PASAR PRODUK JAMUR TIRAM MASIH TERBUKA LEBAR

Sortir dan PengepakanIni bukan gossip, tapi pernyataan Ketua Masyarakat Agribisnis Jamur Indonesia (MAJI), Bapak M. Kudrat Slamet bahwa permintaan komoditas jamur dari Jawa Barat mencapai 100 ton per hari, sementara perkiraan produksi jamur (merang dan tiram) baru mencapai 50 ton per hari. Masih ada kekurangan pasokan sebesar 50 toh, inilah peluang bagi anda yang kreatif dan para pencari kesibukan, kegiatan yang bisa mendatangkan profit.

Ini masih bicara kebutuhan pasar lokal (domestik) yaitu sekitar DKI Jakarta dan beberapa kota di Sumatera, belum lagi bicara potensi pasar ekspor. Hal ini tidak mengherankan, mengingat produk jamur banyak manfaatnya, maka permintaan akan jamur tak akan pernah habis.

Beberapa pembaca artikel di Gedogan’s Blog bertanya mengenai prospek usaha budidaya jamur tiram, bagaimana pemasaranya ? berapa keuntungannya ? dan sebagainya. Kesan yang bisa saya tangkap dari pertanyaan para pembaca tersebut adalah mereka memiliki keinginan dan minat untuk menginvestasikan modalnya di bisnis jamur hanya saja belum memiliki keyakinan akan keberhasilannya. Sangat bisa difahami, mengingat usaha di bidang apapun tentu memiliki berbagai resiko yang mungkin terjadi dan bahkan uang anda bisa hilang dalam waktu singkat maka perlu dipelajari secara mendalam sebelum anda menyesal dikemudian hari.

Bagi beberapa orang yang memiliki uang banyak ataupun sedikit akan lebih nyaman menyimpan dananya di Bank, walaupun keuntungannyanya relatif kecil ketimbang diinvestasikan pada bidang usaha yang belum dikenalnya dengan baik . Tentu hal itu sangat realistis.

Berbisnis di bidang perjamuran, khususnya jamur tiram memang tidak mudah, apalagi kalau tidak ikut terjun langsung dalam pengelolaannya. Tapi itu tidak perlu dikhawatirkan, karena bagi anda yang berdomisili di sekitar Bandung bisa bergabung dengan MAJI itu. Anda bisa mempelajari terlebih dahulu seluk beluknya, bertanya kepada petani jamur yang sudah mapan sehingga tidak akan kebingungan dalam pengelolaan maupun pemasaran produknya.

Di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat dilaporkan sudah ada sekitar 400 pekebun jamur, dan diperkirakan produksinya mencapai 10 ton per hari. Kegiatan ini sudah bisa menampung tenaga kerja yang cukup banyak dan menjadi sumber mata pencaharian tetap bagi sebagian masyarakat Cisarua. Ini bukti bahwa usaha tani jamur bisa diandalkan dan dapat memberikan jaminan pendapatan sehari-hari.

Berbicara tentang analisis usaha tani jamur tiram, diatas kertas memang sangat mudah dan bisa memberikan gambaran yang menggiurkan. Salah satu hasil penelitian yang berhubungan dengan usaha tani jamur di tingkat petani menyebutkan bahwa dari investasi sebesar Rp 19,7 juta dengan 10.000 baglog diperoleh keuntungan (profit) sebesar Rp 7 juta rupiah per musim (5-6 bulan) atau profit rate sebesar 41,9 % permusim (sekitar 7 persen per bulan). Bandingkan kalau menyimpan di Bank, bunganya hanya sekitar 11 persen per tahun atau 0,9 persen per bulan, belum dipotong biaya administrasi antara Rp 5.000 – 10.000 per bulan. Kalau punya simpanan di Bank sebanyak Rp 10 juta maka bunganya hanya cukup untuk membayar biaya administrasinya saja.

Sumber lain menyebutkan bahwa R/C ratio usaha tani jamur adalah sebesar 1,45 artinya setiap investasi yang ditanamkan (biaya produksi), maka akan diperoleh revenue (penerimaan kembali) sebesar 1,03 kali dari nilai investasi yang ditanamkan atau mendapatkan keuntungan sebesar Rp. 1.322.417,00. Harga jual jamur tiram putih (basah) berkisar antara Rp 5.500 – Rp. 9.000,00/kg sehingga sebenarnya nilai keuntungan yang diperoleh akan sangat bervariasi tergantung pada nilai jual produknya.

