TENTANG ULAT GRAYAK (Spodoptera Litura F)

Ulat grayak ini menyerang tanaman padi pada semua stadia. Serangan terjadi biasanya pada malam hari sedangkan siang harinya larva ulat grayak bersembunyi pada pangkal tanaman, dalam tanah atau di tempat-tempat yang tersembunyi. Seranga ulat ini memakan helai-helai daun dimulai dari ujung daun dan tulang daun utama ditinggalkan sehingga tinggal tanaman padi tanpa helai daun. Pada tanaman yang telah membentuk malai, ulat grayak seringkali memotong tangkai malai, bahkan ulat grayak ini juga menyerang padi yang sudah mulai menguning . Batang padi yang mulai menguning itu membusuk dan mati yang akhirnya menyebabkan kegagalan panen. Serangan saat padi menguning atau keluar malai inilah yang sangat merugikan petani.

Ulat grayak mempunyai sifat polyfag (makan semua tanaman) sehingga ulat grayak bukan hanya menyerang tanaman padi, tetapi ulat grayak (Spodoptera litura F) malah lebih sering menyerang tanaman, cabai, bawang merah, kedelai, kelapa sawit, tomat, tembakau, orok- orok, kapri, jagung dan sayuran lainnya (Sunarjono dan Soedomo, 1983; Rahayu dan Nur Berlian, 2004). Hama ini dapat menyerang suatu tanaman dengan sangat cepat, bahkan dalam sehari suatu tanaman dapat habis daunnya karena diserang oleh gerombolan ulat grayak. Organisme pengganggu tanaman (OPT) ini menggrogoti bagian daun mulai dari tepi hingga bagian atas atau bawahnya bahkan hingga tersisa epidermisnya saja. Jika daun suatu tanaman rusak, maka tanaman tidak dapat fotosintesis dan tidak dapat meningkatkan produktivitas tanaman tersebut.

Serangga dewasa dari jenis Leucania Separata memiliki ukuran panjang bentangan sayap depan antara 45 – 50 mm dengan warna bervariasi antara merah bata sampai coklat. Serangga ini berumur 3 – 7 hari dan untuk seekor serangga betina ini dapat bertelur sebanyak 80 – 230 butir.

Serangga dewasa jenis Spodoptera litura F, memiliki ukuran panjang badan 20 – 25 mm, berumur 5 – 10 hari dan untuk seekor serangga betina jenis ini dapat bertelur 1.500 butir dalam kelompok-kelompok 300 butir. Serangga ini sangat aktif pada malam hari, sementara pada siang hari serangga dewasa ini diam ditempat yang gelap dan bersembunyi.

Serangga ini memiliki telur dengan bentuk bulat. Telur dari serangga Leucania separata susunannya diletakkan dalam 2 barisan dalam gulungan daun atau pada pangkal daun permukaan sebelah bawah, dengan ukuran 0,5 x 0,45 mm, berwarna putih abu-abu dan berubah menjadi kuning sebelum menetas. Sedangkan serangga Spodoptera susunan telurnya diletakkan dalam kelompok tiap kelompok tersusun oleh 2 – 3 lapisan telur, dan kelompok telur tertutup oleh bulu-bulu pendek berwarna coklat kekuningan dengan umur telur 3 – 4 hari.

Larva Leucania separata memiliki jumlah instar 6 dengan ukuran instar 1 panjang 1,8 mm dan instar 6 panjang 30 – 35 mm berwarna hijau sampai merah jambu dan berumur 14 – 22 hari. Pada bagian punggungnya terdapat 4 garis berwarna hitam yang membujur sepanjang badan. Larva Spodoptera litura F memiliki jumlah instar 5 dengan ukuran instar 1 panjang 1,0 mm dan instar 5 panjang 40 – 50 mm berwarna coklat sampai coklat kehitaman dengan bercak-bercak kuning dan berumur 20 – 26 hari. Sepanjang badan pada kedua sisinya masing-masing terdapat 2 garis coklat muda.

Serangga ulat Grayak perlu diwaspadai karena pada siang hari tidak tampak dan biasanya bersembunyi di tempat yang gelap dan didalam tanah, namun pada malam hari melakukan serangan yang hebat dan bahkan dapat menyebabkan kegagalan panen, mungkin itulah sebabnya maka serangga ini disebut sebagai ulat grayak.

Pada lahan sawah yang kering sering sekali terserang oleh hama ulat grayak oleh karena itu, untuk pengendalian ulat grayak ini kondisi tanah sawah hendaknya diari dan perlu pengamatan lebih awal agar tidak terjadi serangan yang hebat.

Pengamatan awal dapat dilakukan dengan cara apabila ada kupu-kupu atau ngengat serta terlihat adanya telur serangga dapat dilakukan dengan cara mekanis yaitu menangkap kupu-kupu dengan menggunakan jaring serta membunuh telur-telur serangga yang dijumpai.

Meskipun umur larva atau ulat grayak ini berkisar 20 – 26 hari, namun perlu diwaspadai karena larva atau ulat ini dapat menyerang hampir semua fase pertumbuhan tanaman termasuk padi pada semua stadium pertumbuhan.

Setelah 20 – 26 hari ulat ini hidup dan menyerang tanaman, maka ia akan berubah menjadi kepompong dan selanjutnya berubah jadi kupu-kupu. Kupu-kupu bertelur dan setelah 4 – 5 hari akan menetas menjadi ulat atau larva yang akan menyerang tanaman.

ULAT GRAYAK PADA BAWANG MERAH

Serangan ulat grayak pada tanaman bawang membuat petani resah. Bahkan saat Presiden RI Jokowi bertemu dengan petani bawang merah di Kecamatan Larangan Brebes, petani sempat mengadukan kegelisahan mereka.

Apa yang menyebabkan tanaman bawang petani terserang hama tersebut ? Dari hasil kajian Badan Penelitian Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian, ternyata kebiasaan petani bawang merah di Brebes yang kerap menyemprotkan pestisida membuat hama ulat grayak tersebut kebal terhadap pengendali hama (Sumber: Tabloid Sinar Tani, 14 April 2016)

Ulat bawang (Spodoptera exigua L.) atau petani kerap menyebut dengan ulat grayak ini merupakan ngengat dengan sayap depan berwarna kelabu gelap dan sayap belakang berwarna agak putih. Imago (ulat dewasa) betina biasanya meletakkan telur secara berkelompok pada ujung daun. Satu kelompok biasanya berkisar 50–150 butir.

Seekor betina mampu menghasilkan telur rata-rata 1.000 butir. Telur dilapisi bulu-bulu putih yang berasal dari sisik tubuh induknya. Telur berwarna putih, berbentuk bulat atau bulat telur (lonjong) berukuran 0,5 mm. Telur menetas dalam waktu 3 hari. Larva S.exigua berukuran panjang 2,5 cm dengan warna yang bervariasi. Ketika masih muda, larva berwarna hijau muda. Jika sudah tua berwarna hijau kecoklatan gelap dengan garis kekuningan-kuningan. Kehilangan hasil akibat serangan hama berkisar antara 20-100 persen.

Hama ulat grayak dapat merusak tanaman lainnya seperti: asparagus, kacang-kacangan, bit, brokoli, bawang putih, bawang merah, cabai, kentang, lobak, bayam dan tomat.

