahun berikutnya mempelajari bagaimana ngengat-ngengat jantan ‘menemukan’ betina-betinanya. Fabre sampai pada kesimpulan jika ngengat betina menghasilkan ‘zat kimia’ tertentu yang baunya menarik ngengat-ngengat jantan (Anonim,2009). Komunikasi melalui feromon sangat meluas dalam keluarga serangga. Feromon bertindak sebagai alat pemikat seksual antara betina dan jantan. Jenis feromon yang sering dianalisis adalah yang digunakan ngengat sebagai zat untuk melakukan perkawinan.

Jenis feromon berbeda-beda pada setiap jenis serangga baik sebagai hama pada tanaman tertentu maupun yang berperan pada tanaman tertentu, diantaranya seperti feromon sex, feromon agregasi, feromon jejak, feromon penunjuk jalan. Dalam hal ini akan dijelaskan lebih lanjut mengenai feromon dan feromon sex pada beberapa serangga.

Kupu-Kupu. Ketika kupu-kupu jantan atau betina mengepakkan sayapnya, saat itulah feromon tersebar di udara dan mengundang lawan jenisnya untuk mendekat secara seksual. Feromon seks memiliki sifat yang spesifik untuk aktivitas biologis dimana jantan atau betina dari spesies yang lain tidak akan merespons terhadap feromon yang dikeluarkan betina atau jantan dari spesies yang berbeda.

Rayap. Untuk dapat mendeteksi jalur yang dijelajahinya, individu rayap yang berada di depan mengeluarkan feromon penanda jejak (trail following pheromone) yang keluar dari kelenjar sternum (sternal gland di bagian bawah, belakang abdomen), yang dapat dideteksi oleh rayap yang berada di belakangnya. Sifat kimiawi feromon ini sangat erat hubungannya dengan bau makanannya sehingga rayap mampu mendeteksi obyek makanannya.  Di samping feromon penanda jejak, para pakar etologi (perilaku) rayap juga menganggap bahwa pengaturan koloni berada di bawah kendali feromon dasar (primer pheromones). Misalnya, terhambatnya pertumbuhan/ pembentukan neoten disebabkan oleh adanya semacam feromon dasar yang dikeluarkan oleh ratu, yang berfungsi menghambat diferensiasi kelamin. Segera setelah ratu mati, feromon ini hilang sehingga terbentuk neoten-neoten pengganti ratu. Tetapi kemudian neoten yang telah terbentuk kembali mengeluarkan feromon yang sama sehingga pembentukan neoten yang lebih banyak dapat dihambat. Feromon dasar juga berperan dalam diferensiasi pembentukan kasta pekerja dan kasta prajurit, yang dikeluarkan oleh kasta reproduktif. Dilihat dari biologinya, koloni rayap sendiri oleh beberapa pakar dianggap sebagai supra-organisma, yaitu koloni itu sendiri dianggap sebagai makhluk hidup, sedangkan individu-individu rayap dalam koloni hanya merupakan bagian-bagian dari anggota badan supra-organisma itu. Perbandingan banyaknya neoten, prajurit dan pekerja dalan satu koloni biasanya tidak tetap. Koloni yang sedang bertumbuh subur memiliki pekerja yang sangat banyak dengan jumlah prajurit yang tidak banyak (kurang lebih 2 – 4 persen). Koloni yang mengalami banyak gangguan, misalnya karena terdapat banyak semut di sekitarnya akan membentuk lebih banyak prajurit (7 – 10 persen), karena diperlukan untuk mempertahankan sarang.

Ngengat . Ngengat gipsi betina dapat mempengaruhi ngengat jantan beberapa kilometer jauhnya dengan memproduksi feromon yang disebut “disparlur”. Karena ngengat jantan mampu mengindra beberapa ratus molekul dari betina yang mengeluarkan isyarat dalam hanya satu mililiter udara, disparlur tersebut efektif saat disebarkan di wilayah yang sangat besar sekalipun.

Pada Semut dan Lebah Madu. Feromon memainkan peran penting dalam komunikasi serangga. Semut menggunakan feromon sebagai penjejak untuk menunjukkan jalan menuju sumber makanan. Bila lebah madu menyengat, ia tak hanya meninggalkan sengat pada kulit korbannya, tetapi juga meninggalkan zat kimia yang memanggil lebah madu lain untuk menyerang. Demikian pula, semut pekerja dari berbagai spesies mensekresi feromon sebagai zat tanda bahaya, yang digunakan ketika terancam musuh; feromon disebar di udara dan mengumpulkan pekerja lain. Bila semut-semut ini bertemu musuh, mereka juga memproduksi feromon sehingga isyaratnya bertambah atau berkurang, bergantung pada sifat bahayanya (Anonim,2009).