Nah, bagi anda yang masih penasaran untuk mencoba bertani jamur paling tidak sudah ada gambaran yang sedikit lebih rinci, tinggal mematangkan niatannya dan mulai bergerak untuk mencari informasi lebih jauh dan menyempatkan diri untuk berkunjung ke sentra-sentra produksi jamur. Sambil berwisata !!!!!

Jangan lupa, ini peluang yang bisa anda tangkap. Usaha sendiri atau bermitra ????????? terserah anda.

INOVASI TEKNOLOGI DALAM BUDIDAYA JAMUR TIRAM

Budidaya jamur tiram memang cukup mengggiurkan. Proses produksinya mudah. Usaha ini memanfaatkan bahan baku limbah pertanian berupa serbuk gergaji dan ampas tebu yang harganya murah.

Prospek pasar yang terbuka luas baik dalam maupun luar negeri. Masyarakat di negara seperti Amerika, Eropa, dan Jepang konsumsi berbagai produk jamurnya relative tinggi. Wajar, pembudidayaan jamur tiram secara komersial saat ini cenderung meningkat.

Proses budidaya jamur tiram pada umumnya meliputi beberapa tahapan yaitu persiapan, pengayakan, perendaman, pengukusan, pencampuran, pengomposan, pembuatan media dan pengisian log, sterilisasi, pendinginan, inokulasi (pemberian bibit), inkubasi (spawning), penumbuhan (growing) dan pemeliharaan, pemanenan dan pasca panen.

Berdasarkan pengalaman dan pengamatan praktisi jamur, tahapan sterilisasi, tahapan pertumbuhan dan pemeliharaan merupakan masa kritis (critical point) dalam proses budidaya jamur. Artinya jika kedua tahapan tersebut dilalui dengan baik maka usaha jamur tiram akan relatif menguntungkan.

Proses sterilisasi sangat penting, karena bertujuan menekan pertumbuhan mikroba seperti bakteri, kapang dan khamir atau ragi yang dapat menghambat pertumbuhan jamur tiram. Proses sterilisasi dilakukan dengan berbagai cara atau dengan berbagai kombinasi. Petani jamur umumnya menggunakan alat sterilisasi yakni drum atau mesin penghasil uap (outoclave).

Keduanya memiliki kelemahan dan keunggulan masing-masing. Drum modifikasi lebih murah dan aman dalam pengoperasian. Namun daya tampungnya sedikit dan waktu sterilisasinya lama. Drum modifikasi ini bekerja dalam waktu 80-90 derajat celsius selama 10 jam. Suhu capaian yang kurang optimum tersebut masih memungkinkan kontaminasi mikroba. Biaya pembuatan drum modifikasi sekitar Rp 300 ribu.

Sedangkan outoclave bekerja lebih cepat yakni 1 jam, menghasilkan suhu 121 derajat celsius dan hasilnya dijamin lebih baik. Sayangnya autoclave sangat mahal sekitar Rp 30-an juta.

Islamiarani (Mahasiswi Manajemen Agribisnis Fakultas Pertanian IPB) bersama Azmi Asyidda Mushoffa ( Mahasiswa Departemen Teknik Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian IPB) dan Yudhi Sylvester Palinggi (Mahasiswa Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian IPB) berhasil mengembangkan inovasi alat sterilisasi yang memadukan dua kelebihan alat tersebut. Alat tersebut dinamai SterilBak. Keuntungan SterilBak ialah biaya investasi lebih murah, sebesar Rp 7 juta. Berdaya kerja optimal dan daya tampung yang lebih besar seperti Autoclave.

SterilBak mampu menampung 1000 baglog (tempat pertumbuhan jamur) atau drum sebanyak 10 unit. SterilBak tersusun dari tembok semen dengan ukuran 2 x 2 x 1 meter,tutup ruangan berbahan fiber, rak dari kayu, perangkat pressure gaurge, regulator uap air, boiler dan pipa besi . Tembok SterilBak dihubungkan dengan boiler yang akan menyalurkan uap panas.