Banyak Cara

Teknologi pengendalian hama ulat grayak yang sering menyerang tanaman bawang merah sudah banyak diteliti. Misalnya dengan pemasangan lampu perangkap (light trap). Petani di wilayah Cirebon dan Brebes sudah banyak melaksanakannya.

Di samping itu juga dapat menggunakan Feromon Exi yang dapat diaplikasikan pada area pertanaman, setiap hektar dibutuhkan 12-24 perangkap. Feromon Exi ini dipasang mulai saat tanam dan dapat tahan sampai dua bulan atau satu musim tanam. Pengendalian hama menggunakan Feromon Exi merupakan pilihan yang tepat, karena selain biayanya jauh lebih murah, ramah lingkungan dan juga tidak membunuh serangga lain yang menjadi musuh alami bagi beberapa jenis hama tanaman. Waktu pemasangan Feromon Exi di lapangan sangat menentukan keberhasilan pengendalian hama tersebut.

Konsep pengendalian hama adalah untuk mengurangi serangga jantan dewasa (ngengat) sehingga serangga (ngengat) betina dewasa tidak menghasilkan telur. Oleh karena itu pemasangan Feromon Exi harus dilakukan satu minggu sebelum bibit bawang merah ditanam (baca: mengendalikan hama ulat bawang).

Pengendalian hama ulat grayak dapat juga menggunakan sungkup kain kasa. Cara ini dapat menekan populasi telur dan larva serta intensitas kerusakan tanaman yang secara tidak langsung juga mampu meningkatkan jumlah anakan, tinggi tanaman, jumlah daun, dan jumlah umbi bawang merah. Kelambu kasa plastik tahan sampai 6–8 musim tanam. Di daerah Probolinggo sudah banyak diterapkan petani.

Pengendalian secara manual dengan cara mengumpulkan telur-telur S.exigua dari daun bawang yang terserang kemudian dibuang atau dibenamkan ke dalam tanah. Pengendalian dengan menggunakan insektisida botani yang berasal dari ekstrak akar tuba dan ekstrak ketapang dapat digunakan untuk mengendalikan hama S.exigua dengan dosis 2-4cc/liter air.

Pengendalian dengan pestisida harus dilakukan dengan benar. Yakni, pemilihan jenis, dosis, volume semprot, cara aplikasi, interval maupun waktu aplikasinya dan per giliran tanaman dengan tanaman yang bukan inang S.exigu. Pengendalian hama dengan pestisida/insektisida tidak dianjurkan, selain dapat merusak lingkungan, membutuhkan biaya yang lebih besar juga dapat meninggalkan residu yang dalam jangka panjang bisa membahayakan bagi konsumen.

Ke depan untuk mengurangi serangan ulat grayak ada beberapa hal yang perlu dilakukan. Pertama, pengaturan peredaran pestisida oleh Pemda, termasuk di dalamnya rotasi peredaran pestisida. Kedua, memberikan pengajaran kepada petani tentang cara bijak pemanfaatan pestisida. Hal ini penting karena petani Brebes masih sangat sulit untuk dipisahkan dari pestisida. Ketiga, perlu dikenalkan teknologi pengendalian yang lain dalam koridor Pengendalian Hama Terpadu (PHT).

MENGENAL LEBIH DEKAT TENTANG FEROMON DAN MANFAATNYA

Feromon, berasal dari bahasa Yunani ‘phero’ yang artinya ‘pembawa’ dan ‘mone’ ‘sensasi’. Feromon merupakan sejenis zat kimia yang berfungsi untuk merangsang dan memiliki daya pikat seks pada hewan jantan maupun betina. Zat ini berasal dari kelenjar eksokrin dan digunakan oleh makhluk hidup untuk mengenali sesama jenis, individu lain, kelompok, dan untuk membantu proses reproduksi. Berbeda dengan hormon, feromon menyebar ke luar tubuh dan hanya dapat mempengaruhi dan dikenali oleh individu lain yang sejenis (satu spesies) (Anonim,2009).

Feromon Pada Beberapa Jenis Serangga

Serangga merupakan hama yang paling dominan menyerang tanaman antara lain padi, palawija, hortikultura, buah-buahan mulai dari benih, bibit, bunga, daun, akar, batang dan buah. Kurang lebih 1 juta spesies serangga telah dideskripsi dan hal ini merupakan petunjuk bahwa serangga merupakan mahluk hidup yang mendominasi bumi. Diperkirakan, masih ada sekitar 10 juta spesies serangga yang belum dideskripsi. Peranan serangga sangat besar dalam menguraikan bahan-bahan tanaman dan binatang dalam rantai makanan ekosistem dan sebagai bahan makanan mahluk hidup lain.

Walaupun ukuran badan serangga relatif kecil dibandingkan dengan vertebrata, kuantitasnya yang demikian besar menyebabkan serangga sangat berperan dalam biodiversity (keanekaragaman bentuk hidup) dan dalam siklus energi dalam suatu habitat. Ukuran tubuh serangga bervariasi dari mikroskopis (seperti Thysanoptera, berbagai macam kutu dll.) sampai yang besar seperti walang kayu, kupu-kupu gajah dsb. Dalam suatu habitat di hutan hujan tropika diperkirakan, dengan hanya memperhitungkan serangga sosial (jenis-jenis semut, lebah dan rayap), peranannya dalam siklus energi adalah 4 kali peranan jenis-jenis vertebrata (Tarumingkeng, 2001).

Ukuran badannya yang relatif kecil menyebabkan kebutuhan makannya juga relatif sedikit dan lebih mudah memperoleh perlindungan terhadap serangan musuhnya. Serangga juga memiliki kemampuan bereproduksi lebih besar dalam waktu singkat, dan keragaman genetik yang lebih besar. Dengan kemampuannya untuk beradaptasi, menyebabkan banyak jenis serangga merupakan hama tanaman budidaya, yang mampu dengan cepat mengembangkan sifat resistensi terhadap insektisida (Tarumingkeng, 2001).

Keanekaragaman yang tinggi dalam sifat-sifat morfologi, fisiologi dan perilaku adaptasi dalam lingkungannya, dan demikian banyaknya jenis serangga yang terdapat di muka bumi, menyebabkan banyak kajian ilmu pengetahuan, baik yang murni maupun terapan, menggunakan serangga sebagai model.

 

Kajian-kajian tentang komunikasi serangga menunjukkan bahwa terdapat senyawa-senyawa kimia yang berperan dalam komunikasi antar individu serangga, dan mekanisme dalam menemukan makanannya. Bahan kimia ini disebut feromon (pheromones) dan banyak di antaranya telah diidentifikasi dan diproduksi secara sintetik, misalnya bahan penarik (atraktan) untuk lawan jenis, atraktan agregasi (atraktan individu serangga sejenisnya) dan atraktan makanan. Feromon sintetik ini kini banyak digunakan untuk mengumpan serangga hama (kemudian diracuni dengan insektisida), mendeteksi adanya hama, mengestimasi kelimpahan dan untuk pengendalian. Feromon sintetik dalam pengendalian hama berfungsi membingungkan lawan jenis sehingga tidak memungkinkan terjadi perkawinan, dan berakibat pada penurunan populasi hama (Tarumingkeng, 2001).

