Kelapa sawit merupakan salah satu komoditi strategis yang memiliki nilai ekspor yang tinggi. Permintaan produk kelapa sawit berupa CPO (crude palm oil) terus meningkat yang ditunjukkan dengan terus meningkatnya lahan sawit dalam kurun 20 tahun terakhir.

Kebutuhan pasar terhadap produk sawit terus meningkat dari tahun ke tahun, oleh karena itu diperlukan upaya perluasan dan pengelolaan lahan-lahan sawit yang sudah ada. Usaha tani kelapa sawit bukanlah tanpa kendala, salah satunya adalah serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), khususnya hama.

Salah satu hama utama pada kelapa sawit adalah hama kumbang tanduk (Oryctes rhinoceros). Serangan kumbang tanduk dapat menurunkan produksi hingga 69%, bahkan pada tanaman muda dapat menyebabkan kematian.

Feromon merupakan bahan yang mengantarkan serangga pada pasangan seksualnya, sekaligus mangsa, tanaman inang, dan tempat berkembang biaknya. Feromon yang dipasang pada perangkap hama adalah insektisida alami yang ramah lingkungan. Komponen utama feromon sintetis ini adalah etil-4 metil oktanoat. Penggunaan feromon cukup murah karena biayanya hanya 20% dari biaya penggunaan insektisida.

Model perangkap feromon yang memiliki 4 sisi penahan dan dipasang pada ketinggian 4,5 meter paling efektif untuk memerangkap hama kumbang tanduk. Lamanya waktu efektif untuk pemasangan perangkap feromon adalah 3 bulan. Efektifitas perangkap feromon di lapangan mulai berkurang memasuki bulan ke tiga, karena senyawa kimia dari feromon yang semakin berkurang akibat penguapan.

Pemerangkapan kumbang O. rhinoceros dengan menggunakan ferotrap terdiri atas satu kantong feromon sintetik (Etil-4 metil oktanoate) yang digantungkan dalam ember plastik kapasitas 12 l. Tutup ember plastik diletakkan terbalik dan dilubangi 5 buah dengan diameter 55 mm. Pada dasar ember plastik dibuat 5 lubang dengan diameter 2 mm untuk pembuangan air hujan. Ferotrap tersebut kemudian digantungkan pada tiang kayu setinggi 4 m dan dipasang di dalam areal kelapa sawit. Selain ember plastik dapat juga digunakan perangkap PVC diameter 10 cm, panjang 2 m. Satu kantong feromon sintetik dapat digunakan selama 2-3 bulan. Setiap dua minggu dilakukan pengumpulan kumbang yang terperangkap dan dibunuh.

Salah satu merk dagang feromon untuk mengendalikan hama kumbang tanduk pada tanaman sawit yang sudah dipasarkan adalah “HOSAKU 90” eks Jepang.

Keefektifan penggunaan feromon dapat menjadi lebih tinggi apabila tindakan pengendalian juga dilakukan seperti:

• Penanaman tanaman kacangan penutup tanah pada waktu replanting.
• Pengumpulan kumbang secara manual dari lubang gerekan pada kelapa sawit, dengan menggunakan alat kait dari kawat. Tindakan ini dilakukan tiap bulan apabila populasi kumbang 3-5 ekor/ha, setiap 2 minggu jika populasi kumbang mencapai 5-10 ekor, dan setiap minggu pada populasi kumbang lebih dari 10 ekor.
• Penghancuran tempat peletakkan telur secara manual dan dilanjutkan dengan pengumpulan larva untuk dibunuh, apabila jumlahnya masih terbatas.
• Pemberantasan secara kimiawi dengan menaburkan insektisida butiran Karbosulfan sebanyak (0,05-0,10 g bahan aktif per pohon, setiap 1-2 minggu) atau 3 butir kapur barus/ pohon, setiap 1-2 kali/bulan pada pucuk kelapa sawit.(Admin)