PETRO TRAP PENGENDALI HAMA LALAT BUAH

Petro Trap merupakan perangkap lalat buah dengan menggunakan feromon “Metil Eugenol”, seperti Petrogenol.

Petro Trap dapat diaplikasikan pada tanaman Jeruk, Jambu air, Jambu Batu, Nangka, Mangga, Cabai, Alpukat, Tomat dan lain-lain.

Perangkap ini telah didesain untuk mampu memerangkap lebih banyak dibandingkan perangkap lainnya. Perangkap ini dilengkapi corong berwarna kuning yang mampu menarik serangga untuk datang, serta mencegah serangga keluar dari perangkap. Selain itu keberadaan yellow sticky trap di dalam botol juga dapat mencegah lalat keluar.

Keunggulan Petro Trap lainnya adalah mampu bertahan lama di lapangan, hingga 2-3 bulan. Oleh karena itu, Petro Trap menjadi salah satu pengendalian lalat buah yang efektif, efisien dan mampu menekan biaya produksi.

Penggunaan perangkap sangat mudah, hanya dengan memasangkan metil eugenol di dalam botol, lalu digantungkan pada batang tanaman.

Kelapa sawit merupakan salah satu komoditi strategis yang memiliki nilai ekspor yang tinggi. Permintaan produk kelapa sawit berupa CPO (crude palm oil) terus meningkat yang ditunjukkan dengan terus meningkatnya lahan sawit dalam kurun 20 tahun terakhir.

Kebutuhan pasar terhadap produk sawit terus meningkat dari tahun ke tahun, oleh karena itu diperlukan upaya perluasan dan pengelolaan lahan-lahan sawit yang sudah ada. Usaha tani kelapa sawit bukanlah tanpa kendala, salah satunya adalah serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), khususnya hama.

Salah satu hama utama pada kelapa sawit adalah hama kumbang tanduk (Oryctes rhinoceros). Serangan kumbang tanduk dapat menurunkan produksi hingga 69%, bahkan pada tanaman muda dapat menyebabkan kematian.

Feromon merupakan bahan yang mengantarkan serangga pada pasangan seksualnya, sekaligus mangsa, tanaman inang, dan tempat berkembang biaknya. Feromon yang dipasang pada perangkap hama adalah insektisida alami yang ramah lingkungan. Komponen utama feromon sintetis ini adalah etil-4 metil oktanoat. Penggunaan feromon cukup murah karena biayanya hanya 20% dari biaya penggunaan insektisida.

Model perangkap feromon yang memiliki 4 sisi penahan dan dipasang pada ketinggian 4,5 meter paling efektif untuk memerangkap hama kumbang tanduk. Lamanya waktu efektif untuk pemasangan perangkap feromon adalah 3 bulan. Efektifitas perangkap feromon di lapangan mulai berkurang memasuki bulan ke tiga, karena senyawa kimia dari feromon yang semakin berkurang akibat penguapan.

Pemerangkapan kumbang O. rhinoceros dengan menggunakan ferotrap terdiri atas satu kantong feromon sintetik (Etil-4 metil oktanoate) yang digantungkan dalam ember plastik kapasitas 12 l. Tutup ember plastik diletakkan terbalik dan dilubangi 5 buah dengan diameter 55 mm. Pada dasar ember plastik dibuat 5 lubang dengan diameter 2 mm untuk pembuangan air hujan. Ferotrap tersebut kemudian digantungkan pada tiang kayu setinggi 4 m dan dipasang di dalam areal kelapa sawit. Selain ember plastik dapat juga digunakan perangkap PVC diameter 10 cm, panjang 2 m. Satu kantong feromon sintetik dapat digunakan selama 2-3 bulan. Setiap dua minggu dilakukan pengumpulan kumbang yang terperangkap dan dibunuh.

Salah satu merk dagang feromon untuk mengendalikan hama kumbang tanduk pada tanaman sawit yang sudah dipasarkan adalah “HOSAKU 90” eks Jepang.

