TENTANG ULAT GRAYAK (Spodoptera Litura F)

Ulat grayak ini menyerang tanaman padi pada semua stadia. Serangan terjadi biasanya pada malam hari sedangkan siang harinya larva ulat grayak bersembunyi pada pangkal tanaman, dalam tanah atau di tempat-tempat yang tersembunyi. Seranga ulat ini memakan helai-helai daun dimulai dari ujung daun dan tulang daun utama ditinggalkan sehingga tinggal tanaman padi tanpa helai daun. Pada tanaman yang telah membentuk malai, ulat grayak seringkali memotong tangkai malai, bahkan ulat grayak ini juga menyerang padi yang sudah mulai menguning . Batang padi yang mulai menguning itu membusuk dan mati yang akhirnya menyebabkan kegagalan panen. Serangan saat padi menguning atau keluar malai inilah yang sangat merugikan petani.

Ulat grayak mempunyai sifat polyfag (makan semua tanaman) sehingga ulat grayak bukan hanya menyerang tanaman padi, tetapi ulat grayak (Spodoptera litura F) malah lebih sering menyerang tanaman, cabai, bawang merah, kedelai, kelapa sawit, tomat, tembakau, orok- orok, kapri, jagung dan sayuran lainnya (Sunarjono dan Soedomo, 1983; Rahayu dan Nur Berlian, 2004). Hama ini dapat menyerang suatu tanaman dengan sangat cepat, bahkan dalam sehari suatu tanaman dapat habis daunnya karena diserang oleh gerombolan ulat grayak. Organisme pengganggu tanaman (OPT) ini menggrogoti bagian daun mulai dari tepi hingga bagian atas atau bawahnya bahkan hingga tersisa epidermisnya saja. Jika daun suatu tanaman rusak, maka tanaman tidak dapat fotosintesis dan tidak dapat meningkatkan produktivitas tanaman tersebut.

Serangga dewasa dari jenis Leucania Separata memiliki ukuran panjang bentangan sayap depan antara 45 – 50 mm dengan warna bervariasi antara merah bata sampai coklat. Serangga ini berumur 3 – 7 hari dan untuk seekor serangga betina ini dapat bertelur sebanyak 80 – 230 butir.

Serangga dewasa jenis Spodoptera litura F, memiliki ukuran panjang badan 20 – 25 mm, berumur 5 – 10 hari dan untuk seekor serangga betina jenis ini dapat bertelur 1.500 butir dalam kelompok-kelompok 300 butir. Serangga ini sangat aktif pada malam hari, sementara pada siang hari serangga dewasa ini diam ditempat yang gelap dan bersembunyi.

Serangga ini memiliki telur dengan bentuk bulat. Telur dari serangga Leucania separata susunannya diletakkan dalam 2 barisan dalam gulungan daun atau pada pangkal daun permukaan sebelah bawah, dengan ukuran 0,5 x 0,45 mm, berwarna putih abu-abu dan berubah menjadi kuning sebelum menetas. Sedangkan serangga Spodoptera susunan telurnya diletakkan dalam kelompok tiap kelompok tersusun oleh 2 – 3 lapisan telur, dan kelompok telur tertutup oleh bulu-bulu pendek berwarna coklat kekuningan dengan umur telur 3 – 4 hari.

Larva Leucania separata memiliki jumlah instar 6 dengan ukuran instar 1 panjang 1,8 mm dan instar 6 panjang 30 – 35 mm berwarna hijau sampai merah jambu dan berumur 14 – 22 hari. Pada bagian punggungnya terdapat 4 garis berwarna hitam yang membujur sepanjang badan. Larva Spodoptera litura F memiliki jumlah instar 5 dengan ukuran instar 1 panjang 1,0 mm dan instar 5 panjang 40 – 50 mm berwarna coklat sampai coklat kehitaman dengan bercak-bercak kuning dan berumur 20 – 26 hari. Sepanjang badan pada kedua sisinya masing-masing terdapat 2 garis coklat muda.

Serangga ulat Grayak perlu diwaspadai karena pada siang hari tidak tampak dan biasanya bersembunyi di tempat yang gelap dan didalam tanah, namun pada malam hari melakukan serangan yang hebat dan bahkan dapat menyebabkan kegagalan panen, mungkin itulah sebabnya maka serangga ini disebut sebagai ulat grayak.

Pada lahan sawah yang kering sering sekali terserang oleh hama ulat grayak oleh karena itu, untuk pengendalian ulat grayak ini kondisi tanah sawah hendaknya diari dan perlu pengamatan lebih awal agar tidak terjadi serangan yang hebat.