Ketika pertama kali ditemukan pada serangga, feromon banyak dikaitkan dengan fungsi reproduksi serangga. Penemu zat feromon pertama kalinya pada hewan (serangga) adalah Jean-Henri Fabre, ketika pada satu musim semi tahun 1870 an pengamatannya pada ngengat ‘Great peacock’ betina keluar dari kepompongnya dan diletakkan di kandang kawat di meja studinya untuk beberapa lama menemukan bahwa pada pada malam harinya lusinan ngengat jantan berkumpul merubung kandang kawat di meja studinya. Fabre menghabiskan tahun-tahun berikutnya mempelajari bagaimana ngengat-ngengat jantan ‘menemukan’ betina-betinanya. Fabre sampai pada kesimpulan jika ngengat betina menghasilkan ‘zat kimia’ tertentu yang baunya menarik ngengat-ngengat jantan (Anonim,2009). Komunikasi melalui feromon sangat meluas dalam keluarga serangga. Feromon bertindak sebagai alat pemikat seksual antara betina dan jantan. Jenis feromon yang sering dianalisis adalah yang digunakan ngengat sebagai zat untuk melakukan perkawinan.

Jenis feromon berbeda-beda pada setiap jenis serangga baik sebagai hama pada tanaman tertentu maupun yang berperan pada tanaman tertentu, diantaranya seperti feromon sex, feromon agregasi, feromon jejak, feromon penunjuk jalan. Dalam hal ini akan dijelaskan lebih lanjut mengenai feromon dan feromon sex pada beberapa serangga.

Kupu-Kupu. Ketika kupu-kupu jantan atau betina mengepakkan sayapnya, saat itulah feromon tersebar di udara dan mengundang lawan jenisnya untuk mendekat secara seksual. Feromon seks memiliki sifat yang spesifik untuk aktivitas biologis dimana jantan atau betina dari spesies yang lain tidak akan merespons terhadap feromon yang dikeluarkan betina atau jantan dari spesies yang berbeda.

Rayap. Untuk dapat mendeteksi jalur yang dijelajahinya, individu rayap yang berada di depan mengeluarkan feromon penanda jejak (trail following pheromone) yang keluar dari kelenjar sternum (sternal gland di bagian bawah, belakang abdomen), yang dapat dideteksi oleh rayap yang berada di belakangnya. Sifat kimiawi feromon ini sangat erat hubungannya dengan bau makanannya sehingga rayap mampu mendeteksi obyek makanannya.  Di samping feromon penanda jejak, para pakar etologi (perilaku) rayap juga menganggap bahwa pengaturan koloni berada di bawah kendali feromon dasar (primer pheromones). Misalnya, terhambatnya pertumbuhan/ pembentukan neoten disebabkan oleh adanya semacam feromon dasar yang dikeluarkan oleh ratu, yang berfungsi menghambat diferensiasi kelamin. Segera setelah ratu mati, feromon ini hilang sehingga terbentuk neoten-neoten pengganti ratu. Tetapi kemudian neoten yang telah terbentuk kembali mengeluarkan feromon yang sama sehingga pembentukan neoten yang lebih banyak dapat dihambat. Feromon dasar juga berperan dalam diferensiasi pembentukan kasta pekerja dan kasta prajurit, yang dikeluarkan oleh kasta reproduktif. Dilihat dari biologinya, koloni rayap sendiri oleh beberapa pakar dianggap sebagai supra-organisma, yaitu koloni itu sendiri dianggap sebagai makhluk hidup, sedangkan individu-individu rayap dalam koloni hanya merupakan bagian-bagian dari anggota badan supra-organisma itu. Perbandingan banyaknya neoten, prajurit dan pekerja dalan satu koloni biasanya tidak tetap. Koloni yang sedang bertumbuh subur memiliki pekerja yang sangat banyak dengan jumlah prajurit yang tidak banyak (kurang lebih 2 – 4 persen). Koloni yang mengalami banyak gangguan, misalnya karena terdapat banyak semut di sekitarnya akan membentuk lebih banyak prajurit (7 – 10 persen), karena diperlukan untuk mempertahankan sarang.

Ngengat . Ngengat gipsi betina dapat mempengaruhi ngengat jantan beberapa kilometer jauhnya dengan memproduksi feromon yang disebut “disparlur”. Karena ngengat jantan mampu mengindra beberapa ratus molekul dari betina yang mengeluarkan isyarat dalam hanya satu mililiter udara, disparlur tersebut efektif saat disebarkan di wilayah yang sangat besar sekalipun.

Pada Semut dan Lebah Madu. Feromon memainkan peran penting dalam komunikasi serangga. Semut menggunakan feromon sebagai penjejak untuk menunjukkan jalan menuju sumber makanan. Bila lebah madu menyengat, ia tak hanya meninggalkan sengat pada kulit korbannya, tetapi juga meninggalkan zat kimia yang memanggil lebah madu lain untuk menyerang. Demikian pula, semut pekerja dari berbagai spesies mensekresi feromon sebagai zat tanda bahaya, yang digunakan ketika terancam musuh; feromon disebar di udara dan mengumpulkan pekerja lain. Bila semut-semut ini bertemu musuh, mereka juga memproduksi feromon sehingga isyaratnya bertambah atau berkurang, bergantung pada sifat bahayanya (Anonim,2009).

Kecoak. Kecoak betina menarik lawan jenisnya dengan cara mengeluarkan periplanon-B.

Di alam terdapat beribu-ribu spesies, yang pada suatu ketika betinanya melepas feromon seks sehingga terdapat berbagai senyawa feromon yang berhubungan dekat satu sama lain di udara. Ini berarti ngengat jantan harus mampu membedakan berbagai feromon dari spesies lain, dan menanggapi dengan tepat feromon spesiesnya sendiri.

Jenis-j enis Feromon

Menurut Sutrisno (2008), feromon dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, diantaranya :

-Feromon seks,
-Feromon jejak,
-Feromon alarm,
-Feromon agregasi,
-Feromon penanda wilayah dan penunjuk jalan, dll.

Feromon agregasi adalah feromon yang diperlukan untuk mengumpulkan anggota koloni atau pun individu dan mempengaruhi perilakunya sebagai suatu individu. Kegunaan feromon ini berkisar dari penunjang perilaku makan, mating, berlindung, oviposisi, sampai ke perilaku yang belum terdeteksi secara jelas. Ada yang berhubungan dengan musim (hibernasi), berhubungan dengan amplitudo harian (agregasi istirahat), berhubungan dengan stadia pertumbuhan (larva yang bersifat gregarius) dan perilaku mengumpul lainnya. Setelah sumberdaya yang sementara atau terbatas habis, maka agregasi akan terhenti dengan sendirinya (Winoto, 2009).

Feromon agregasi tersebar penggunaannya pada berbagai ordo seperti misalnya Orthoptera, Homoptera, Hemiptera, Coleoptera dan Hymenoptera. Familia yang paling banyak dipelajari adalah Scolytidae, Coleoptera; terutama pada kumbang kulit kayu; seperti genus Dendrocnotus dan Ips. Yang menarik, hampir semua feromon agregasi kumbang kulit kayu adalah monoterpen yang secara rumus bangun mirip dengan jenis yang dihasilkan oleh pohon inangnya. Reaksi agregasi merupakan tanggapan terhadap campuran molekul serupa yang saling menunjang efektivitas masing-masing. Komponen molekul serupa semacam itu membentuk suatu kerja kimia yang disebut sinergistik. Masing-masing senyawa sinergis mungkin cukup efektif sebagai molekul tunggal, tetapi lebih efektif jika bahan tersebut bercampur, jauh lebih efektif dibanding sekadar jumlah total efektivitas masing-masing (Winoto, 2009).