Kecoak. Kecoak betina menarik lawan jenisnya dengan cara mengeluarkan periplanon-B.

Di alam terdapat beribu-ribu spesies, yang pada suatu ketika betinanya melepas feromon seks sehingga terdapat berbagai senyawa feromon yang berhubungan dekat satu sama lain di udara. Ini berarti ngengat jantan harus mampu membedakan berbagai feromon dari spesies lain, dan menanggapi dengan tepat feromon spesiesnya sendiri.

Jenis-j enis Feromon

Menurut Sutrisno (2008), feromon dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, diantaranya :

-Feromon seks,
-Feromon jejak,
-Feromon alarm,
-Feromon agregasi,
-Feromon penanda wilayah dan penunjuk jalan, dll.

Feromon agregasi adalah feromon yang diperlukan untuk mengumpulkan anggota koloni atau pun individu dan mempengaruhi perilakunya sebagai suatu individu. Kegunaan feromon ini berkisar dari penunjang perilaku makan, mating, berlindung, oviposisi, sampai ke perilaku yang belum terdeteksi secara jelas. Ada yang berhubungan dengan musim (hibernasi), berhubungan dengan amplitudo harian (agregasi istirahat), berhubungan dengan stadia pertumbuhan (larva yang bersifat gregarius) dan perilaku mengumpul lainnya. Setelah sumberdaya yang sementara atau terbatas habis, maka agregasi akan terhenti dengan sendirinya (Winoto, 2009).

Feromon agregasi tersebar penggunaannya pada berbagai ordo seperti misalnya Orthoptera, Homoptera, Hemiptera, Coleoptera dan Hymenoptera. Familia yang paling banyak dipelajari adalah Scolytidae, Coleoptera; terutama pada kumbang kulit kayu; seperti genus Dendrocnotus dan Ips. Yang menarik, hampir semua feromon agregasi kumbang kulit kayu adalah monoterpen yang secara rumus bangun mirip dengan jenis yang dihasilkan oleh pohon inangnya. Reaksi agregasi merupakan tanggapan terhadap campuran molekul serupa yang saling menunjang efektivitas masing-masing. Komponen molekul serupa semacam itu membentuk suatu kerja kimia yang disebut sinergistik. Masing-masing senyawa sinergis mungkin cukup efektif sebagai molekul tunggal, tetapi lebih efektif jika bahan tersebut bercampur, jauh lebih efektif dibanding sekadar jumlah total efektivitas masing-masing (Winoto, 2009).

Feromon Alarm merupakan feromon yang dipergunakan untuk memperingatkan serangga terhadap bahaya yang datang, apakah itu predator atau bahaya lainnya. Tanggapannya dapat berupa membubarkan diri atau membentuk pertahanan koloni. Beberapa anggota familia Hemiptera dan serangga sosial menggunakan feromon ini untuk menghadapi bahaya. Bahan feromon ini pada afid misalnya, dikeluarkan melalui kornikulanya, yang mengandung bahan feromon alarm umumnya farnesen, dan menyebabkan afid yang berada di sekitarnya menjatuhkan diri, menjauh atau meloncat pergi (Winoto, 2009).

Fungsi Feromon

Ada beberapa fungsi feromon diantaranya :
1. Mempertemukan jantan dan betina kawin
2. Agregasi pada makanan
3. Oviposisi
4. Alarm bila diserang
5. Kontrol perilaku kasta dalam semut
6. Stimulasi migrasi
7. Menghindari multioposisi (Sutrisno, 2008).

Mekanisme Kerja Feromon

Feromon dikeluarkan melalui abdomen pada segmen ke 4 dan 5 pada serangga yang disekresikan oleh kelenjar eksokrin. Struktur senyawa feromon yaitu alkohol dan aldehid. Struktur senyawa yang dihasilkan bersifat spesifik sehingga reseptor yang dipunyai spesifik pula. Setelah sampai di antena serangga target, senyawa feromon tersebut akan dicapai ke otak melalui sel saraf dan barulah diterima oleh sel penerima.