Pengamatan awal dapat dilakukan dengan cara apabila ada kupu-kupu atau ngengat serta terlihat adanya telur serangga dapat dilakukan dengan cara mekanis yaitu menangkap kupu-kupu dengan menggunakan jaring serta membunuh telur-telur serangga yang dijumpai.

Meskipun umur larva atau ulat grayak ini berkisar 20 – 26 hari, namun perlu diwaspadai karena larva atau ulat ini dapat menyerang hampir semua fase pertumbuhan tanaman termasuk padi pada semua stadium pertumbuhan.

Setelah 20 – 26 hari ulat ini hidup dan menyerang tanaman, maka ia akan berubah menjadi kepompong dan selanjutnya berubah jadi kupu-kupu. Kupu-kupu bertelur dan setelah 4 – 5 hari akan menetas menjadi ulat atau larva yang akan menyerang tanaman.

Feromon exi merupakan salah satu bio-pestisida yang ramah lingkungan untuk mengendalikan hama ulat bawang. Peminat feromon silahkan hubungi via telp/WA 08122128596 (Admin).

BUDIDAYA JAMUR MERANG

1. Syarat Tumbuhan

A. Iklim

Jamur merang memerlukan sinar matahari tetapi secara tidak langsung,
di tempat terlindung miselium jamur akan tumbuh lebih cepat
dibandingkan dengan kena sinar matahari langsung.

Kelembaban ruangan optimal 85-95 %, yang harus dipertahankan
dengan menyiram bagian lantai tanah dan kumbung baik di bagian luar atau dalam.

Suhu udara yang paling tepat untuk pertumbuhan miselia adalah 30-35 derajat C.

B. Ketinggian tempat

Jamur merang dapat tumbuh dengan baik di dataran rendah sampai menengah dengan ketinggian sekitar 50-500 m dpl.

2. Teknis Budidaya

a. Pembuatan media kompos jamur

Bahan-bahan media jamur yang harus disediakan untuk luas kumbung
4 x 7 m3, seperti dibawah ini :

– Jerami kering 1.200-1.500 kg
– Dedak 150-200 kg
– Kapur 20-40 kg
– Ampas aren/limbah tekstil (kapas)/limbah/ampas tebu 150-200 kg.
– Substrat tambahan
– Gula putih 2 kg
– Pupuk kotoran kuda 50 kg (tidak menjadi syarat utama)
– Air secukupnya
– Bibit 60-75 log

b. Cara pembuatan media atau pengomposan :

Media jamur merang dibuat untuk lapisan atas dan lapisan bawah yang dipermentasi secara terpisah.

Cara pembuatan media untuk lapisan atas :

Ampas aren/jerami/limbah kapas + kotoran pupuk kuda dicampur dengan kapur sebanyak 5 kg diaduk sampai rata. Kemudian disirami dengan air bersih.
Media yang sudah disiram ditutup rapat dengan plastik atau terpal dan diamkan selama 7-30 hari. Media yang sudah di permentasi dilakukan pembalikan dengan menambahkan dedak sebanyak 50-75 kg dan di aduk sampai merata. Kemudian disiram lagi dengan air sebanyak 20-30 liter.
Kemudian media ditutup kembali dan didiamkan selama tiga hari.

Pembuatan kompos untuk media lapisan bawah :

Jerami yang sudah kering dicelupkan ke dalam air selama sekitar 15-20 menit, kemudian diangkat dan ditumpuk setebal kurang lebih 5 cm, ditaburi kapur sampai tumpukan berikutnya. Media jerami yang sudah diberi kapur ditutup rapat dengan plastik hitam atau terpal dan didiamkan selama 7 hari. Tumpukan jerami yang sudah di permentasi selama 7 hari dibalik sambil ditaburi dedak secara merata ke seluruh bagian jerami sampai tumpukan-tumpukan berikutnya, kemudian ditutup kembali dan dibiarkan selama kurang lebih 3-4 hari.

d. Menyimpan media ke atas rak-rak :

Media jerami yang sudah di permentasi disimpan di atas rak-rak
setebal 40-50 cm.
Media atas yaitu media ampas aren/jerami atau limbah tekstil/kapas
yang sudah di permentasi ditaburkan di atas jerami dengan
ketebalan sekitar 3-5 cm.
Media yang sudah diletakan diatas rak disiram lagi dengan air bersih.