Feromon Alarm merupakan feromon yang dipergunakan untuk memperingatkan serangga terhadap bahaya yang datang, apakah itu predator atau bahaya lainnya. Tanggapannya dapat berupa membubarkan diri atau membentuk pertahanan koloni. Beberapa anggota familia Hemiptera dan serangga sosial menggunakan feromon ini untuk menghadapi bahaya. Bahan feromon ini pada afid misalnya, dikeluarkan melalui kornikulanya, yang mengandung bahan feromon alarm umumnya farnesen, dan menyebabkan afid yang berada di sekitarnya menjatuhkan diri, menjauh atau meloncat pergi (Winoto, 2009).

Fungsi Feromon

Ada beberapa fungsi feromon diantaranya :
1. Mempertemukan jantan dan betina kawin
2. Agregasi pada makanan
3. Oviposisi
4. Alarm bila diserang
5. Kontrol perilaku kasta dalam semut
6. Stimulasi migrasi
7. Menghindari multioposisi (Sutrisno, 2008).

Mekanisme Kerja Feromon

Feromon dikeluarkan melalui abdomen pada segmen ke 4 dan 5 pada serangga yang disekresikan oleh kelenjar eksokrin. Struktur senyawa feromon yaitu alkohol dan aldehid. Struktur senyawa yang dihasilkan bersifat spesifik sehingga reseptor yang dipunyai spesifik pula. Setelah sampai di antena serangga target, senyawa feromon tersebut akan dicapai ke otak melalui sel saraf dan barulah diterima oleh sel penerima.

Kebanyakan molekul feromon berasal dari senyawa biokhemis biasa seperti asam lemak atau asam amino. Isyarat feromon menempati ruang tertentu dan tinggal sampai beberapa saat lamanya. Apabila suatu feromon menguap keluar dari sumbernya, maka konsentrasinya akan semakin meningkat dengan semakin bertambahnya waktu. Seandainya tidak ada faktor lain seperti angin dan sebagainya, maka konsentrasi ini akan membentuk suatu ruang berisi konsentrasi feromon, dengan konsentrasi tertinggi pada sumber emisi dan makin menurun ke segala arah (Winoto, 2009).

Agar dapat menimbulkan rangsang, harus ada serangga lain yang menangkap isyarat ini. Kebanyakan tanggapan atas rangsang ini seragam, yakni apabila konsentrasi feromon telah melebihi kadar konsentrasi tertentu. Semakin dekat konsentrasi semakin tinggi, demikian pula semakin menjauh dari sumber emisi konsentrasi semakin rendah dan tidak mampu menimbulkan rangsang. Dengan demikian terbentuk semacam ruang tempat serangga lain menangkap isyarat atau rangsang kimiawi untuk kemudian bereaksi menanggapi rangsang tersebut. Ruang semacam ini oleh Wilson dan Bossert disebut sebagai “ruang aktif” atau “active space”(Winoto, 2009).

Jika feromon dilepas dalam jangka waktu cukup lama, maka ruang aktif akan menjadi cukup besar. Ruang aktif yang lebih besar diperlukan bila penerima memiliki alat deteksi isyarat yang tak terlampau peka dibanding bila penerima memiliki alat yang peka. Dengan mengubah-ubah laju emisi, kepekaan penerima dan jenis isyarat yang dikeluarkan, maka serangga dapat mencapai tujuan komunikasi kimiawi berhubungan dengan perilaku tertentu.

Ada feromon yang mampu menarik serangga jenis kelamin lain pada jarak yang cukup jauh, ada pula yang bekerja pada jarak dekat dan penerima menanggapinya dengan serangkaian perilaku “courtship” atau mencari pasangan. Feromon seperti ini tidak diproduksi terus menerus, tetapi hanya ketika serangga telah mencapai usia cukup dewasa untuk kawin, dan bahkan itu pun pada saat tertentu saja. Telah cukup banyak jenis feromon seks yang dipelajari para peneliti, terutama karena mengubah perilaku kawin merupakan strategi yang cukup dapat diandalkan dalam rangka pengelolaan hama. Penelitian seperti ini pada mulanya berangkat dari usaha menemukan dan menjelaskan molekul feromonnya secara deskriptif, dan ketika jenis dan jumlah molekul yang diperoleh semakin banyak, penelitiannya bergeser ke arah analisis rinci dan kejelasan mekanisme kerja feromon (Winoto, 2009).

Pada mulanya diduga bahwa masing-masing spesies memiliki kekhasan molekul feromon seks yang dipergunakan untuk memikat lawan jenisnya. Molekul ini diduga khas, unik dan menimbulkan rangsang bagi lawan jenis dalam spesies yang sama, tidak pada serangga lain. Pada kenyataannya yang terdapat di alam ternyata jauh lebih menarik dan lebih kompleks dari dugaan tersebut. Kebanyakan feromon merupakan campuran kompleks dari beberapa senyawa penimbul bau, dan campuran aroma demikian memiliki perbedaan arti yang dapat cukup luas hanya karena sedikit perbedaan kadar campurannya. Karena jenisnya yang menjadi beratus-ratus (atau bahkan beribu-ribu) oleh bentukan campuran senyawanya, maka di sini hanya akan diketengahkan contoh feromon seks pada ulat sutera dan kupu-kupu ratu saja (Winoto, 2009).

Aplikasi Untuk Kebutuhan Manusia

Aplikasi di bidang biokimia, misalnya dalam pembuatan feromon sebagai pestisida. Jika feromon in dilepas ke udara dalam jumlah besar sehingga melampaui batas deteksi indera penciuman serangga jantan, maka perkawinan akan terhambat sehingga populasi serangga yang biasanya menjadi hama bisa diturunkan. Karena merupakan zat alami, feromon tidak merusak lingkungan, sehingga secara teori cara seperti ini jauh lebih aman daripada menggunakan racun seperti DDT. Masalahnya, struktur feromon seringkali sangat rumit dan sulit disintesis, namun kini bisa banyak terbantu oleh reaksi metatesis.

Produksi feromon sebagai pembasmi hama melalui reaksi metatesis sudah dilakukan misalnya pada nyamuk Culex. Nyamuk betina dari spesies ini biasanya melepas suatu feromon ketika mereka bertelur, untuk menarik nyamuk betina lainnya agar bertelur di tempat yang sama. Feromon ini, (5R,6S)-6-asetoksi-5-heksadekanolida, sudah berhasil diproduksi secara massal dan diharapkan bisa digunakan untuk menjebak nyamuk betina Culexke dalam suatu perangkap. Diharapkan, langkah ini bisa mencegah penyebaran penyakit West Nile Virusyang dibawa oleh nyamuk spesies ini.

Feromon-Exi

Feromon-Exi berupa atraktan feromon seks yang khusus untuk mengendalikan ulat bawang (Spodoptera exigua). Untuk memudahkan penggunaan, Feromon-Exi diresapkan pada karet berbentuk silinder, dengan ukuran panjang dan diameter kurang dari 1 cm.

Hama ulat bawang (Spodoptera sp.) hingga saat ini masih menjadi momok bagi petani Bawang Merah di Indonesia. Tidaklah heran jika petani bersedia menyediakan biaya yang cukup besar untuk mengendalikan dan membasminya. Meski serangga ulat bawang dewasa hanya kawin satu kali selama hidupnya, namun serangga ulat bawang betina mampu menghasilkan telur 500 -1.000 butir/ ekor dari setiap perkawinannya. Dapat dibayangkan tanpa pengendalian yang tepat, peningkatan populasi akan berlipat dengan cepat.