Selain SterilBak, penemuan Islamiarani dkk, adalah teknologi Jamurbox yang menggantikan fungsi baglog. Keuntungan JamurBox ialah waktu panen jamur tiram yang lebih cepat, ramah lingkungan, aman dari kontaminan, dan dapat menghemat media jamur tiram. JamurBox terbuat dari plastik poliprofilen. Berbentuk persegi panjang yang disekat menjadi enam kotak kecil dengan ketinggian masing-masing media tanam sama. Ke-enam JamurBox tersebut ditutup dengan poliprofilen juga. Ditengah-tengah tutup dibuat lubang sebagai tempat penyuntikan benih jamur. Banyaknya media tanam seluruh kotak kecil pada JamurBox sama dengan jumlah media pada satu baglog.

Setiap pemanenan jamur tiram pada baglog biasa, media dibuang bagian atasnya kemudian di suntik lagi dengan bibit jamur. Demikian seterusnya, sehingga produktivitas masing-masing bagian di baglog tadi memungkinkan berbeda. Plastik baglog setelah beberapa kali pnen akan dibuang dan menjadi tumpukan limbah. Hal ini akan merusak keseimbangan lingkungan.

Secara teknis penggunaan JamurBox dengan plastik lebih baik karena tahan lama dalam pemakaiannya (diatas 3 tahun) dan bisa dipakai berulangkali selama tiga tahun. Berdasarkan analisis parsial perubahan penggunaan teknologi dari plastik menjadi JamurBox, maka keuntungan tambahan yang akan diperoleh petani jamur tiram sebesar Rp 14.383.300 atau peningkatan keuntungan 369,66 persen dengan kapasitas industri yang sama.

Para peminat masih harus menunggu karena berdasarkan informasi terkini alat tersebut masih dalam tahap pengujian di Fakultas Pertanian IPB Bogor, belum direkomendasikan untuk digunakan dan diproduksi baik terbatas maupun secara masal.

BERBUDIDAYA JAMUR TIRAM, BERKONTRIBUSI MENINGKATKAN GIZI DAN KESEHATAN KELUARGA DAN MASYARAKAT

Search on this website:

Search on this website:

P. florida

P. florida

Tahukah anda bahwa mengkonsumsi jamur tiram secara rutin dapat mencegah timbulnya berbagai jenis penyakit ? Beberapa referensi dan hasil penelitian menyebutkan bahwa jamur tiram sangat bermanfaat untuk mencegah penyakit jantung, stroke, tekanan darah tinggi dan diabetes mellitus karena 72 % kandungan lemak pada jamur merupakan asam lemak tak jenuh serta memiliki kandungan protein 2 x lipat lebih baik dari protein asparagus, kubis dan kentang dan 4 x lipat dari kandungan protein pada wortel dan tomat.

Nah, untuk mendapatkan jamur tiram tidak perlu harus selalu membeli di pasar atau tukang sayur, anda bisa memproduksinya sendiri tinggal panen setiap hari dan bisa menjadi bahan baku bebagai jenis masakan untuk keluarga. Banyak teori budidaya jamur yang ditulis sebagai artikel dalam buku-buku yang dijual di pasaran atau bisa dengan mudah ditemukan di internet. Ada sebagian pembaca yang merasa kesulitan untuk memulai mempraktekan teori tersebut, karena ada persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi. Padahal sebenarnya budidaya jamur sangat mudah dan sederhana. Kalau hanya untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari anda cukup membeli baglog yang sudah diisi bibit lalu disimpan di tempat terlindung, biarkan saja selama 30-35 hari, selanjutnya kita sudah bisa mulai panen dan akan diulang setiap 2 mingguan sekali.

Baglog di tempat terbuka (halaman rumah), masih berproduksi

Baglog di tempat terbuka (halaman rumah), masih berproduksi

Tempat-tempat kosong di sekitar rumah kita atau di halaman, garasi yang tidak terpakai, bisa dimanfaatkan untuk memproduksi jamur tiram dalam jumlah terbatas. Ini juga sebagai langkah awal untuk menuju kearah usaha yang komersial sambil mempraktekan teori-teori yang sudah dibaca dari buku. Kalau membuat rumah jamur khusus perlu biaya yang besar, sekitar Rp 15 juta yang untuk isi 10.000 baglog. Sekarang ini sudah banyak yang membuat rumah jamur sederhana dan biayanya lebih murah, yaitu hanya membangun atapnya saja sebagai pelindung dari hujan dan panas tanpa dinding, dibawahnya dibuat rak-rak untuk menyusun baglog secara vertikal.