Keefektifan penggunaan feromon dapat menjadi lebih tinggi apabila tindakan pengendalian juga dilakukan seperti:

• Penanaman tanaman kacangan penutup tanah pada waktu replanting.
• Pengumpulan kumbang secara manual dari lubang gerekan pada kelapa sawit, dengan menggunakan alat kait dari kawat. Tindakan ini dilakukan tiap bulan apabila populasi kumbang 3-5 ekor/ha, setiap 2 minggu jika populasi kumbang mencapai 5-10 ekor, dan setiap minggu pada populasi kumbang lebih dari 10 ekor.
• Penghancuran tempat peletakkan telur secara manual dan dilanjutkan dengan pengumpulan larva untuk dibunuh, apabila jumlahnya masih terbatas.
• Pemberantasan secara kimiawi dengan menaburkan insektisida butiran Karbosulfan sebanyak (0,05-0,10 g bahan aktif per pohon, setiap 1-2 minggu) atau 3 butir kapur barus/ pohon, setiap 1-2 kali/bulan pada pucuk kelapa sawit.(Admin)

ULAT GRAYAK PADA BAWANG MERAH

Serangan ulat grayak pada tanaman bawang membuat petani resah. Bahkan saat Presiden RI Jokowi bertemu dengan petani bawang merah di Kecamatan Larangan Brebes, petani sempat mengadukan kegelisahan mereka.

Apa yang menyebabkan tanaman bawang petani terserang hama tersebut ? Dari hasil kajian Badan Penelitian Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian, ternyata kebiasaan petani bawang merah di Brebes yang kerap menyemprotkan pestisida membuat hama ulat grayak tersebut kebal terhadap pengendali hama (Sumber: Tabloid Sinar Tani, 14 April 2016)

Ulat bawang (Spodoptera exigua L.) atau petani kerap menyebut dengan ulat grayak ini merupakan ngengat dengan sayap depan berwarna kelabu gelap dan sayap belakang berwarna agak putih. Imago (ulat dewasa) betina biasanya meletakkan telur secara berkelompok pada ujung daun. Satu kelompok biasanya berkisar 50–150 butir.

Seekor betina mampu menghasilkan telur rata-rata 1.000 butir. Telur dilapisi bulu-bulu putih yang berasal dari sisik tubuh induknya. Telur berwarna putih, berbentuk bulat atau bulat telur (lonjong) berukuran 0,5 mm. Telur menetas dalam waktu 3 hari. Larva S.exigua berukuran panjang 2,5 cm dengan warna yang bervariasi. Ketika masih muda, larva berwarna hijau muda. Jika sudah tua berwarna hijau kecoklatan gelap dengan garis kekuningan-kuningan. Kehilangan hasil akibat serangan hama berkisar antara 20-100 persen.

Hama ulat grayak dapat merusak tanaman lainnya seperti: asparagus, kacang-kacangan, bit, brokoli, bawang putih, bawang merah, cabai, kentang, lobak, bayam dan tomat.

Banyak Cara

Teknologi pengendalian hama ulat grayak yang sering menyerang tanaman bawang merah sudah banyak diteliti. Misalnya dengan pemasangan lampu perangkap (light trap). Petani di wilayah Cirebon dan Brebes sudah banyak melaksanakannya.

Di samping itu juga dapat menggunakan Feromon Exi yang dapat diaplikasikan pada area pertanaman, setiap hektar dibutuhkan 12-24 perangkap. Feromon Exi ini dipasang mulai saat tanam dan dapat tahan sampai dua bulan atau satu musim tanam. Pengendalian hama menggunakan Feromon Exi merupakan pilihan yang tepat, karena selain biayanya jauh lebih murah, ramah lingkungan dan juga tidak membunuh serangga lain yang menjadi musuh alami bagi beberapa jenis hama tanaman. Waktu pemasangan Feromon Exi di lapangan sangat menentukan keberhasilan pengendalian hama tersebut.

Konsep pengendalian hama adalah untuk mengurangi serangga jantan dewasa (ngengat) sehingga serangga (ngengat) betina dewasa tidak menghasilkan telur. Oleh karena itu pemasangan Feromon Exi harus dilakukan satu minggu sebelum bibit bawang merah ditanam (baca: mengendalikan hama ulat bawang).