Murah dan Ramah Lingkungan

Dibandingkan dengan cara pengendalian hama ulat bawang konvensional, penggunaan Feromon-Exi memiliki beberapa kelebihan yaitu :

  • Ramah lingkungan, tidak beracun dan tidak meninggalkan residu
  • Bersifat selektif untuk spesies hama tertentu saja, tdaik membunuh musuh alami
  • Menekan populasi hama secara nyata
  • Lebih murah
  • Mudah diterapkan

Pengendalian hama konvensional umumnya mahal dan berpotensi mencemari lingkungan. Biasanya dalam satu musim tanam dilakukan penyemprotan insektisida hingga 12 kali (untuk mengendalikan ulat bawang) dan 3 kali (untuk mengendalikan Grandong). Berarti penyemprotan insektisida dilakukan setiap 2-3 hari sekali, dengan biaya mencapai Rp 6 juta per hektar per musim. Petani besar menambah lagi dengan penggunaan perangkap lampu yang membutuhkan biaya sekitar Rp 1-2 juta per hektar per musim tanam.

Feromon-Exi, dalam semalam mampu menangkap tidak kurang dari 200-an serangga jantan dalam setiap perangkap. Berarti selama 50 hari (satu musim tanam bawang), dengan menggunakan 12 perangkap per hektar, dapat ditangkap hingga ribuan ekor serangga ulat bawang. Penggunaan Feromon-Exi, mengurangi penyemprotan insektisida cukup dilakukan 3 kali saja (untuk mengendalikan ulat bawang) dan 3 kali (untuk mengendalikan Grandong), dan tidak lagi diperlukan perangkap lampu. Biaya pengendalian hama dapat dihemat Rp 4 juta per hektar per musim tanam.

Menggunakan alat bantu yaitu perangkap  stoples plastik yang diberi lubang jendela. Di dalam stoples, digantungkan karet atraktan Feromon-Exi dan diberikan air dibagian dasar stoples. Kemudian perangkap stoples ditempatkan pada areal tanaman bawang merah, berjarak 15 m, pada ketinggian 40 cm di atas permukaan tanah.

Serangga Spodoptera exigua jantan akan terpikat mendatangi perangkap dan terperangkap di air di dasar stoples. Petani dapat memeriksa serangga Spodoptera exigua yang tertangkap dengan mudah setiap saat dan mengganti air di dalam stoples.

Perangkap Feromon-Exi untuk pemasangan individu diperlukan sekitar 20 perangkap per hektar. Jika pemasangan secara bersama-sama pada satu hamparan yang cukup luas, jumlah perangkap Feromon-Exi cukup 12 perangkap per hektar.

Produksi Feromon Exi

Saat ini Feromon-Exi sudah diproduksi secara komersial oleh CV NUSAGRI dan sudah memperoleh Izin melalui Keputusan Menteri Pertanian No. 128/Kpts/SR.140/1/2012, tertanggal 17 Januari 2012. Bagi yang berminat mendapatkan produk tersebut dapat mengubungi Sdr. Alan (Bandung, Jawa Barat), Hp. 08122128596, email: arsasaputra72@gmail.com. pesanan dapat dikirim via JNE, TIKI atau melalui Pos.

BUDIDAYA TANAMAN KOPI

Kopi merupakan komoditas perkebunan yang paling banyak diperdagangkan. Pusat-pusat budidaya kopi ada di Amerika Latin, Amerika Tengah, Asia-pasifik dan Afrika. Sedangkan konsumen kopi terbesar ada di negara-negara Eropa dan Amerika     Utara. Wajar bila komoditas ini sangat aktif diperdagangkan. Kopi merupakan tanaman tahunan yang bisa mencapai umur produktif selama 20 tahun. Untuk memulai usaha budidaya kopi, pilihlah jenis tanaman kopi dengan cermat. Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan budidaya kopi diantaranya jenis tanaman, teknik budidaya, penanganan pasca panen dan Pemasaran produk akhir.

Pemilihan jenis dan varietas

Tanaman kopi sangat banyak jenisnya, bisa mencapai ribuan. Namun yang banyak dibudidayakan hanya empat jenis saja yakni arabika, robusta, liberika dan excelsa. Masing-masing jenis tersebut memiliki sifat yang berbeda-beda. Untuk lebih detailnya silahkan baca mengenal jenis-jenis kopi budidaya.

Memilih jenis tanaman untuk budidaya kopi, harus disesuaikan dengan tempat atau lokasi lahan. Lokasi lahan yang terletak di ketinggian lebih dari 800 meter dpl cocok untuk ditanami arabika. Sedangkan dari ketinggian 400-800 meter bisa ditanami robusta. Budidaya kopi didataran rendah bisa mempertimbangkan jenis liberika atau excelsa.

Selain dari sisi teknis budidaya, hal yang patut dipertimbangkan adalah harga jual produk akhir. Kopi arabika cenderung dihargai lebih tinggi dari jenis lainnya. Namun robusta memiliki produktivitas yang paling tinggi, rendemennya juga tinggi.

Penyiapan bibit budidaya kopi

Setelah memutuskan budidaya kopi yang cocok, langkah selanjutnya adalah mencari bibit yang unggul, menyiapkan lahan dan pohon peneduh. Informasi mengenai bibit unggul untuk budidaya kopi bisa ditanyakan ke Puslit Kopi dan Kakao atau toko bibit terpercaya. Sementara itu, pohon peneduh harus sudah disiapkan setidaknya 2 tahun sebelum budidaya kopi dilaksanakan.

Untuk budidaya kopi arabika sumber tanaman yang digunakan adalah varietas. Contohnya adalah varietas S 795, USDA 762, Kartika-1 dan Kartika-2. Sedangkan untuk budidaya kopi robusta sumber tanaman yang digunakan dalah klon. Contohnya klon BP 42 atau BP 358.

Perbanyakan bibit pohon kopi bisa didapatkan dengan teknik generatif dan vegetatif. Perbanyakan generatif dari biji biasanya digunakan untuk budidaya kopi arabika, sedangkan kopi robusta lebih sering menggunakan perbanyakan vegetatif dengan setek. Masing-masing metode perbanyakan bibit mempunyai keunggulan dan kelemahan sendiri-sendiri. Lebih detailnya silahkan baca artikel terdahulu tentang perbanyakan bibit kopi dengan biji dan perbanyakan bibit kopi dengan setek.

Penyiapan lahan dan pohon peneduh

Budidaya kopi bisa dilakukan baik didataran tinggi maupun rendah, tergantung dari jenisnya. Secara umum kopi menghendaki tanah gembur yang kaya bahan organik. Untuk menambah kesuburan berikan pupuk organik dan penyubur tanah di sekitar area tanaman. Arabika akan tumbuh baik pada keasaman tanah 5-6,5 pH, sedangkan robusta pada tingkat keasaman 4,5-6,5 pH.

Hal yang harus disiapkan sebelum memulai budidaya kopi adalah menanam pohon peneduh. Guna pohon peneduh untuk mengatur intensitas cahaya matahari yang masuk. Tanaman kopi termasuk tumbuhan yang menghendaki intensitas cahaya mataheri tidak penuh.