e. Sterilisasi media

Media yang sudah diletakan diatas rak-rak di sterilisasi dengan
penguapan selama 8-10 jam sampai suhu ruangan mencapai 70-80 derajat C.
Media dalam kumbung yang sudah di sterilisasi didiamkan/
didinginkan selama 1 hari.

f. Penaburan bibit jamur

Bibit di dalam log sebanyak 60-70 log dihaluskan/dicincang
kecil-kecil untuk memudahkan penaburan.
Bibit ditaburkan dibagian atas media dan dilapisan bawah
sampai rata. Bibit yang ditaburkan sudah berumur sekitar 10-12 hari.

g. Pemeliharaan

Setelah media ditaburi bibit, selanjutnya kumbung ditutup rapat
selama 3 hari.
Suhu dan kelembaban harus tetap terjaga (30 derajat C).
Tiga hari setelah inokulasi/penaburan bibit media disiram dengan
air dicampur gula putih secukupnya.
Kumbung ditutup kembali dan dilakukan pengontrolan suhu dan
kelembaban sampai mencapai umur 10 hari setelah inokulasi/
penaburan bibit.
Penyiraman berikutnya dilakukan per periode masa tumbuh
meselia jamur.

i. Jenis Hama dan penyakit

Hama yang umum menyerang jamur biasanya lalat atau nyamuk kecil juga tikus. Pencegahan bisa dengan cara mekanik dan bisa menggunakan obat nyamuk. Penyakit yang sering ditemukan biasanya dari jenis jamur oncom, dan jamur liar lainnya.

j. Panen dan pasca panen

Panen jamur merang dilakukan setelah 9-10 hari setelah inokulasi
dan panen berikutnya dilakukan tiap hari sampai umur 25-40 hari
habis masa panen.

– Cara panen

Pengambilan jamur bisa dilakukan 2 kali sehari antara jam 1 malam sampai jam 7 pagi dengan memetik jamur yang belum mekar dan sudah cukup untuk dipanen. Dalam pemetikan jamur harus hati-hati jangan sampai jamur yang masih kecil terbawa/terambil. Dilakukan penyortiran dengan memisahkan jamur yang sudah mekar dan yang belum serta membuang/membersihkan kotoran yang menempel pada jamur.
Keranjang untuk penyimpanan hasil panen jamur dilapisi daun pisang dan bagian atasnya ditutup daun pisang agar supaya jamur dapat tetap segar. Selamat mencoba

BEBERAPA JENIS JAMUR YANG BISA DIKONSUMSI DAN DIBUDIDAYAKAN

JAMUR, dalam sejarah telah dikenal sebagai makanan sejak 3000 tahun yang lalu, dimana jamur menjadi makanan khusus buat raja Mesir yang kemudian berkembang menjadi makanan spesial bagi masyarakat umum karena rasanya yang enak. Di Cina, pemanfaatan jamur sebagai bahan obat-obatan sudah dimulai sejak dua ribu tahun silam.
Jamur merupakan salah satu bahan makanan yang bergizi tinggi non kolesterol. Dari hasil penelitian, rata-rata jamur mengandung 14-35 % protein, kalori sebesar 100 kj/100 g dan 72% lemaknya tidak jenuh (unsaturated). Asam amino esensial bagi tubuh yang terdapat pada jamur ada 9 jenis dari 20 asam amino yang dikenal yaitu lysin, methionin, tryptophan, theonin, valin, leusin, isoleusin, histidin dan phenilalanin. Jamur kaya akan vitamin dintaranya B1 (thiamine), B2 (riboflamin), niasin dan biotin. Selain itu jamur mengandung berbagai jenis mineral yaitu K, P, Fe, Ca, Na, Mg, Mn, Zn, dan Cu.

Di bawah ini merupakan jenis jamur yang ada dan telah dibudidayakan untuk kebutuhan konsumsi di seluruh dunia diantaranya :