Menyusun baglog secara vertikal

Menyusun baglog secara vertikal

Secara teoritis, jamur tiram hanya tumbuh baik di daerah dataran tinggi karena hawanya sejuk, suhunya rendah. Namun dengan sedikit rekayasa, membuat ruangan tempat baglog disimpan terasa lebih sejuk, tidak mustahil jamur tiram bisa berproduksi dengan baik di daerah panas seperti Jakarta, Bogor, Tanggerang, Bekasi dan di daerah sekitarnya.

Bibit F-1 P. florida

Bibit F-1 P. florida

Menurut petani jamur di daerah Lembang, Parongpong dan Cisarua, pangsa pasar jamur tiram masih terbuka lebar dan mereka masih kewalahan memenuhi permintaan pasokan. Nah, bagi anda yang ingin memanfaatkan peluang ini, ayo dimulai dari sekarang. Bagi yang masih awam sama sekali, saya bisa membantu anda memberikan masukan dan saran-saran dengan gratis alias tidak perlu bayar, kecuali jika ingin berkunjung ke lokasi tertentu, misalnya untuk studi banding atau melihat ke lokasi rumah jamur, tentu anda harus menanggung biaya transfortasi dan konsumsinya.

Bibit F-2 P. florida

Bibit F-2 P. florida

Motto : memperluas pergaulan dan hubungan untuk kebaikan dan kemaslahatan

BUDIDAYA JAMUR TIRAM, MUDAH DAN PRAKTIS

Search on this website:

Search on this website:

Bagi para pemula, khususnya yang berminat untuk memulai usaha budidaya jamur tiram (Pleurotus spp) ada teknologi yang cukup praktis dan dapat dilakukan dengan mudah, yakni melalui beberapa tahapan mulai dari pembuatan media bibit induk (spawn) dan tahapan memproduksi jamur tiramnya.

Pada tahapan I, membuat media bibit induk ada 10 langkah yang perlu dilakukan, yaitu :

Kesatu, bahan medianya yang berupa biji-bijian (millet) atau campuran serbuk gergajian albasia (SGA) ditambah biji millet 1 (42%) : 1 (42%). Bahan baku ini adalah yang terbaik.

Kedua, bahan baku dicuci dan direbus selama 30 menit menggunakan pressure cooker atau panci.

Ketiga, bahan baku tersebut ditiriskan dengan ayakan. Tambahkan 1% kapur (CaCl3), 1% gypsum (CaSO4), vitamin B kompleks (sedikit saja) dan atau 15 persen bekatul. Kadar air 45-60 % (dengan penambahan air) dan pH 7.

Keempat, bahan baku tersebut lalu didistribusikan ke dalam baglog polipropilen/kantong plastik atau botol susu atau botol jam pada hari itu juga. Perbotol diisi 50-60% bahan baku media, disumbat kapas/kapuk, dibalut kertas koran/alumunium foil.

Kelima, sterilisasi dalam autoclav selama 2 jam atau pasteurisasi 8 jam pada hari itu juga. Temperatur autoclave 121 derajat C, tekanan 1 lb, selama 2 jam. Temperatur pasteurisasi 95 derajat C.

Keenam, satu hari kemudian atau setelah suhu media bibit turun sampai suhu kamar dilakukan inokulasi bibit asal biakan murni pada media PDA (sebanyak 2-3 koloni miselium per botol bibit) dalam laminar flow atau ruangan/kamar tertutup.

Ketujuh, inkubasi atau simpan pada ruang inkubasi/inkubator pada suhu 22-28 derajat C.

Kedelapan, botol atau baglog berisi bibit dikocok setiap hari, dua hingga tiga kali. Hal ini dilakukan agar pertumbuhan miselium bibit jamur merata dan cepat serta media bibit tidak menggumpal/ mengeras.

Kesembilan, setelah 15 – 20 hari, bibit induk dipenuhi miselium jamur dengan ciri pertumbuhan miselium jamur kompak dan merata.