Jenis pohon peneduh yang sering digunakan dalam budidaya kopi adalah dadap, lamtoro dan sengon. Pilih pohon pelindung yang tidak membutuhkan banyak perawatan dan daunnya bisa menjadi sumber pupuk hijau.

Pohon pelindung jenis sengon harus ditanam 4 tahun sebelum budidaya kopi. Sedangkan jenis lamtoro bisa lebih cepat, sekitar 2 tahun sebelumnya. Tindakan yang diperlukan untuk merawat pohon pelindung adalah pemangkasan daun dan penjarangan.

Penanaman bibit kopi

Apabila lahan, pohon peneduh dan bibit sudah siap, langkah selanjutnya adalah memindahkan bibit dari polybag ke lubang tanam di areal kebun. Jarak tanam budidaya kopi yang dianjurkan adalah 2,75×2,75 meter untuk robusta dan 2,5×2,5 meter untuk arabika. Jarak tanam ini divariasikan dengan ketinggian lahan. Semakin tinggi lahan semakin jarang dan semakin rendah semakin rapat jarak tanamnya.

Buat lubang tanam dengan ukuran 60x60x60 cm, pembuatan lubang ini dilakukan 3-6 bulan sebelum penanaman. Saat penggali lubang tanam pisahkan tanah galian bagian atas dan tanah galian bagian bawah. Biarkan lubang tanam tersebut terbuka. Dua bulan sebelum penanaman campurkan 200 gram belerang dan 200 gram kapur dengan tanah galian bagian bawah. Kemudian masukkan kedalam lubang tanam. Sekitar 1 bulan sebelum bibit ditanam campurkan 20 kg pupuk kompos dengan tanah galian atas, kemudian masukkan ke lubang tanam.

Kini bibit kopi siap ditanam dalam lubang tanam. Sebelumnya papas daun yang terdapat pada bibit hingga tersisa ⅓ bagian untuk mengurangi penguapan. Keluarkan bibit kopi dari polybag, kemudian gali sedikit lubang tanam yang telah dipersiapkan. Kedalaman galian menyesuaikan dengan panjang akar. Bagi bibit yang memiliki akar tunjang usahakan agar akar tanaman tegak lurus. Tutup lubang tanam agar tanaman berdiri kokoh, bila diperlukan beri ajir untuk menopang tanaman agar tidak roboh.

Perawatan budidaya kopi

Langkah yang diperlukan untuk pemeliharaan budidaya kopi adalah penyulaman, pemupukan pemangkasan dan penyiangan. Berikut penjelasannya:

Peyulaman

Setelah bibi ditanam di areal kebun, periksa pertumbuhan bibit tersebut setidaknya seminggu dua kali. Setelah bibit berumur 1-6 bulan periksa sedikitnya satu bulan sekali. Selama periode pemeriksaan tersebut, bila ada kematian pada pohon kopi segera lakukan penyulaman. Penyulaman dilakukan dengan bibit yang sama. Lakukan perawatan yang lebih instensif agar tanaman penyulam bisa menyamai pertumbuhan pohon lainnya.

Pemupukan

Pemberian pupuk untuk budidaya kopi bisa menggunakan pupuk organik atau pupuk buatan. Pupuk organik bisa didapatkan dari bahan-bahan sekitar kebun seperti sisa-sisa hijauan dari pohon pelindung atau kulit buah kopi sisa pengupasan kemudian dibuat menjadi kompos. Kebutuhan pupuk untuk setiap tanaman sekitar 20 kg dan diberikan sekitar 1-2 tahun sekali.

Cara memberikan pupuk dengan membuat lubang pupuk yang mengitari tanaman. Kemudian masukkan kompos kedalam lubang pupuk tersebut. Bisa juga dicampurkan pupuk buatan kedalam kompos. Untuk tanah yang asam dengan pH dibawah 4,5 pemberian pupuk dicampur dengan setengah kilogram kapur. Pemerian kapur dilakukan 2-4 tahun sekali.

Untuk memperkaya bahan organik areal perkebunan bisa ditanami dengan tanaman penutup tanah. Tanaman yang biasa dijadikan penutup tanah dalam budidaya kopi diantaranya bunguk (Mucuna munanease) dan kakacangan (Arachis pintol). Tanaman penutup tanah berfungsi sebagai pelindung dan penyubur tanah, selain itu hijauannya bisa dijadikan sumber pupuk organik.

Pemangkasan pohon

Terdapat dua tipe pemangkasan dalam budidaya kopi, yaitu pemangkasan berbatang tunggal dan pemangkasan berbatang ganda. Pemangkasan berbatang tunggal lebih cocok untuk jenis tanaman kopi yang mempunyai banyak cabang sekunder semisal arabika. Pemangkasan ganda lebih banyak diaplikasikan diperkebunan rakyat yang menanam robusta. Pemangkasan ini lebih sesuai pada perkebunan di daerah dataran rendah dan basah.

Berdasarkan tujuannya, pemangkasan dalam budidaya kopi dibagi menjadi tiga macam yaitu:

  • Pemengkasan pembentukan, bertujuan membentuk kerangka tanaman seperti bentuk tajuk, tinggi tanaman dan tipe percabangan.
  • Pemangkasan produksi, bertujuan memangkas cabang-cabang yang tidak produktif atau cabang tua. Hal ini dilakukan agar tanaman lebih fokus menumbuhkan cabang yang produktif. Selain itu, pemangkasan ini juga untuk membuang cabang-cabang yang terkena penyakit atau hama.
  • Pemangkasan peremajaan, dilakukan pada tanaman yang telah mengalami penurunan produksi, hasil kuranng dari 400 kg/ha/tahun atau bentuk tajuk yang sudah tak beraturan. Pemangkasan dilakukan setelah pemupukan untuk menjaga ketersediaan nutrisi.

Penyiangan Gulma

Tanaman kopi harus selalu bersih dari gulma, terutama saat tanaman masih muda. Lakukan penyiangan setiap dua minggu, dan bersihkan gulma yang ada dibawah tajuk pohon kopi. Apabila tanaman sudah cukup besar, pengendalian gulma yang ada diluar tajuk tanaman kopi bisa memanfaatkan tanaman penutup tanah. Penyiangan gulma pada tanaman dewasa dilakukan apabila diperlukan saja.

Hama dan penyakit

Lahan budidaya kopi yang terserang hama dan penyakit akan mengalami penurunan produktivitas, kualitas mutu kopi dan bahkan kematian tanaman. Beberapa hama dan penyakit yang umum menyerang tanam kopi adalah sebagai berikut:

  • Hama penggerek buah kopi. Menyerang tanaman muda maupun tua. Akibat serangan buah akan berguguran atau perkembangan buah tidak normal dan membusuk. Pengendalian bisa hama ini adalah dengan meningkatkan sanitasi kebun, pemapasan pohon naungan, pemanenan buah yang terserang, dan penyemprotan kimia.
  • Penyakit karat daun (HV). Biasanya menyerang tanaman arabika. Gejala serangannya bisa dilihat dari permukaan daun yang mengalami bercak kuning, semakin lama menjadi kuning tua. Bisa dihindari dengan menanam kopi arabika diatas ketinggian 1000 meter dpl. Pengendalian lainnya bisa dilakukan dengan penyemprotan kimia, memilih varietas unggul, dan kultur teknis.
  • Penyakit serangan nematoda. Banyak ditemui di sentra-sentra perkebunan kopi robusta. Serangan ini bisa menurunkan produksi hingga 78%. Pengendalian penyakit ini bisa dilakukan dengan menyambung tanaman dengan batang bawah yang tahan nematoda.