Kebanyakan molekul feromon berasal dari senyawa biokhemis biasa seperti asam lemak atau asam amino. Isyarat feromon menempati ruang tertentu dan tinggal sampai beberapa saat lamanya. Apabila suatu feromon menguap keluar dari sumbernya, maka konsentrasinya akan semakin meningkat dengan semakin bertambahnya waktu. Seandainya tidak ada faktor lain seperti angin dan sebagainya, maka konsentrasi ini akan membentuk suatu ruang berisi konsentrasi feromon, dengan konsentrasi tertinggi pada sumber emisi dan makin menurun ke segala arah (Winoto, 2009).

Agar dapat menimbulkan rangsang, harus ada serangga lain yang menangkap isyarat ini. Kebanyakan tanggapan atas rangsang ini seragam, yakni apabila konsentrasi feromon telah melebihi kadar konsentrasi tertentu. Semakin dekat konsentrasi semakin tinggi, demikian pula semakin menjauh dari sumber emisi konsentrasi semakin rendah dan tidak mampu menimbulkan rangsang. Dengan demikian terbentuk semacam ruang tempat serangga lain menangkap isyarat atau rangsang kimiawi untuk kemudian bereaksi menanggapi rangsang tersebut. Ruang semacam ini oleh Wilson dan Bossert disebut sebagai “ruang aktif” atau “active space”(Winoto, 2009).

Jika feromon dilepas dalam jangka waktu cukup lama, maka ruang aktif akan menjadi cukup besar. Ruang aktif yang lebih besar diperlukan bila penerima memiliki alat deteksi isyarat yang tak terlampau peka dibanding bila penerima memiliki alat yang peka. Dengan mengubah-ubah laju emisi, kepekaan penerima dan jenis isyarat yang dikeluarkan, maka serangga dapat mencapai tujuan komunikasi kimiawi berhubungan dengan perilaku tertentu.

Ada feromon yang mampu menarik serangga jenis kelamin lain pada jarak yang cukup jauh, ada pula yang bekerja pada jarak dekat dan penerima menanggapinya dengan serangkaian perilaku “courtship” atau mencari pasangan. Feromon seperti ini tidak diproduksi terus menerus, tetapi hanya ketika serangga telah mencapai usia cukup dewasa untuk kawin, dan bahkan itu pun pada saat tertentu saja. Telah cukup banyak jenis feromon seks yang dipelajari para peneliti, terutama karena mengubah perilaku kawin merupakan strategi yang cukup dapat diandalkan dalam rangka pengelolaan hama. Penelitian seperti ini pada mulanya berangkat dari usaha menemukan dan menjelaskan molekul feromonnya secara deskriptif, dan ketika jenis dan jumlah molekul yang diperoleh semakin banyak, penelitiannya bergeser ke arah analisis rinci dan kejelasan mekanisme kerja feromon (Winoto, 2009).

Pada mulanya diduga bahwa masing-masing spesies memiliki kekhasan molekul feromon seks yang dipergunakan untuk memikat lawan jenisnya. Molekul ini diduga khas, unik dan menimbulkan rangsang bagi lawan jenis dalam spesies yang sama, tidak pada serangga lain. Pada kenyataannya yang terdapat di alam ternyata jauh lebih menarik dan lebih kompleks dari dugaan tersebut. Kebanyakan feromon merupakan campuran kompleks dari beberapa senyawa penimbul bau, dan campuran aroma demikian memiliki perbedaan arti yang dapat cukup luas hanya karena sedikit perbedaan kadar campurannya. Karena jenisnya yang menjadi beratus-ratus (atau bahkan beribu-ribu) oleh bentukan campuran senyawanya, maka di sini hanya akan diketengahkan contoh feromon seks pada ulat sutera dan kupu-kupu ratu saja (Winoto, 2009).

Aplikasi Untuk Kebutuhan Manusia

Aplikasi di bidang biokimia, misalnya dalam pembuatan feromon sebagai pestisida. Jika feromon in dilepas ke udara dalam jumlah besar sehingga melampaui batas deteksi indera penciuman serangga jantan, maka perkawinan akan terhambat sehingga populasi serangga yang biasanya menjadi hama bisa diturunkan. Karena merupakan zat alami, feromon tidak merusak lingkungan, sehingga secara teori cara seperti ini jauh lebih aman daripada menggunakan racun seperti DDT. Masalahnya, struktur feromon seringkali sangat rumit dan sulit disintesis, namun kini bisa banyak terbantu oleh reaksi metatesis.