Kesepuluh, jamur tersebut digunakan sebagai inokulan/bibit atau induk/bibit sehat untuk perbanyakan ke 1 dan ke 2. Bibit dapat bertahan selama 1 tahun bila disimpan dalam lemari pendingin.

Untuk tahapan I, yaitu penyediaan bibit tidak perlu dilakukan sendiri karena prosesnya agak sulit dan memerlukan fasilitas/peralatan khusus yang biasa digunakan di laboratorium. Untuk bibit anda bisa memesan ke produsen bibit yang bisa dipercaya kemurnian dan kualitasnya sehingga anda bisa langsung melakukan kegiatan tahap ke II.

Tahap ke II, adalah memproduksi jamur tiram (Pleurotus spp). Dalam tahapan ini juga ada 10 langkah, yaitu :

Kesatu, siapkan serbuk kayu gergajian albasia (SGA). Rendam selama 0-12 jam (bergantung pada spesies/strain serbuk kayu yang digunakan).

Kedua, tiriskan sampai tidak ada air, pada hari itu juga dengan mengunakan saringan kawat atau ayakan kawat.

Ketiga, membuat subtrat/media tumbuh dari bahan utama SGA, pada hari itu juga. Tambahkan 5-15 % bekatul atau polar (5-15 kg/100 kg SGA), 2% kapur (CaCO3, 2 kg/100 kg SGA), 2% gypsum (CaSO4, 2 kg/100 kg SGA), diaduk merata dan dibasahi hingga kadar air substrat mencapai 65%, pH 7.

Keempat, distribusikan kedalam baglog polipropilen/kantong plastik pada hari itu juga. Padatkan dalam wadah tersebut (jangan terlalu padat/keras), beri lubang bagian tengah, dengan memasang mulut cincin pralon, kemudian ditutup dengan kapas.

Kelima, satu hari kemudian dikukus dalam drum/alat sterilisasi pada suhu 95-120 derajat C selama 8 – 24 jam tergantung pada jenis bahan baku dan jumlah substrat yang akan di pasteurisasi.

Keenam, setelah suhu baglog substrat/media tanam turun sampai suhu kamar diInokulasi dengan bibit (F2) di ruang inokulasi/ruang tertutup dalam laminar flow atau bok inkubasi. Setiap baglog diisi sebanyak 15 – 20 gram bibit (sekitar 2-3 sendok makan).

Ketujuh, inkubasi baglog substrat/media selama 20 – 30 hari dalam ruang tertutup atau langsung disimpan di atas rak-rak rumah jamur/kubung. Ruang inkubasi dijaga agar tetap kering dan bersih dengan suhu antara 22-28 derajat C tanpa cahaya.

Kedelapan, setelah pertumbuhan meselia jamur (warna putih) menutup seluruh permukaan media/ baglog substrat (setelah 20 – 30 hari), baglog dipindah ke dalam rumah jamur/kumbung dan tali/karet pengikat dan kapas penutupnya dibuka.

Kersembilan, baglog disusun diatas rak dalam rumah jamur, setelah 10-15 hari kemudian, akan tumbuh pin head/bakal tumbuh buah. Baglog diperiksa setiap hari untuk melihat pertumbuhan dan kesehatan atau kemurniannya. Baglog yang ditumbuhi jamur bercampur dengan warna hiaju atau hitam segera dipisahkan dan dibuang.

Kesepuluh, setelah 40-45 hari diinkubasi, biasanya sudah mulai panen dan selanjutnya setiap 1 – 2 minggu sekali selama 3 – 4 bulan tergantung jenis jamur, kualitas bibit, cara pemeliharaan, kualitas bahan media, iklim mikro (suhu dan kelembaban ruangan) dan kebersihan kumbung.

Faktor penting yang harus diperhatikan dalam budidaya jamur tiram ini adalah masalah higienis, aplikasi bibit, teknologi produksi bibit (kultur murni, bibit induk, bibit sebar), jenis serbuk kayu yang digunakan, hama, teknologi produksi media tumbuh/substrat, pemeliharaan serta cara panen jamur tiram.

Bagi anda yang memerlukan bibit jamur tiram (F2) jenis Florida (warna putih atau coklat) dan konsul mengenai budidaya jamur tiram silahkan email ke : arsasaputra72@gmail.com

(Sumber http://trubus.com, dengan tambahan dan perbaikan).