Untuk lebih detail mengenai hama dan penyakit pada tanaman kopi silahkan baca artikel pengendalian hama dan penyakit kopi.

Panen dan pasca panen

Tanaman yang dibudidayakan secara intensif sudah bisa berbuah pada umur 2,5-3 tahun untuk jenis robusta dan 3-4 tahun untuk arabika. Hasil panen pertama biasanya tidak terlalu banyak, produktivitas tanaman kopi akan mencapai puncaknya pada umur 7-9 tahun.

Panen budidaya kopi dilakukan secara bertahap, panen raya bisa terjadi dalam 4-5 bulan dengan interval waktu pemetikan setiap 10-14 hari. Pemanenan dan pengolahan pasca panen akan menentukan mutu produk akhir. Selanjutnya silahkan baca artikel cara memanen buah kopi dan proses pengolahan biji kopi. http://alamtani.com/budidaya-kopi.html

 

KEAJAIBAN SHOLAT TAHAJJUD

Sholat Tahajjud ternyata tak hanya membuat seseorang yang melakukannya mendapatkan tempat (maqam) terpuji di sisi Allah (Qs Al-Isra:79), tapi juga sangat penting bagi dunia kedokteran. Menurut hasil penelitian Mohammad Sholeh, dosen IAIN Surabaya, salah satu shalat sunah itu bisa membebaskan seseorang dari serangan infeksi dan penyakit kanker. Tidak percaya? Cobalah Anda rajin-rajin sholat tahajjud. “Jika anda melakukannya secara rutin, benar, khusuk, dan ikhlas, niscaya Anda terbebas dari infeksi dan kanker”. Ucap Sholeh. Ayah dua anak itu bukan’tukang obat’ jalanan. Dia melontarkan pernyataanya itu dalam desertasinya yang berjudul ‘Pengaruh Sholat tahajjud terhadap peningkatan Perubahan Response ketahanan Tubuh Imonologik: Suatu Pendekatan Psiko-neuroimunologi”

Dengan desertasi itu, Sholeh berhasil meraih gelar doktor dalam bidang ilmu kedokteran pada Program Pasca Sarjana Universitas Surabaya, yang dipertahankannya Selasa pekan lalu. Selama ini, menurut Sholeh, tahajjud dinilai hanya merupakan ibadah salat tambahan atau sholat sunah. Padahal jika dilakukan secara kontinu, tepat gerakannya, khusuk dan ikhlas, secara medis
sholat itu menumbuhkan respons ketahanan tubuh (imonologi) khususnya pada imonoglobin M, G, A dan limfosit-nya yang berupa persepsi dan motivasi positif, serta dapat mengefektifkan kemampuan individu untuk menanggulangi masalah yang dihadapi (coping).

Sholat tahajjud yang dimaksudkan Sholeh bukan sekedar menggugurkan status sholat yang muakkadah (Sunah mendekati wajib). Ia menitikberatkan pada sisi rutinitas sholat, ketepatan gerakan, kekhusukan, dan keikhlasan. Selama ini, kata dia, ulama melihat masalah ikhlas ini sebagai persoalan mental psikis. Namun sebetulnya soal ini dapat dibuktikan dengan tekhnologi kedokteran. Ikhlas yang selama ini dipandang sebagai misteri,dapat dibuktikan secara kuantitatif melalui sekresi hormon kortisol.

Parameternya, lanjut Sholeh, bisa diukur dengan kondisi tubuh. Pada kondisi normal, jumlah hormon kortisol pada pagi hari normalnya antara 38-690 nmol/liter. Sedang pada malam hari-atau setelah pukul 24:00 normalnya antara 69-345 nmol/liter. “Kalau jumlah hormon kortisolnya normal, bisa diindikasikan orang itu tidak ikhlas karena tertekan. Begitu sebaliknya. Ujarnya seraya menegaskan temuannya ini yang membantah paradigma lama yang menganggap ajaran agama (Islam) semata-mata dogma atau doktrin.

Sholeh mendasarkan temuannya itu melalui satu penelitian terhadap 41 responden sisa SMU Luqman Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah, Surabaya.Dari 41 siswa itu, hanya 23 yang sanggup bertahan menjalankan sholat tahajjud selama sebulan penuh. Setelah diuji lagi, tinggal 19 siswa yang bertahan sholat tahjjud selama dua bulan. Sholat dimulai pukul 02-00-3:30 sebanyak 11* rakaat, masing masing dua rakaat empat kali salam plus tiga rakaat.

Selanjutnya, hormon kortisol mereka diukur di tiga laboratorium di Surabaya (paramita, Prodia dan Klinika). Hasilnya,ditemukan bahwa kondisi tubuh seseorang yang rajin bertahajjud secara ikhlas berbeda jauh dengan orang yang tidak melakukan tahajjud. Mereka yang rajin dan ikhlas bertahajud memiliki ketahanan tubuh dan kemampuanindividual untuk menaggulangi masalah-masalah yang dihadapi dengan stabil.

“Jadi sholat tahajjud selain bernilai ibadah, juga sekaligus sarat dengan muatan psikologis yang dapat mempengaruhi kontrol kognisi. Dengan cara memperbaiki persepsi dan motivasi positif dan coping yang efectif, emosi yang positif dapat menghindarkan seseorang dari stress,”Nah, menurut Sholeh, orang stress itu biasanya rentan sekali terhadap penyakit kanker dan infeksi. Dengan sholat tahajjud yang dilakukan secara rutin dan disertai perasaan ikhlas serta tidak terpaksa, seseorang akan memiliki respons imun yang baik, yang kemungkinan besar akan terhindar dari penyakit infeksi dan kanker. Dan, berdasarkan hitungan tekhnik medis menunjukan, sholat tahajjud yang dilakukan seperti itu membuat orang mempunyai ketahanan tubuh yang baik. Sebuah bukti bahwa keterbatasan otak manusia tidak mampu mengetahui semua rahasia atas rahmat, nikmat,anugrah yang diberikan oleh ALLAH kepadanya.

Haruskah kita menunggu untuk bisa masuk diakal kita??????? Seorang Doktor di Amerika telah memeluk Islam karena beberapa keajaiban yang di temuinya di dalam penyelidikannya. Ia amat kagum dengan penemuan tersebut sehingga tidak dapat diterima oleh akal fikiran. Dia adalah seorang Doktor Neurologi. Setelah memeluk Islam dia amat yakin pengobatan secara Islam dan oleh sebab itu ia telah membuka sebuah klinik yang bernama “Pengobatan Melalui Al Qur’an” Kajian pengobatan melalui Al-Quran menggunakan obat-obatan yang digunakan seperti yang terdapat didalam Al-Quran. Di antara berpuasa, madu, biji hitam (Jadam) dan sebagainya.

Ketika ditanya bagaimana dia tertarik untuk memeluk Islam maka Doktor tersebut memberitahu bahwa sewaktu kajian saraf yang dilakukan, terdapat beberapa urat saraf di dalam otak manusia ini tidak dimasuki oleh darah. Padahal setiap inci otak manusia memerlukan darah yang cukup untuk berfungsi secara yang lebih normal. Setelah membuat kajian yang memakan waktu akhirnya dia menemukan bahwa darah tidak akan memasuki urat saraf di dalam otak tersebut melainkan ketika seseorang tersebut bersembahyang yaitu ketika sujud. Urat tersebut memerlukan darah untuk beberapa saat tertentu saja. Ini artinya darah akan memasuki bagian urat tersebut mengikut kadar sembahyang 5 waktu yang diwajibkan oleh Islam.