Pengendalian hama ulat grayak dapat juga menggunakan sungkup kain kasa. Cara ini dapat menekan populasi telur dan larva serta intensitas kerusakan tanaman yang secara tidak langsung juga mampu meningkatkan jumlah anakan, tinggi tanaman, jumlah daun, dan jumlah umbi bawang merah. Kelambu kasa plastik tahan sampai 6–8 musim tanam. Di daerah Probolinggo sudah banyak diterapkan petani.

Pengendalian secara manual dengan cara mengumpulkan telur-telur S.exigua dari daun bawang yang terserang kemudian dibuang atau dibenamkan ke dalam tanah. Pengendalian dengan menggunakan insektisida botani yang berasal dari ekstrak akar tuba dan ekstrak ketapang dapat digunakan untuk mengendalikan hama S.exigua dengan dosis 2-4cc/liter air.

Pengendalian dengan pestisida harus dilakukan dengan benar. Yakni, pemilihan jenis, dosis, volume semprot, cara aplikasi, interval maupun waktu aplikasinya dan per giliran tanaman dengan tanaman yang bukan inang S.exigu. Pengendalian hama dengan pestisida/insektisida tidak dianjurkan, selain dapat merusak lingkungan, membutuhkan biaya yang lebih besar juga dapat meninggalkan residu yang dalam jangka panjang bisa membahayakan bagi konsumen.

Ke depan untuk mengurangi serangan ulat grayak ada beberapa hal yang perlu dilakukan. Pertama, pengaturan peredaran pestisida oleh Pemda, termasuk di dalamnya rotasi peredaran pestisida. Kedua, memberikan pengajaran kepada petani tentang cara bijak pemanfaatan pestisida. Hal ini penting karena petani Brebes masih sangat sulit untuk dipisahkan dari pestisida. Ketiga, perlu dikenalkan teknologi pengendalian yang lain dalam koridor Pengendalian Hama Terpadu (PHT).

MENGENDALIKAN HAMA ULAT BAWANG

Biopestisida
Menangkap Kupu2 ulat bawang, untuk mengendalikan hama ulat grayak pada tanaman bawang merah

Ulat bawang (Spodoptera exigua) sudah menyerang tanaman bawang merah sejak umur 1 minggu setelah tanam. Petani bawang merah biasanya mengendalikan hama tersebut dengan insektisida kimia atau perangkap lampu (light trap). Pengendalian dengan cara tersebut diatas dianggap kurang efisien karena memerlukan tenaga dan biaya yang cukup besar. Harga pestisida kimia cenderung meningkat terus disamping itu juga menimbulkan efek samping baik terhadap manusia, hewan dan pencemaran lingkungan. Penggunaan light trap, selain biayanya mahal juga dapat membahayakan manusia jika pemasangannya tidak rapi dan hati-hati.Salah satu teknologi pengendalian hama ulat bawang yang efisien, efektif dan ramah lingkungan adalah dengan penggunaan bio-festisida “Feromon-Exi”. Supaya hasil tangkapan kupu-kupunya optimal,  pemasangan feromon pada areal pertanaman bawang dilaksanakan paling lambat 1 minggu sebelum bibit ditanam.

Pengujian penggunaan feromon pada beberapa lokasi di Jawa Barat (kab. Cirebon & Majalengka) menunjukkan hasil yang positif. Satu minggu setelah pemasangan perangkap berferomon exi, tangkapan serangga (ngengat) jantan dari hama ulat bawang rata-rata diatas 150 ekor atau maksimum 350 – 450 ekor. Biaya pengendalian dengan feromon-exi relatif murah, yaitu Rp 35.000,- per buah atau Rp 350.000,- per 2 dus (isi 10 buah) tanpa toples.Untuk luas pertanaman bawang 1 ha cukup dipasang 20-25 unit feromon atau Rp 700.000 – 900.000,- saja dan bisa bertahan sampai akhir panen. TENTANG ULAT GRAYAK (Spodoptera Litura F)

Penggunaan feromon-exi sangat disarankan dan bahannya mudah diperoleh. Feromon exi sudah bisa diperoleh dan dipesan melalui email ke arsasaputra72@gmail.com, atau hub. 08122128596, pesanan akan dikirim via TIKI. Pesanan diatas 2 dus dalam satu pengiriman diberikan korting harga sampai 10% (diluar biaya pengiriman). Pembayaran ditransfer melalui Bank BNI. (Admin)