1. Jamur Tiram/Shimeji/Oyster Mushroom (Pleurotus sp.)
2. Jamur Payung/Shiitake/Chicken Mushroom (Lentinus edodes) berkhasiat menurunkan kandungan kolesterol dan gula dalam darah, mengobati penyakit Kanker dan hepatitis B.
3. Jamur Kuping/ ikurage/Jew’s Ear Mushroom (Auricularia polytricha) berkhasiat obat mengurangi panas dalam (rendaman jamur kuping semalam diminum), mengurangi rasa sakit pada kulit akibat luka bakar (dikompres dengan air rendamannya), mengobati tekanan darah tinggi, kurang darah, ambeien, datang bulan tidak teratur, memperlancar peredaran darah dan penawar racun.
4. Jamur Merah/Ling-zhi/Mannetake (Ganoderma lucidum) berkhasiat mencegah dan mengobati penyakit influenza.
5. Jamur Menari/Maitake/Kumotake (Grifola frondosa) berkhasiat meringankan gejala kanker payudara, paru-paru dan hati, juga mengurangi efek samping yang ditimbulkan oleh sitostatika dan dapan menekan pertumbuhan virus HIV. Senyawa plosakarida B 1-6 glukans dalam maitake diyakini berperan menghambat pertumbuhan dan penyebaran sel kanker lewat peningkatan efektivitas semua sel dalam pertahanan tubuh disamping meningkatkan sensitivitas sel kanker terhadap sitostatika dan radiasi.
6. Jamur Merang/Straw Mushroom (Volvariella volvaceae)
7. Hiratake (Agrocybe aegerita)
8. Jamur Kancing/Button Mushroom/Champignon (Agaricus bisporus)
9. Jamur Tauge/Enokitake/Winter/Golden Mushroom (Flammulina velutipes)
10. Jamur Kuping Putih (tremella fusiformis
11. Jamur Pucuk/Elm Bunashimeji.

Jamur merang merupakan jenis jamur yang pertama kali dapat dibudidayakan secara komersial. Di Cina jamur merang mulai dibudidayakan sejak pertengahan abad 17, dan di Indonesia tanaman ini diperkirakan mulai dibudidayakan sekitar tahun 1950-an.
Jamur kancing dapat dikatakan merupakan kerabat terdekat dari jamur merang, hal tersebut karena bentuk umum dan sifat-sifat keduanya yang sangat mirip. Secara anatomis sosok jamur merang dan jamur kancing terdiri dari tudung yang berbentuk seperti payung, di bawah payung terdapat lamela, tangkai, serta akar semu yang disebut rizoid. Perbedaan antara jamur merang dengan jamur kancing yaitu jamur merang mempunyai cawan pada bagian bawah tangkai, sedangkan pada jamur kancing tidak terbentuk cawan, tetapi mempunyai cincin pada bagian atas tangkai/di bagian bawah payung. Jamur merang berwarna coklat muda sedangkan jamur kancing berwarna putih bersih. Spora jamur merang berwarna kuning kemerahan sedang spora jamur kancing berwarna putih. Baik jamur merang maupun jamur kancing setelah mencapai stadia dewasa, tudungnya yang berbentuk payung agak membulat itu akan terbuka penuh (mekar) dan bilahnya mulai berwarna merah muda kecoklatan. Umumnya jamur merang atau jamur kancing dikonsumsi sebelum mekar.

Dalam budidayanya, jamur merupakan tanaman yang ditanaman dengan temperatur, kelembaban dan ventilasi yang terkontrol. Pada budidaya jamur merang diperlukan lingkungan dengan temperatur 33 0C dan kelembaban 85 %. Pada budidaya jamur kancing diperlukan lingkungan pertumbuhan dengan temperatur 32 0C dan kelembaban 83 %.
Dalam sistem penanamannya dikenal tiga sistem yaitu dengan papan, talang dan dengan kantong. Sistem talang digunakan untuk penanaman yang besar dan merupakan metode yang umum. Sistem kantung dapat dibuat dengan biaya yang terbatas dan menjadi semakin popular saat ini. Metode ini juga membantu untuk mengeliminir masalah hama dan penyakit yaitu dengan memisahkan kantung yang terkontaminasi tersebut. Jamur yang dibudidayakan biasanya sudah dapat dipanen setelah 10 hari, tapi dapat lebih lama tergantung pada temperatur dan kelembaban lingkungannya.

INOVASI TEKNOLOGI DALAM BUDIDAYA JAMUR TIRAM

Budidaya jamur tiram memang cukup mengggiurkan. Proses produksinya mudah. Usaha ini memanfaatkan bahan baku limbah pertanian berupa serbuk gergaji dan ampas tebu yang harganya murah.

Prospek pasar yang terbuka luas baik dalam maupun luar negeri. Masyarakat di negara seperti Amerika, Eropa, dan Jepang konsumsi berbagai produk jamurnya relative tinggi. Wajar, pembudidayaan jamur tiram secara komersial saat ini cenderung meningkat.

Proses budidaya jamur tiram pada umumnya meliputi beberapa tahapan yaitu persiapan, pengayakan, perendaman, pengukusan, pencampuran, pengomposan, pembuatan media dan pengisian log, sterilisasi, pendinginan, inokulasi (pemberian bibit), inkubasi (spawning), penumbuhan (growing) dan pemeliharaan, pemanenan dan pasca panen.