Begitulah keagungan ciptaan Allah. Jadi barang siapa yang tidak menunaikan sembahyang maka otak tidak dapat menerima darah yang secukupnya untuk berfungsi secara normal. Oleh karena itu kejadian manusia ini sebenarnya adalah untuk menganut agama Islam “sepenuhnya” karena sifat fitrah kejadiannya memang telah dikaitkan oleh Allah dengan agamanya yang indah ini. (http://hermansuryantoadaapahariini.wordpress.com)

PERTEMUAN KOORDINASI PROGRAM PUAP 2014 DI KABUPATEN KUNINGAN

Pertemuan koordinasi program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) 2014 dihadiri oleh Penyelia Mitra Tani (PMT) PUAP kabupaten Indramayu, Cirebon, Kuningan, Majalengka, Kota Cirebon, Ketua Gapotan PUAP TA. 2014 kabupaten Kuningan, Kepala Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP4K) dan anggota Tim Teknis PUAP kabupaten Kuningan serta Tim Sekretariat PUAP Provinsi/BPTP Jawa Barat. Pertemuan dilaksanakan pada tanggal 24 April 2014 bertempat di Gapoktan Mulya Jaya, Kampung Cilengek Rt/Rw 013/003 desa Babakan Mulya, kecamatan Jalaksana, kabupaten Kuningan dengan agenda utama mensosialisasikan dan membahas pelaksanaan program PUAP 2014, tupoksi dan perpanjangan kontrak kerja PMT 2014 serta perkembangan pelaksanaan pendampingan di masing-masing kabupaten/kota dan penyaluran dana pada Gapoktan PUAP TA. 2014 tahap ke satu di kabupaten Kuningan. Acara dibuka oleh Kepala BP4K Kabupaten Kuningan dan pengarahan dari Sekertaris Tim Pembina PUAP Provinsi Jawa Barat. Beberapa rumusan hasil pertemuan, antara lain:
1. PMT agar melaksanakan tugasnya selama 12 bulan, walaupun honornya hanya dibayarkan selama 8 bulan (Maret – Oktober).
2. PMT wajib menyampaikan laporan manual bulanan sebagai pertanggungjawaban dan bukti pelaksanaan tugas pendampingan paling lambat tanggal 10 setiap bulan berikutnya, dimulai dari bulan Januari sampai Desember 2014.
3. Bagi PMT yang belum menyampaikan rekap laporan bulanan PUAP tahun 2008 sampai 2013 (data sampai Desember 2013) agar segera menyerahkan filenya atau dikirim melalui email ke sekretariat PUAP provinsi Jawa Barat.
4. Apabila PMT tidak melaksanakan kewajiban sesual dengan Pedoman Umum/Petunjuk Teknis PUAP dan isi kontrak kerja yang telah disepakati, maka akan dikenakan sangsi berupa:
a. Penundaan pembayaran honor kerja;
b. Penghentian pembayaran honor kerja;
c. Pemutusan hubungan kerja.
5. Biaya Operasional Penyeliaan (BOP) dan ATK PMT akan diusulkan pembayarannya, apabila:
a. PMT membuat rencana kerja selama pelaksanaan penyeliaan/pendampingan;
b. Membuat laporan hasil kerja penyeliaan terhadap gapoktan dalam buku kerja
(work book) yang ditandatangani dan di syahkan (stempel) oleh pengurus
gapoktan dan Tim Teknis kabupaten/kota;
c. Menyerahkan softcopy dan hardcopy laporan bulanan, sesuai format yang
telah disediakan ke Sekretariat PUAP Provinsi Jawa Barat setiap tanggal 14.
c. Menyerahkan dokumen administrasi keuangan kepada koordinator pembina PUAP yang berada di Sekretariat PUAP Provinsi (BPTP), untuk penanggung jawaban Biaya Operasional Penyeliaan (BOP);
d. Mendapat rekomendasi dari Koordinator Pembina PMT tingkat Provinsi (BPTP);
e. Mengisi absensi kehadiran yang ditempatkan di kantor Dinas Pertanian atau Badan Penyuluhan kabupaten/kota setempat dan diketahui Ketua Tim Teknis PUAP kabupaten/kota.
6. Dana BLM-PUAP 2014 yang sudah masuk rekening gapoktan dapat disalurkan/ dipinjamkan ke anggota, apabila:
a. Pengurus Gapoktan (Ketua dan Bendahara) sudah mendapat pelatihan/
pembekalan tentang pengelolaan dana PUAP dan aturan main/persyaratannya
oleh Tim Teknis PUAP Kabupaten/Kota.
b. Penyaluran dana PUAP ke anggota harus diketahui oleh Tim Teknis PUAP
Kabupaten/Kota atau oleh PMT dan Penyuluh Pendamping.
d. Dalam rangka mengantisipasi kemacetan pinjaman anggota, diharapkan tiap gapoktan sudah memiliki AD/ART yang jelas dan diperlukan peran aktif pengurus untuk menyeleksi anggota calon peminjam dana BLM PUAP yaitu sesuai dengan jenis usaha dan kredibilitas dari calon peminjam. Diakhir tahun pengurus wajib mempertanggungjawabkan hasil pengelolaan dana BLM PUAP dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT) gapoktan untuk mengetahui sejauh mana perkembangan dana BLM-PUAP tersebut.

(Alan RS)

ADAPTASI BEBERAPA VARIETAS UNGGUL TEBU DI KABUPATEN MAJALENGKA JAWA BARAT

Abstrak: Adaptasi Beberapa Varietas Tebu di Wilayah Majalengka, Jawa Barat. Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Mei 2013 sampai dengan Januari 2014 di Kecamatan Panyingkiran, Kabupaten Majalengka yang merupakan salah satu sentra tebu di Jawa Barat. Penelitian bertujuan untuk memperoleh varietas unggul tebu dengan produksi dan rendemen yang tinggi. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 6 perlakuan varietas tebu yaitu, 5 varietas tebu unggul dan 1 varietas pembanding (eksisting) dan diulang 4 kali. Adapun ke 6 (enam) varietas tebu unggul (V) tersebut, yaitu: V1 = PS 64, V2 = PS 862, V3 = PS 881, V4 = PSJT 941, V5 = Kidang Kencana, dan V6 = Bulu Lawang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas PS 864, PSJT 941, dan Bulu Lawang memiliki produksi yang tinggi yaitu, masing-masing 96.86 ton/ha, 91,27 ton/ha dan 93,24 ton/ha dengan kadar gula masing-masing sebesar 13,5%, 15,1% dan 12,9%. Varietas PS 862, PS 881 dan Kidang Kencana memiliki kadar gula relatif tinggi masing-masing sebesar 13,4%, 13,8% dan 14,8% tetapi produktivitasnya relatif rendah masing-masing sebanyak 81.96 ton/ha, 74,79 ton/ha dan 78,29 ton/ha.

(Yanto Surdianto, Nandang Sunandar dan Alan Rachmat S, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Barat, Jl. Kayu Ambon No. 80 Lembang, Bandung)