Produksi feromon sebagai pembasmi hama melalui reaksi metatesis sudah dilakukan misalnya pada nyamuk Culex. Nyamuk betina dari spesies ini biasanya melepas suatu feromon ketika mereka bertelur, untuk menarik nyamuk betina lainnya agar bertelur di tempat yang sama. Feromon ini, (5R,6S)-6-asetoksi-5-heksadekanolida, sudah berhasil diproduksi secara massal dan diharapkan bisa digunakan untuk menjebak nyamuk betina Culexke dalam suatu perangkap. Diharapkan, langkah ini bisa mencegah penyebaran penyakit West Nile Virusyang dibawa oleh nyamuk spesies ini.

Feromon-Exi

Feromon-Exi berupa atraktan feromon seks yang khusus untuk mengendalikan ulat bawang (Spodoptera exigua). Untuk memudahkan penggunaan, Feromon-Exi diresapkan pada karet berbentuk silinder, dengan ukuran panjang dan diameter kurang dari 1 cm.

Hama ulat bawang (Spodoptera sp.) hingga saat ini masih menjadi momok bagi petani Bawang Merah di Indonesia. Tidaklah heran jika petani bersedia menyediakan biaya yang cukup besar untuk mengendalikan dan membasminya. Meski serangga ulat bawang dewasa hanya kawin satu kali selama hidupnya, namun serangga ulat bawang betina mampu menghasilkan telur 500 -1.000 butir/ ekor dari setiap perkawinannya. Dapat dibayangkan tanpa pengendalian yang tepat, peningkatan populasi akan berlipat dengan cepat.

Murah dan Ramah Lingkungan

Dibandingkan dengan cara pengendalian hama ulat bawang konvensional, penggunaan Feromon-Exi memiliki beberapa kelebihan yaitu :

  • Ramah lingkungan, tidak beracun dan tidak meninggalkan residu
  • Bersifat selektif untuk spesies hama tertentu saja, tdaik membunuh musuh alami
  • Menekan populasi hama secara nyata
  • Lebih murah
  • Mudah diterapkan

Pengendalian hama konvensional umumnya mahal dan berpotensi mencemari lingkungan. Biasanya dalam satu musim tanam dilakukan penyemprotan insektisida hingga 12 kali (untuk mengendalikan ulat bawang) dan 3 kali (untuk mengendalikan Grandong). Berarti penyemprotan insektisida dilakukan setiap 2-3 hari sekali, dengan biaya mencapai Rp 6 juta per hektar per musim. Petani besar menambah lagi dengan penggunaan perangkap lampu yang membutuhkan biaya sekitar Rp 1-2 juta per hektar per musim tanam.

Feromon-Exi, dalam semalam mampu menangkap tidak kurang dari 200-an serangga jantan dalam setiap perangkap. Berarti selama 50 hari (satu musim tanam bawang), dengan menggunakan 12 perangkap per hektar, dapat ditangkap hingga ribuan ekor serangga ulat bawang. Penggunaan Feromon-Exi, mengurangi penyemprotan insektisida cukup dilakukan 3 kali saja (untuk mengendalikan ulat bawang) dan 3 kali (untuk mengendalikan Grandong), dan tidak lagi diperlukan perangkap lampu. Biaya pengendalian hama dapat dihemat Rp 4 juta per hektar per musim tanam.

Menggunakan alat bantu yaitu perangkap  stoples plastik yang diberi lubang jendela. Di dalam stoples, digantungkan karet atraktan Feromon-Exi dan diberikan air dibagian dasar stoples. Kemudian perangkap stoples ditempatkan pada areal tanaman bawang merah, berjarak 15 m, pada ketinggian 40 cm di atas permukaan tanah.

Serangga Spodoptera exigua jantan akan terpikat mendatangi perangkap dan terperangkap di air di dasar stoples. Petani dapat memeriksa serangga Spodoptera exigua yang tertangkap dengan mudah setiap saat dan mengganti air di dalam stoples.

Perangkap Feromon-Exi untuk pemasangan individu diperlukan sekitar 20 perangkap per hektar. Jika pemasangan secara bersama-sama pada satu hamparan yang cukup luas, jumlah perangkap Feromon-Exi cukup 12 perangkap per hektar.

Produksi Feromon Exi

Saat ini Feromon-Exi sudah diproduksi secara komersial oleh CV NUSAGRI dan sudah memperoleh Izin melalui Keputusan Menteri Pertanian No. 128/Kpts/SR.140/1/2012, tertanggal 17 Januari 2012. Bagi yang berminat mendapatkan produk tersebut dapat mengubungi Sdr. Alan (Bandung, Jawa Barat), Hp. 08122128596, email: arsasaputra72@gmail.com. pesanan dapat dikirim via JNE, TIKI atau melalui Pos.