Berdasarkan pengalaman dan pengamatan praktisi jamur, tahapan sterilisasi, tahapan pertumbuhan dan pemeliharaan merupakan masa kritis (critical point) dalam proses budidaya jamur. Artinya jika kedua tahapan tersebut dilalui dengan baik maka usaha jamur tiram akan relatif menguntungkan.

Proses sterilisasi sangat penting, karena bertujuan menekan pertumbuhan mikroba seperti bakteri, kapang dan khamir atau ragi yang dapat menghambat pertumbuhan jamur tiram. Proses sterilisasi dilakukan dengan berbagai cara atau dengan berbagai kombinasi. Petani jamur umumnya menggunakan alat sterilisasi yakni drum atau mesin penghasil uap (outoclave).

Keduanya memiliki kelemahan dan keunggulan masing-masing. Drum modifikasi lebih murah dan aman dalam pengoperasian. Namun daya tampungnya sedikit dan waktu sterilisasinya lama. Drum modifikasi ini bekerja dalam waktu 80-90 derajat celsius selama 10 jam. Suhu capaian yang kurang optimum tersebut masih memungkinkan kontaminasi mikroba. Biaya pembuatan drum modifikasi sekitar Rp 300 ribu.

Sedangkan outoclave bekerja lebih cepat yakni 1 jam, menghasilkan suhu 121 derajat celsius dan hasilnya dijamin lebih baik. Sayangnya autoclave sangat mahal sekitar Rp 30-an juta.

Islamiarani (Mahasiswi Manajemen Agribisnis Fakultas Pertanian IPB) bersama Azmi Asyidda Mushoffa ( Mahasiswa Departemen Teknik Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian IPB) dan Yudhi Sylvester Palinggi (Mahasiswa Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian IPB) berhasil mengembangkan inovasi alat sterilisasi yang memadukan dua kelebihan alat tersebut. Alat tersebut dinamai SterilBak. Keuntungan SterilBak ialah biaya investasi lebih murah, sebesar Rp 7 juta. Berdaya kerja optimal dan daya tampung yang lebih besar seperti Autoclave.

SterilBak mampu menampung 1000 baglog (tempat pertumbuhan jamur) atau drum sebanyak 10 unit. SterilBak tersusun dari tembok semen dengan ukuran 2 x 2 x 1 meter,tutup ruangan berbahan fiber, rak dari kayu, perangkat pressure gaurge, regulator uap air, boiler dan pipa besi . Tembok SterilBak dihubungkan dengan boiler yang akan menyalurkan uap panas.

Selain SterilBak, penemuan Islamiarani dkk, adalah teknologi Jamurbox yang menggantikan fungsi baglog. Keuntungan JamurBox ialah waktu panen jamur tiram yang lebih cepat, ramah lingkungan, aman dari kontaminan, dan dapat menghemat media jamur tiram. JamurBox terbuat dari plastik poliprofilen. Berbentuk persegi panjang yang disekat menjadi enam kotak kecil dengan ketinggian masing-masing media tanam sama. Ke-enam JamurBox tersebut ditutup dengan poliprofilen juga. Ditengah-tengah tutup dibuat lubang sebagai tempat penyuntikan benih jamur. Banyaknya media tanam seluruh kotak kecil pada JamurBox sama dengan jumlah media pada satu baglog.

Setiap pemanenan jamur tiram pada baglog biasa, media dibuang bagian atasnya kemudian di suntik lagi dengan bibit jamur. Demikian seterusnya, sehingga produktivitas masing-masing bagian di baglog tadi memungkinkan berbeda. Plastik baglog setelah beberapa kali pnen akan dibuang dan menjadi tumpukan limbah. Hal ini akan merusak keseimbangan lingkungan.

Secara teknis penggunaan JamurBox dengan plastik lebih baik karena tahan lama dalam pemakaiannya (diatas 3 tahun) dan bisa dipakai berulangkali selama tiga tahun. Berdasarkan analisis parsial perubahan penggunaan teknologi dari plastik menjadi JamurBox, maka keuntungan tambahan yang akan diperoleh petani jamur tiram sebesar Rp 14.383.300 atau peningkatan keuntungan 369,66 persen dengan kapasitas industri yang sama.

Para peminat masih harus menunggu karena berdasarkan informasi terkini alat tersebut masih dalam tahap pengujian di Fakultas Pertanian IPB Bogor, belum direkomendasikan untuk digunakan dan diproduksi baik terbatas maupun secara masal.